Maryamah Karpov, Pamungkas Tetralogi Laskar Pelangi 
---------------------------------------------------
--Oleh Anwar Holid


Bentang Pustaka meluncurkan Maryamah Karpov, buku terakhir dari tetralogi 
Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dalam suasana amat meriah.

JAKARTA - "Andrea Hirata memang fenomenal ya?" kata Aendra H. Medita 
keras-keras di dekat telinga saya, berusaha mengalahkan riuh suara ratusan 
orang yang memadati halaman dalam MP Bookpoint. "Kok kamu ada di sini?" tanya 
saya. "Memang nggak boleh?" tawa dia. Rupanya dia juga akan bertemu dengan Iman 
Soleh, aktor monolog yang malam itu didaulat membawakan puisi legendaris "Jante 
Arkidam" secara dramatik dan menukil mozaik dari novel terbaru Andrea Hirata.

Tadi siang saya melihat novel itu sedang dipasang besar-besaran di satu ruang 
MP Bookpoint. "Baru datang tadi pagi mas," ujar seorang karyawan sambil 
beres-beres. Ruang itu langsung penuh hanya oleh Maryamah Karpov ditambah tiga 
novel Andrea yang lain. Buku lain disingkirkan. Hari itu, Jumat, 28/11/08, 
adalah hari tetralogi Laskar Pelangi. 

Meski hari pertama perjualan Maryamah Karpov belum resmi dilakukan, saya dengar 
dari Gangsar Sukrisno, CEO Bentang Pustaka, bahwa di toko buku Gramedia 
Citraland, novel itu dalam dua jam sudah terjual lebih dari 500 kopi. Di MP 
Bookpoint banyak pengunjung tak tahan menunggu lebih lama lagi untuk membeli. 
Sebagian orang telah membeli via toko buku online. Bentang menyediakan 100 ribu 
kopi untuk cetakan pertama, boleh jadi itu merupakan rekor untuk cetakan 
pertama di Indonesia.

Saya bertemu dengan Andrea Hirata di kantor Bentang, hanya beberapa rumah dari 
MP Bookpoint. Dia sudah tiba di Jakarta sehari sebelumnya, sekalian nonton 
konser jazz dengan keponakan-keponakannya, ditemani EO dan kuasa hukumnya. Saya 
baru saja menerima satu kopi novel itu dari Gangsar, dengan ucapan, "Kamu harus 
resensi buku ini ya." Di meja itu sudah menumpuk lebih dari 100 kopi Maryamah 
Karpov untuk ditandatangani. Itu buku pesanan. Tangan Andrea terus sibuk 
menulis nama satu per satu. Beberapa saat kemudian wartawan Koran Tempo 
mewawancarai. Wawancara ini cukup intens karena belum ada media lain yang 
datang. Andrea menyatakan tekad untuk sementara berhenti dari dunia perbukuan. 
"Untuk sementara, tetralogi ini cukup," katanya. Dia ingin menyepi dan 
merenungi lagi perjalanan karirnya sebagai penulis, pertemuan mengesankan 
dengan John Berendt, keinginan menggali lebih serius genre yang disebut pihak 
Bentang sebagai "cultural literary nonfiction." Juga
 upaya menghasilkan buku sekelas karya Truman Capote atau Amin Maalouf.

"Dalam batas tertentu, menulis butuh perenungan. Saya punya kapasitas nggak 
sih? Saya mau menulis dengan benar. Apabila nggak mutu, jangan menulis," 
ucapnya tegas. Sang wartawan berkali-kali berusaha meyakinkan apa benar Andrea 
mau mundur dari dunia yang telah memberikan hal mengejutkan pada dirinya.

Tetralogi Laskar Pelangi adalah hip. Anak berusia 7 tahun hingga orang berumur 
70 tahun membaca novel-novel itu. Ada anak SD yang terobsesi ingin bertemu 
dengan Andrea setelah membaca ketiga novelnya kala terbaring sakit. Maryamah 
Karpov, buku ke-4 seri itu, sudah ditunggu sejak dua tahun lalu, baru resmi 
diumumkan penerbitannya pada September lalu, ketika Mizan mengadakan ulang 
tahun ke-25, persis menjelang premiere film Laskar Pelangi. Andrea sendiri 
terus-terus menjadi pemberitaan, termasuk muncul kontroversi pernikahannya pada 
awal November ini. 

Andrea mengaku berdarah-darah menyelesaikan novel ke-4 ini. Meski bila digabung 
waktu penulisannya hanya sekitar satu bulan, jeda di antaranya cukup lama. 
"Dalam beberapa hal, intensitas penulisan Maryamah Karpov mirip Laskar 
Pelangi," kata dia. "Saya juga ingin novel ini mendapat tanggapan seperti 
pembaca menanggapi Laskar Pelangi. Saya seperti menulis Laskar Pelangi jilid 
dua." 

Malam itu, Andrea mendapatkan yang diharapkannya. Ratusan orang hadir di MP 
Bookpoint sampai membuat tempat itu sesak buat bergerak sedikitpun. Mereka 
menunggu sejak sore, berjubel di setiap pojok. Mereka riang menyambut ajakan 
menyanyi "Bunga Seroja" dan "Englishman in New York". Mereka terkesima oleh 
penampilan Iman Soleh yang lucu, teatrikal dan menggelegar. Mereka terus 
bersorak-sorai sampai akhirnya Andrea Hirata datang dalam kawalan polisi. 
Apalagi Giring Nidji dan sejumlah pendukung film Laskar Pelangi ternyata mau 
beramai-ramai menyanyikan theme song itu. Massa, terutama wartawan, tambah 
heboh begitu ada pernyataan pers tentang status perkawinannya. Sebagian 
bertanya dengan teriakan. Untung dia segera diselamatkan oleh acara tanda 
tangan, yang berlangsung sangat padat. Baru kira-kira pukul 10 malam acara itu 
selesai. Saya melihat display Maryamah Karpov sudah lenyap di ruangan MP 
Bookpoint, hanya tersisa yang ada di dinding-dinding kacanya. 

Putut Widjanarko, VP Operations Mizan Publika yang saya tahu rakus membaca, 
sulit menyembuyikan pujian pada Maryamah Karpov. Dia telah melahap buku itu 
sejak awal produksi. "Cara berceritanya luar biasa," kata dia penuh penekanan. 
"Detail-detail suasana desanya mengingatkan saya pada novel Ahmad Tohari."

"Kamu pernah melihat peluncuran buku seperti ini?" tanya Gangsar pada saya 
ketika hendak pulang. Saya tersenyum, membatin, "Setiap penulis punya hari 
keberuntungannya." Ini launching paling heboh yang pernah saya saksikan.

Segera setelah ini akan muncul berbagai komentar atas novel 504 halaman itu, 
baik di media massa atau Internet. Ribuan pembaca, terutama book blogger dan 
pecandu buku, akan menuliskan kesan masing-masing, termasuk kritik, bahkan dari 
kalangan yang mengaku sulit menyelesaikan oleh Laskar Pelangi. Tapi bagi Andrea 
Hirata, tugas sudah dituntaskan. Jilid terakhir sudah dipersembahkan. Kini 
tinggal dia melaksanakan rencana-rencana selanjutnya, termasuk menghilang 
sementara.[]

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid, 
http://halamanganjil.blogspot.com

Informasi lebih banyak di:
http://www.mizan.com
http://www.klub-sastra-bentang.blogspot.com
http://www.sastrabelitong.multiply.com
http://www.renjanaorganizer.multiply.com
http://www.blueorangeimages.com (foto Andrea Hirata)



      

Kirim email ke