Jawa Pos
[ Sabtu, 29 November 2008 ] 

Teror Rapi ala Mumbai 
Oleh Ridlwan *)

Sepuluh hari menjelang ibadah wukuf di Padang Arafah, Kota Mumbai, India, 
digenangi darah. Aksi terorisme terkoordinasi memakan korban sedikitnya 125 
nyawa manusia. Belum lagi ratusan yang lain yang terluka fisik dan mengalami 
gangguan trauma mendalam. 

Gerakan teror yang dilakukan saat masyarakat Amerika Serikat merayakan 
Thanksgiving itu juga membuat ekonomi Mumbai lumpuh sesaat. Bursa tutup, 
perusahaan multinasional mengevakuasi karyawan, dan negara-negara maju 
beramai-ramai mengeluarkan travel warning ke India. Efek domino kengerian 
akibat aksi itu berhasil dicapai.

Aksi sadis tak berperikemanusiaan tersebut merupakan teror ke-11 yang terjadi 
tahun ini di Negeri Sungai Gangga itu. Pada 13 Mei lalu, enam ledakan terjadi 
di Jaipur, kota tujuan wisata di negara bagian Rajasthan di wilayah barat 
India. Rangkaian ledakan menewaskan 63 orang dan melukai sedikitnya 150 orang. 
Lalu, 25 Juli, tujuh ledakan terjadi secara beruntun di Bangalore, salah satu 
kota maju di wilayah selatan India. Satu orang tewas dan lebih dari 150 orang 
terluka.

Pada 26 Juli, di Ahmedabad, terjadi 20 ledakan bom dalam waktu kurang dari dua 
jam. Sebanyak 57 orang tewas dan lebih dari 150 orang terluka. Pada 13 
September, di New Delhi terjadi enam ledakan. Sebanyak, 26 orang tewas dan 
sedikitnya 100 orang terluka. Masih di New Delhi, 27 September, tiga ledakan di 
pasar bunga yang ramai menewaskan tiga orang.

Dua hari kemudian (29/9) di Modasa, Gujarat, satu orang terbunuh dan beberapa 
orang terluka akibat ledakan bom berdaya ledak rendah. Pada hari yang sama, di 
Malegaon, Maharashtra, lima orang meninggal akibat ledakan bom yang dibawa 
dengan sepeda motor. Lalu, 14 Oktober di Kanpur, delapan orang terluka akibat 
bom di pasar.

Berikutnya, 21 Oktober di Imphal, ledakan dahsyat di dekat kompleks Komando 
Polisi Manipur menewaskan 17 orang. Juga, 30 Oktober di Assam, sedikitnya 61 
orang tewas dan lebih dari 300 orang terluka akibat 18 teror bom di Assam yang 
terletak di wilayah timur laut India.

Tapi, dari 10 aksi teror sebelumnya, serangan Mumbai bisa dibilang yang paling 
terkoordinasi. Bayangkan, mereka menyerang 11 target dengan jarak amat dekat 
(tak lebih setengah jam jalan kaki), menyandera tawanan di hotel mewah, 
meledakkan granat di stasiun kereta dan berani adu tembak dengan pasukan khusus 
terbaik India, National Security Guards ( NSG).

Belum jelas siapa yang harus dituding. Sebuah kelompok, Deccan Al Mujahedeen, 
memang mengirim e-mail, tapi masih terburu-buru menyimpulkan otak serangan. 
Apalagi mengkaitkan kelompok itu dengan tandzhim (struktur) Al Qaidah 
Internasional.

Yang jelas, kelompok itu sangat rapi, terlatih, dan menguasai medan. Bukti 
sederhananya, mereka berhasil bertahan baku tembak 33 jam dengan NSG yang 
terkenal sebagai pasukan khusus terbaik di Asia.

NSG India yang dijuluki Black Cat (Kucing Hitam) didirikan pada 1985 dengan 
kekuatan 7.500 personel. Disebut kucing hitam karena mereka selalu memakai 
pakaian hitam-hitam dan cadar hitam saat bertugas. Personel NSG direkrut dari 
angkatan bersenjata India yang lolos seleksi ketat di Manesar, 50 kilometer 
dari New Delhi. Yang lolos berhak menyandang emblem Sudarshan Cakra dan 
dilindungi identitasnya. NSG juga dilatih oleh personel Israel dan dikenal 
sebagai pasukan yang sangat cepat dimobilisasi (30 menit setelah kejadian).

Paham akan risiko itu, teroris Mumbai tampaknya lebih memilih strategi perang 
kota. Dengan persenjataan NSG seperti senapan mesin Uzi 9 mm, senapan sniper 
PSG -17,62 mm, dan shotgun Heckler & Koch 512, teroris itu memilih bersembunyi 
di hotel padat pengunjung untuk memperbesar risiko salah tembak. Mereka juga 
membagi target menjadi 11 untuk memecah konsentrasi pasukan komando India.

Kepada saya, seorang analis Departemen Pertahanan Indonesia menduga teroris 
Mumbai termasuk dalam jaringan cross border militant network yang beroperasi 
sepanjang Asia Selatan dan Asia Tengah. Koneksi militan bersenjata itu 
terbentang mulai India, Pakistan, Afghanistan, bahkan sampai Provinsi Xinjiang 
Uigur di pinggir Tiongkok.

Sejarah konflik Kashmir membuat India menjadi hot spot sekaligus target empuk 
serangan. Apalagi, jaringan itu cukup kuat di Pakistan. Kita tahu, setelah 
Jenderal Pervez Musharaf tak lagi menjabat presiden, penanganan organisasi 
militan dan ekstrem di Pakistan semakin kendur. Ditambah, pidato presiden 
terpilih AS Barrack Obama yang berjanji menambah pasukan di Afghanistan kian 
membuat kawasan itu memanas.

Kebobolan 

Dari berbagai spekulasi tersebut, yang jelas intelijen India kebobolan. Aksi 
serapi itu tentu disiapkan berhari-hari, tapi sayang lolos dari endusan aparat 
telik sandi. Pejabat keamanan Indonesia harus mengambil hikmah dari teror 
Mumbai. Apalagi, Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri pernah 
menyampaikan bahwa sasaran teror mulai bergeser, yakni pejabat negara dan 
fasilitas-fasilitas vital.

Sistem keamanan fasilitas umum di negeri ini juga harus segera disempurnakan. 
Memasang CCTV (closed circuit television) di stasiun, mal, dan hotel-hotel tak 
lagi cukup. Apalagi, beberapa objek vital di ibu kota terletak saling 
berdekatan.

Contohnya, Stasiun Gambir Jakarta Pusat. Lokasinya hanya lima menit berjalan 
kaki dari Kedutaan Besar Amerika Serikat. Bahkan, jika ada teroris nekat 
menumpang kereta dari Stasiun Gambir dan melempar granat tepat saat kereta 
melintas di atas kompleks Kedubes, tanpa halangan bom nanas itu bisa sampai 
lapangan basket kedutaan. Itulah yang harus diwaspadai.

Pengamanan Istana Negara juga demikian. Memang, di setiap sudut masuk sudah 
dijaga pasukan pengamanan presiden. Namun, lalu-lalang masyarakat yang bebas di 
sekitar kompleks parkir motor di Sekretariat Negara juga harus diwaspadai. 
Sebab, seperti yang digerebek di Palembang, teroris sudah bisa merakit bom 
Tupperware yang daya ledaknya mencapai radius 200 meter. Itu berarti, jika 
kecolongan dan meledak di Setneg, bom tersebut bisa merusak Kantor Presiden.

Teror Mumbai harus dikutuk. Tak ada agama atau ideologi apa pun yang bisa 
menjadi dalih melakukan pembantaian besar-besaran seperti itu. Tapi, mengecam 
saja tak cukup. Kewaspadaan mutlak dilakukan karena kita tahu perang terhadap 
teror belum selesai sampai di sini. (***)

*). Ridlwan, wartawan Jawa Pos di Jakarta; banyak meliput masalah-masalah hankam

Kirim email ke