--- In [EMAIL PROTECTED], "setyawan_abe" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


--- In [EMAIL PROTECTED], "setyawan_abe" setyawan_abe@ wrote:


Selingan Cerpen :

Dunia ini Sudah
Benar-Benar Terbalik !
-------------------------Sumber : 
http://www.bloggaul.com/dgtcom/readblog/87806/dunia-ini-sudah-benar-benar-terbalik?op=searchblog-----------------------------------------------------------------
 
"Ini cerpen ala Masidan... yang sempat Gua ikutkan lomba Cermin Indosiar....
Gua... sebenarnya binun je.... Ini cerpen apa bukan... ...
Tapi, okelah daripada terbuang sia-sia...., ya bisa kita baca bersama.....
Tentu saja... syarat dengan makna..... Baca... cemua ya.... cuman dua bagian 
kok....
Salam sukses buat semuanya ! "
 
--------------------------------------------------------------------------------------------------

 
Ya... Robbi... ?
Kenapa harus Kau balik duniaMu !
Salahkah aku ?
Salahkah tetanga-tetanggaku ?
Sahabat-sahabatku !
Kampungku !
Kotaku !
Negriku !

Ya... Tuhan... !
Semua benar-benar telah terbalik !

Wanita-wanita
itu ... ?
Tak jarang...
Jika malam harus menanggung beban !
Menanggung beban para lelaki yang sudah kesetanan !

Entahlah.... ?
Akankah kau nikmati juga beban yang terus saja bergerak !
Bergerak sampai puncak !
Hingga setelah itu,
Pergi begitu saja tanpa trimakasih dan kasih !
Lunglai sudah !
Seakan semua tenaga telah terkuras habis !

Entahlah... ?
Akankah menikmatinya juga ?
Ah... Persetan !
Persetan dengan kepuasan !
Daripada tak punya laki !
Biarkan saja terus mengotori !
Mengotori milik satu-satunya yang selalu tersimpan rapi !

Persetan dikotori !
Yang penting anak-anak masih punya topeng lelaki !
Persetan !
Persetan !
Semua masih bisa dijalani !

Kedubarak..... !
Ampunilah Wahai Tuhanku !
Berilah kekuatan kepada mereka semua !
Berilah secercah harapan kepada para pejuang-pejuang hidup sejati !
Walau harus mati !
Mati dalam pengorabanan diri !
Ya Tuhan... Ya Robbi...
Berikanlah mereka tempat yang Pasti !

Gila.... !
Benar-benar Gila... !
Dunia sudah terbalik parah !
Terbalik untuk menghabisi !
Mengahabisi ketakberdayaan !
Lemah !
Pasrah !
Dan terus...
Selalu saja mencoba untuk bertahan !
Gila... Gila... !

Begitulah puisi versi Sarmin, Meledak-ledak menyengat ! Menyengat pertanda nada 
protes. Protes ! Entah.. harus kepada siapa ditujukan. Kecuali hanya bisa 
berharap kepada Tuhan Sang Pencipta manusia.

Bagaimana tidak...?
Di tengah-tengah kota, yang katanya banyak intelektualnya. Banyak kaum 
agamawannya. Banyak Masjidnya. Banyak tempat ibadah lainnya. Banyak 
kelembutannya. Banyak kesantunannya.
Tapi....,
Sompret !
Kecepret !
Kampret !

Begitulah ocehan Sarmin sendirian. Protes-protes sendiri. Memaki-maki sendiri. 
Uring-uringan sendiri. Berkali-kali ! Entah sampai kapan ... Tak bisa 
menyalahkan. Harus kepada siapa disalahkan. Wah..., persis kayak orang gila ! 
Tapi gila yang memakai akal dan perasaan. Oh..., nasibmu Min... Sarmin ! Salah 
sendiri selalu saja mikir yang bukan untuk sendiri.


Betapa tidak ... ?
Ketika harus melihat para tetangga kampung dulu ada, sedang konkow-konkow di 
panggir kali tengah kota. Di kota yang penuh dengan keramaian. Kota yang penuh 
lalu lalang mobil, motor, dan sedikit sepeda yang sejak dulu telah ada. Tak 
sedikit juga lalu lalang pejalan kaki yang punya berbagai keperluan.

Di tengah kampung di tengah-tengah kota. Dipinggir kali yang jauh dari 
keramaian. Walau sudah tak terlihat kesan kumuh lagi. Namun penghuninya 
ternyata tak bisa menghilangkan kebiasaan kumuhnya.


"Tong... Ontong ! Janda itu mau di ajak ngetem lho !"
"Ah... Gak mau ah...!"
"Gue kan masih
tetangganya !"
"Dasar sompret Loe.. !"

"Hwa...ha...ha... !"
" Ya udah nanti kita main catur aja ! Kebetulan hari ini seharian Bini gue baru 
'ngerol' je !"
'Ngerol' adalah suara kicauan burung yang bersuara dobel. Kebanyakan suara
burung bersuara tunggal. Kata 'ngerol' untuk menggambarkan bahwa istri mereka 
sedang marah-marah.

Obrolan mereka selalu saja tampak meriah penuh tawa. Tentu saja selalu diiringi 
suara gemricik aliran air sungai. Namun sesaat hening sejenak. Karena tampak 
ketua RT mereka sedang mendatanginya untuk bergabung.

"Wah... Ndol ! Barusan saja ada warga baru yang mau buat C1 dan KTP. Woww... 
bahenol Tong ! Kelihatannya, sama suaminya gak diurusin. Lawong kata-katanya 
mendesah-desah resah gitu je ! Kwak..kak...kak...!" Meledak tawa Pak RT semakin 
membuat suasana semakin meriah. Tanpa ba bi bu RTnya datang langsung saja 
nggambleh dengan bangganya. Yeahc...
begitulah mereka kalau punya cerita tentang wanita, pasti bangga dah..!

"Hwuaa...ha...ha...kak...kak..wak...wak... ! Gemeruh tawa sambutan cerita Pak 
RT hingga kedengaran dari kejahuan. Saking kerasnya suara tawa mereka.

Tidak pagi, tidak siang, ataupun malam. Selalu saja penuh cerita. Cerita yang 
selalu saja tak pernah lepas tentang wanita. Padahal mereka kebanyakan 
bapak-bapak yang sudah punya anak istri. Tidak yang tua, tidak yang muda ! Sama 
saja !

Hampir semuanya kerjanya tidak jelas. Dari sopir mobil rental milik warga 
setempat sampai tukang bangunan. Menyopir kalau ada calteran. Itupun kadang 
jalan kadang tidak. Sama saja dengan tukang bangunan. Baru kerja kalau ada 
proyek membangun rumah tetangga atau saudara. Ada juga pedagang kaki lima. Akan 
berjualan jika musim liburan anak-anak sekolah.
.............
Belum selesai tawa mereka mereda hilang. Tiba-tiba datang lagi orang. Dengan 
tergopoh-gopoh sambari bersungut-sungut pertanda sedang marah ! "wah… maaf Pak 
RT ! Saya barusan mengampar istri gue..! Habis seharian kok kerjanya ngomel 
melulu ! Saking nggak kuatnya, gua gampar sekalian moncongnya ! Maksud saya 
biar diam. E… malah semakin menjadi-jadi ! Wah dari pada gua hajar hingga 
berdarah-darah malah dapat masalah, mendingan minggat aja ke sini ! 
Paling-paling kalau gua kagak pulang, akhirnya mencari-cari. Dasar istri banyak 
bawel !" Terus nerocos dengan muka masih memerah marah.

Begitulah potret kampung di dunia yang benar-benar sudah terbalik !
Coba bayangkan.. ?
Udah kerja nggak jelas ! Uang belanja kurang. Masih aja tampak santai-santai 
saja. Malah boleh dibilang, kerjanya banyak nongkrong-nongkrong dengan 
tetangga. Nampak bangga lagi ! Setiap punya cerita apa saja !

Dasar Sompret !
Kecepret !
Kampret lagi !

Nggak mau tahu. Nggak mau mikir. Cuek kayak bebek. Padahal para istri merekalah 
yang malah sering kelabakan. Berusaha mencari tambahan penghasilan hanya demi 
memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Para istri mereka sadar, berharap belanja 
para kampret sama saja bunuh diri kelaparan. Atau paling tidak seperti hidup 
tidak, mau mati juga tidak ! Udah begitu ! Tetap saja cuek bebek !

Banyak saja alasannya ! Kerjaan lagi sulitlah, baru sepilah, nggak cocok dengn 
pekerjaanlah. Ah… semua banyak alasannya daripada faktanya !

Maka tak heran…?
Jika para istri mereka yang malah lebih jumpalitan, mencari tambahan 
penghasilan. Malah tak jarang, penghasilan mereka jauh lebih besar dari 
penghasilan suami mereka. Suami mereka yang memang banyak ngangurnya. Udah gitu 
malah lebih banyak nongkrongnya !

Maka sangat wajarlah, kalau wajah-wajah mereka nampak sayu. Bahkan tak sedikit, 
raut muka mereka tampak banyak menyimpan kesedihan. Kesedihan yang berusaha 
mereka sembunyikan. Menyembunyikan dari banyak penglihatan. Tapi sayang bukan 
yang tajam penglihatan. Tak jarang pula, dari tatapannya penuh kehampaan. Hampa 
! Kosong ! Karena sudah tak ada yang bisa diharapkan. Mendingan sudah bisa 
makan. Untuk uang sekolah dan jajan anak-anak saja kadang-kadang kebingungan. 
Merekalah yang malah harus berputar otak. Membanting tulang mencari pekerjaan 
apa saja ! Pembantu, buruh cuci atau apa saja yang bisa mereka lakukan.

Kosong !
Hampa !
Tak banyak berharap !
Entahlah…
Apa yang bisa.. ?
Para istri lelaki kampret !
Yang kerjanya banyak ndobos sana – ndobos sini !
Sangat bangga !
Bila bisa bercerita tentang wanita yang bukan istri dan anak mereka !

Dasar Sompret !
Seperti sudah tak mau tahu dengan persoalan rumah tangga mereka. Yang ada hanya 
tawa dan canda. Hingga seakan tak tergambar beban berat seperti yang dirasa 
bini mereka. Bahkan tak jarang, dalam benak mereka, " Kagak bakalan kelaparan 
dah… ! Pasti ! Istri gua tidak bisa tinggal diam, untuk menutupinya. Memang 
kenyataannya begitu…"

Begitulah adanya !
Tak berdaya !
Di tengah kampung keramaian !
Di tengah para laki mereka !
Yang ternyata banyak kampretnya !
Hampir kecepret semua !
Juga pasti Sompretnya !

Sudah begitu….,
Dasar wanita ! Selalu saja mudah di bohongi oleh mereka. Apalagi ketika nafsu 
konaknya sedang mencari mangsa ! Seperti biasa, rayuan maut selalu saja membuat 
mereka terpana ! Para Kampret sudah sangat tahu, bagamana bisa menunggangi 
mereka. Supaya konaknya tidak pingsan karenanya. Malah kalau tak diberi 
bisa-bisa makan milik tetangga. Dasar Sompret ! Kalau pergi dengan alasan 
kerja. Siapa yang akan tahu kalau ternyata mampir ke wanita yang banyak 
pemiliknya ! Dasar Kecepret !

Selalu saja bisa berdalih !
Bersilat lidah !
Agar supaya istri mereka percaya !
Percaya untuk dibohongi !
Ditunggangi !

Membanting hari untuk sesuap nasi. Pagi harus memaksa memelototkan mata. 
Menyiapkan semua keperluan keluarga. Selalu saja bersih-bersih semua yang kotor 
di rumahnya. Tidak pernah absen membangunkan anak-anak untuk siap sekolah. Tak 
pernah lupa membiarkan kampret tetap molor entah sampai kapan bangunnya. Dari 
pada kena bogem yang tak dinyana-nyana.

Menjelang siang bekerja seperti biasa. Mencari tambahan penghasilan lebih dari 
pendapatan para Kecepret mereka. Tak sedikit harus polang sore akan senja. 
Tanpa tahu apa yang dilakukan anak-anak mereka sepulang sekolah ? Entah bermain 
kemana mereka ?

Tapi yang jelas !
Mereka sangat hapal dengan kegiatan suami mereka. Molor sampai jam berapa 
biasanya. Pergi pasti ke mana arahnya. Pulang pasti sedang mentongkrong sambil 
menghisap rokok kretek apa saja. Tak jarang kalau pulang malam membangunkanya. 
Seperti biasanya, selalu bersikap lembut kalau ada maunya. Selalu mesra kalau 
sedang meminta.

Ngak diberi bakalan jadi perang Brotoyudo. Mengamuk ! Berteriak-teriak seakan 
tanpa sebab ! Mudah menghardik memaki-maki ! Tak jarang memecahkan apa saja 
yang ada didekatnya ! Bahkan tak jarang mengancam akan meninggalkan mereka 
semua. Terlalu mudah mencari penggantinya, katanya. Atau juga bisa beli di 
mana-mana !

Dasar Sompret !
Mengancam bisanya !
Mengamuk kalau tak diterima !
Muka memerah kalau ditolaknya !
Dasar Kecepret !
Kampret adanya !

Ya… Tuhan… Ya… Robbi !
Kenapa telah Kau balikkan dunia !
Hingga orang yang tak perdaya semakin tersiksa !
Tak ada pilihan yang bisa dipilihnya !

Wahai wanita !
Di kampung-kampung di pelosok-pelosok kota !
Di mana saja berada !
Bahkan mungkin di pelosok-pelosok desa !
Sama saja !
Banyak Kecepretnya !
Ada Sompretnya !
Tak sedikit Kampretnya !

Tabahkanlah hatimu !
Kuatkanlah ragamu !
Biarkanlah aku saja yang menyanjungmu !
Mendoakanmu !
Bahwa semua takkan sia-sia !
Semua Hebat adanya !

Coba tanyakan pada mereka ?
Coba tanyakan ?
Kalau tidak ada wanita !
Bakalan modar semua !
Kerja aja kagak bisa !
Mau dikemanakan konak mereka !
Biar tahu rasa !

Dasar Kampret !
Kecepret !
Sommm… prettt… !

Gurutu Sarmin sambil meninggalkan kampung halamannya. Kampung halaman yang 
telah membesarkannya. Sarmin pun menghilang ditengah keramaian jalan-jalan 
kota. Entahlah…? Masihkah…? Sarmin terus berguman sendirian ?

Sarmin… oh… Sarmin !
Benarkah dunia memang sudah terbalik ?
Ada-ada saja yang selalu dipikirkannya !


Salam Sukses untuk Semua !--- End forwarded message ---

--- End forwarded message ---


http://ariefbudi.wordpress.com 
http://jalanku.multiply.com
http://teknofood.blogspot.com

"...Bila engkau penat menempuh jalan panjang, menanjak dan berliku.. dengan 
perlahan ataupun berlari, berhenti dan duduklah diam.. pandanglah ke atas.. 
'Dia' sedang melukis pelangi untukmu.."


      Is demonstration and go to the street the right things to do?

Kirim email ke