MENURUT sejarah orang2 Arab di Al Jazeera al Arabi sebelum nuzul Qur'an
menyembah banyak berhala yang disimpan di Ka'abah. Di antara berhala2
ini dan yang dianggap paling berkuasa bernama Al Illah.

Muhammad menjadikan Al Illah sebagai satu2nya illah.

Gabriela Rantau

--- In zamanku@yahoogroups.com, abu talib <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sebutan Allah sebagai tuhan telah digunakan oleh Islam sejak dari awal
ajaran Islam.  Allah disifatkan sebagai tuhan yang satu yakni Esa.
Tiada dua atau berbilang. Sehingga beribu tahun tiada agama di dunia
mengakui akan nama dan keesaan Allah sebaliknya mengutuk dan menentang
akan kebesaran Allah.  Tiba-tiba sahaja ada agama pada hari ini mahu
menggunakan sebutan Allah sebagai merujuk tuhan mereka. Tetapi tidak
mahu megakui keesaan Allah yang tidak beranak dan berdiri dengan
sendiriNya.
> Â
>
> --- On Sun, 30/11/08, mediacare [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> From: mediacare [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [zamanku] Re: Apakah istilah "Allah" hanya milik umat Islam
saja?
> To: "zamanku" zamanku@yahoogroups.com, [EMAIL PROTECTED],
"media-jatim" [EMAIL PROTECTED]
> Date: Sunday, 30 November, 2008, 9:34 AM
>
>
>
>
>
>
>
> Â
>
> ----- Original Message -----
> From: Ulil Abshar-Abdalla
> To: KNU-ASK ; Islam Liberal ; Pluralitas
> Sent: Sunday, November 30, 2008 3:01 AM
> Subject: [pluralitas- icrp] Apakah istilah "Allah" hanya milik umat
Islam saja?
>
>
>
> Apakah istilah "Allah" hanya milik umat Islam saja?
>
> SEORANG perempuan beragama Kristen saat ini sedang menggugat
pemerintah Malaysia dengan alasan telah melanggar haknya atas kebebasan
beragama (baca International Herald Tribune, 29/11/2008). Mei lalu,
saat  balik dari kunjungan ke Jakarta, Jill Ireland, nama perempuan
itu, membawa sejumlah keping DVD yang berisi bahan pengajaran Kristen
dari Jakarta. Keping-keping itu disita oleh pihak imigrasi, dengan
alasan yang agak janggal: sebab dalam sampulnya terdapat kata "Allah".
Â
>
> Sejak tahun lalu, pemerintah Malaysia melarang penerbitan Kristen
untuk memakai kata "Allah", sebab kata itu adalah khusus milik umat
Islam. Umat lain di luar Islam dilarang untuk menggunakan kata "Allah"
sebagai sebutan untuk Tuhan mereka. Pemakaian kata itu oleh pihak
non-Muslim dikhawatirkan bisa membingungkan dan "menipu" umat Islam
(Catatan: "Sedih sekali ya, umat Islam kok mudah sekali tertipu dengan
hal-hal sepele seperti itu?")
>
> Pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah kata "Allah" hanyalah
milik umat Islam saja? Apakah umat lain tidak boleh menyebut Tuhan yang
mereka sembah dengan kata "Allah"? Apakah pandangan semacam ini ada
presedennya dalam sejarah Islam? Kenapa pendapat seperti itu muncul?
>
> Sebagai seorang Muslim, terus terang saya tak bisa menyembunyikan rasa
geli, tetapi juga sekaligus jengkel, terhadap pandangan semacam ini.
Sikap pemerintah Malaysia ini jelas bukan muncul dari kekosongan. Tentu
ada sejumlah ulama dan kelompok Islam di sana yang menuntut pemerintah
mereka untuk memberlakukan larangan tersebut.
>
> Di Indonesia sendiri, hal serupa juga pernah terjadi. Beberapa tahun
lalu, ada seorang pendeta Kristen di Jakarta yang ingin menghapus kata
"Allah" dalam terjemahan Alkitab versi bahasa Indonesia. Menurut pendeta
itu, istilah "Allah" bukanlah istilah yang berasal dari tradisi
Yudeo-Kristen. Nama Tuhan yang tepat dalam tradisi itu adalah Yahweh
bukan Allah.
>
> Jika usulan untuk melarang penggunaan kata Allah berasal dari dalam
kalangan Kristen, tentu saya, sebagai orang luar, tak berhak untuk turut
campur. Tetapi jika pendapat ini datang dari dalam kalangan Islam
sendiri, maka saya, sebagai seorang Muslim dan "orang dalam", tentu
berhak mengemukakan pandangan mengenainya.
>
> Pandangan bahwa istilah Allah hanyalah milik umat Islam saja, menurut
saya, sama sekali tak pernah ada presedennya dalam sejarah Islam. Sejak
masa pra-Islam, masyarakat Arab sendiri sudah memakai nama Allah sebagai
sebutan untuk salah satu Tuhan yang mereka sembah. Dalam Quran sendiri,
bahkan berkali-kali kita temui sejumlah ayat di mana disebutkan bahwa
orang-orang Arab, bahkan sebelum kedatangan Islam, telah mengakui Allah
sebagai Tuhan mereka (baca QS 29:61, 31:25, 39:37, 43:87). Dengan kata
lain, kata Allah sudah ada jauh sebelum Islam sebagai agama yang dibawa
Nabi Muhammad lahir di tanah Arab.
>
> Begitu juga, umat Kristen dan Yahudi yang tinggal di kawasan jazirah
Arab dan sekitarnya memakai kata Allah sebagai sebutan untuk Tuhan. Para
penulis Kristen dan Yahudi juga memakai kata yang sama sejak dulu hingga
sekarang. Seorang filosof Yahudi yang hidup sezaman dengan Ibn Rushd di
Spanyol, yaitu Musa ibn Maimun (atau dikenal di dunia Latin sebagai
Maimonides [1135-1204]) menulis risalah terkenal, "Dalalat al-Ha'irin"
(Petunjuk Bagi Orang-Orang Yang Bingung). Kalau kita baca buku itu, kita
akan jumpai bahwa kata Allah selalu ia pakai untuk menyebut Tuhan.
>
> Semua Bibel versi Arab memakai kata Allah sebagai nama untuk Tuhan.
Ayat pertama yang terkenal dalam Kitab Kejadian diterjemahkan dalam
bahasa Arab sebagai berikut: "Fi al-bad'i khalaqa Allahu al-samawati wa
al-ard" (baca "Al-Kitab al-Muqaddas" edisi The Bible Society in
Lebanon). Dalam terjemahan versi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), ayat
itu berbunyi: "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi".
>
> Tak seorangpun sarjana Islam yang memakai bahasa Arab sebagai bahasa
ibu mereka, entah pada masa klasik atau modern, yang mem-beslah atau
keberatan terhadap praktek yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan
tahun itu. Tak seorang pun ulama Muslim yang hidup sezaman dengan
Maimonides yang memprotes penggunaan kata Allah dalam buku dia di atas.
>
> Polemik antara Islam dan Kristen sudah berlangsung sejak masa awal
Islam, dan, sejauh pengetahuan saya, tak pernah kita jumpai seorang
"mutakallim< " atau teolog Muslim yang terlibat perdebatan dengan teolog
Kristen atau Yahudi karena memperebutkan kepemilikan atas kata Allah.
(Survei terbaik tentang sejarah polemik Islam-Kristen sejak masa awal
Islam hingga abad ke-4 H/10 M adalah buku karangan Abdul Majid 
Al-Sharafi, "Al-Fikr al-Islami fi al-Radd 'Ala al-Nashara", 2007).
>
> Dalam perspektif historis, pandangan sejumlah ulama Malaysia yang
kemudian diresmikan oleh pemerintah negeri jiran itu, jelas sangat aneh
dan janggal sebab sama sekali tak ada presedennya. Dipandang dari luar
Islam, pendapat ulama Malaysia itu juga bisa menjadi bahan olok-olok
bagi Islam. Sebab, pandangan semacam itu tiada lain kecuali
memperlihatkan cara berpikir yang sempit di kalangan sebagian ulama.
Jika para ulama di Malaysia itu mau merunut sejarah ke belakang, kata
Allah itu pun juga bukan "asli" milik umat Islam. Kata itu sudah dipakai
jauh sebelum Islam datang. Dengan kata lain, umat Islam saat itu juga
meminjam kata tersebut dari orang lain.
>
> Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama yang lahir dari rahim
yang sama, yaitu dari tradisi Ibrahim. Islam banyak sekali mewarisi
tradisi dan ajaran dari kedua agama itu. Karena asal-usul yang sama,
dengan sendirinya sudah lumrah jika terjadi proses pinjam-meminjam
antara ketiga agama itu. Selama berabad-abad, ketiga agama itu juga
hidup berdampingan di jazirah Arab dan sekitarnya. Tak heran jika
terjadi proses saling mempengaruhi antara ketiga tradisi agama
Ibrahimiah tersebut. Tradisi Kristiani, misalnya, mempunyai pengaruh
yang besar dalam proses pembentukan Islam, terutama dalam tradisi
pietisme atau mistik (baca, misalnya, buku karangan Tarif Khalidi, "The
Muslim Jesus: Saying and Stories in Islamic Literature", 2001).
>
> Quran sendiri banyak meminjam dari tradisi lain, termasuk dalam
konteks istilah-istilah yang berkaitan dengan peribadatan. Hampir semua
istilah-istilah ritual yang ada dalam Islam, seperti salat (sembahyang)
, saum (puasa), hajj, tawaf (mengelilingi ka'bah), ruku' (membungkuk
pada saat salat) dsb., sudah dipakai jauh sebelum Islam oleh masyarakat
Arab.
>
> Dengan kata lain, proses pinjam-meminjam ini sudah berlangsung sejak
awal kelahiran Islam. Pandangan ulama Malaysia itu seolah-olah
mengandaikan bahwa semua hal yang ada dalam Islam, terutama
istilah-istilah yang berkenaan dengan doktrin Islam, adalah "asli" milik
umat Isalm, bukan pinjaman dari umat lain. Sebagaimana sudah saya
tunjukkan, pandangan semacam itu salah sama sekali.
>
> JIKA demikian, bagaimana kita menjelaskan pendapat yang janggal dari
Malaysia itu? Saya kira, salah satu penjelasan yang sederhana adalah
melihat masalah ini dari sudut dinamika internal dalam tubuh umat Islam
sendiri sejak beberapa dekade terakhir. Sebagaimana kita lihat di
berbagai belahan dunia Islam manapun, ada gejala luas yang ditandai oleh
mengerasnya identitas dalam tubuh umat. Di mana-mana, kita melihat suatu
dorongan yang kuat untuk menetapkan batas yang jelas antara Islam dan
non-Islam. Kekaburan batas antara kedua hal itu dipandang sebagai
ancaman terhadap identitas umat Islam.
>
> Penegasan bahwa kata "Allah" hanyalah milik umat Islam saja adalahÂ
bagian dari manifestasi kecenderungan semacam itu. Pada momen-momen di
mana suatu masyarakat sedang merasa diancam dari luar, biasanya dorongan
untuk mencari identitas yang otentik makin kuat. Inilah tampaknya yang
terjadi juga pada umat Islam sekarang di beberapa tempat. Kalau kita
telaah psikologi umat Islam saat ini, tampak sekali adanya perasaan
terancam dari pihak luar. Teori konspirasi yang melihat dunia sebagai
arena yang dimanipulasi oleh "kllik" tertentu yang hendak menghancurkan
Islam mudah sekali dipercaya oleh umat. Teori semacam ini mudah
mendapatkan pasar persis karena bisa memberikan justifikasi pada
perasaan terancam itu.
>
> Keinginan untuk memiliki identitas yang otentik dan "beda" jelas
alamiah belaka dalam semua masyarakat. Akan tetapi, terjemahan keinginan
itu dalam dunia sehar-hari bisa mengambil berbagai bentuk. Ada bentuk
yang sehat dan wajar, tetapi juga ada bentuk yang sama sekali tak masuk
akal bahkan lucu dan menggelikan. Pandangan ulama Malaysia yang kemudian
didukung oleh pemerintah negeri itu untuk melarang umat Kristen memakai
istilah "Allah" adalah salah satu contoh yang tak masuk akal itu.
Sebagaimana saya sebutkan di muka, secara historis, pandangan semacam
ini sama sekali tak ada presedennya. Selain itu, proses saling meminjam
antara Islam, Kristen dan Yahudi sudah berlangsung dari dulu.
>
> Bayangkan saja, jika suatu saat ada kelompok Yahudi yang berpikiran
sama seperti ulama Malaysia itu, lalu menuntut agar umat Islam tidak
ikut-ikutan merujuk kepada nabi-nabi Israel sebelum Muhammad --Â 
apakah tidak runyam jadinya. Orang Yahudi bisa saja mengatakan bahwa
sebagian besar nabi yang disebut dalam Quran adalah milik bangsa Yahudi,
dan karena itu umat Islam tak boleh ikut-ikutan menyebut mereka dalam
buku-buku Islam. Sudah tentu, kita tak menghendaki situasi yang "lucu"
dan ekstrem seperti itu benar-benar terjadi.
>
> Selama ini umat Islam mengeluh karena umat lain memiliki pandangan
yang negatif tentang Islam, dan karena itu mereka berusaha sekuat
mungkin agar citra negatif tentang agama mereka itu dihilangkan.
Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri melakukan sejumlah
tindakan yang justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut
saya, pendapat ulama dan sikap pemerintah Malaysia itu adalah salah satu
contoh tindakan semacam itu. Jika umat Islam menginginkan agar umat lain
memiliki pandangan yang positif tentang agama mereka, maka langkah
terbaik adalah memulai dari "dalam" tubuh umat Islam sendiri. Yaitu
dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal.
>
> Tak ada gunanya umat Islam melakukan usaha untuk mengoreksi citra
Islam, sementara umat Islam sendiri memproduksi terus-menerus hal-hal
yang janggal dan tak masuk akal.
>
> Ulil Abshar Abdalla
>
> Caveat:Â  Mohon maaf kepada teman-teman dan pembaca Malaysia, jika
tulisan saya ini terlalu kritis pada pemerintah Malaysia dalam isu yang
spesifik ini. Saya sama sekali tidak berpandangan bahwa sikap pemerintah
Malaysia itu mewakili sikap seluruh umat Islam di sana. Saya tahu,
banyak kalangan Islam di sana yang tak setuju dengan sikap ulama dan
pemerintah Malaysia ini.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>       New Email names for you!
> Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and
@rocketmail.
> Hurry before someone else does!
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
>

Kirim email ke