Refleksi: Syukuralhamdullilah bila iblish bin seythan resesi tidak bisa mampir.

http://www.gatra.com/artikel.php?id=120749

Indonesia: Negara Muslim yang Tidak Terkena Resesi


Setelah pemilihan Presiden Barack Obama, sepertinya sedikit demi sedikit akan 
ada pemulihan kepercayaan Amerika Serikat dalam sistem finansial dan perbankan. 
Amerika Serikat dan Eropa tidak bisa menghindar dari resesi, sedangkan di 
negara-negara berkembang hanya terjadi kemunduran. Krisis kepercayaan pada 
sistem finansial dan perbankan dunia Barat terjadi selama masa akan berakhirnya 
kepemimpinan Presiden Amerika Serikat yang paling tidak populer sepanjang masa. 
Kesalahan manajemen finansial dan kerangka peraturan kerja yang lemah telah 
menghancurkan ekonomi Amerika Serikat, membuat yang kaya semakin kaya dan yang 
miskin semakin miskin. Dua juta warga Amerika mungkin kehilangan tempat 
tinggal. Jutaan orang di Amerika dan Eropa akan kehilangan pekerjaan.

Namun warisan kehancuran kepresidenan Bush itu meninggalkan kesempatan besar 
yang terbuka untuk Indonesia, dunia muslim, dan negara-negara berkembang di 
Selatan lainnya. Indonesia dapat memegang peran kunci untuk membawa dunia 
muslim menuju pemulihan ekonomi dan membantu meminimalkan dampak resesi global.

Pertama, dengan menata ekonomi nasional untuk menopang pertumbuhan, permintaan, 
impor, dan ekspor. Angka produk nasional bruto untuk tahun 2009 diperkirakan 
sebesar US$ 547 milyar, yang menempatkan Indonesia di jajaran 20 besar ekonomi 
dunia.

Indonesia baru-baru ini menyusul Belgia dan Swedia, dan segera menyusul Turki, 
Belanda, serta Austria. Populasi dan sumber daya yang besar ikut andil dalam 
hal ini. Indonesia adalah kandidat kuat yang akan bergabung dalam jajaran 10 
besar ekonomi dunia dalam dua dekade ke depan.

Kedua, dengan menggerakkan investasi untuk minyak, gas, proyek-proyek energi, 
biofuel, infrastruktur (jalan, rel kereta, pelabuhan), sektor manufaktur, dan 
retail. Hal ini membutuhkan dana lebih dari US$ 40 milyar untuk listrik saja, 
untuk membiayai tambahan tenaga 40.000 MW pada 2025. Indonesia akan 
memanfaatkan tenga nuklir dan membangun empat pembangkit listrik. Total 
investasi asing yang dibutuhkan selama 15 tahun ke depan melebihi US$ 100 
milyar. Investasi masih datang dari Amerika Serikat dan Eropa (termasuk Eropa 
Timur). Tapi yang terus mengalami peningkatan adalah dari BRIC (Brasil, Rusia, 
India, dan Cina). Juga dari negara-negara APEC, seperti Kanada, Jepang, Korea, 
Taiwan, dan dari negara-negara anggota ASEAN (Brunei, Malaysia, Filipina, 
Singapura, Thailand). Investasi dalam jumlah besar datang pula dari 
negara-negara Teluk, Arab Saudi, Israel, dan Afrika. Ketiga, Indonesia dapat 
memimpin ekonomi muslim dengan memanfaatkan ekonominya dalam jumlah besar dan 
pengaruhnya sebagai anggota U.N. Security Council untuk bergabung dengan 
Brasil, Rusia, India, Cina, dan negara-negara di Selatan. Yakni untuk membawa 
perubahan kebijakan dan keseimbangan kekuatan dalam organisasi dunia yang 
berhubungan dengan perdagangan, pembiayaan, dan pengembangan, khususnya Bank 
Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Indonesia memiliki reservasi utama tentang IMF, menyusul pengalamannya pada 
1998. Menteri Keuangan Jerman, Peer Steinbrueck, berkata bahwa dunia seharusnya 
tidak tergelincir ke dalam penciptaan pemerintah ekonomi dunia bayangan yang 
dijalankan dewan di dalam IMF. Indonesia juga lelah selalu tertahan dalam 
bayang-bayang WTO. Asia dan negara-negara Selatan menginginkan kerja sama yang 
baru. Negara-negara muslim secara bersama-sama menghadirkan sumber daya modal 
penting yang terus meningkat, sementara likuiditas Barat sebagian sudah 
mengering. Ekonomi muslim menghadirkan sumber daya investasi dan tujuan 
investasi itu. Gabungan ekonomi muslim dapat mewakili permintaan yang 
signifikan untuk barang-barang dan pelayanan jasa dunia Barat yang secara 
relatif tidak terpengaruh oleh resesi di dunia Barat.

Indonesia masih bisa memanfaatkan kredit ekspor, sukuk, pembiayaan Islam, dan 
sumber daya finansial non-tradisional lainnya, misalnya dana lingkungan dan 
kredit karbon. Walaupun ada penurunan global, Indonesia masih bisa bertahan 
dalam beberapa pembiayaan bank.

Pinjaman Excelcomindo sebesar US$ 140 juta untuk ekspansi telekomunikasi 
baru-baru ini telah diumumkan. Perusahaan penerbangan Lion Air membeli 12 
pesawat Boeing 737, walaupun kontribusi tunai lokal yang dibutuhkan dalam empat 
tahun terakhir naik 30%. Lion Air akan menggunakan modalnya sendiri untuk 
melakukan perluasan. St. Miguel Corp Filipina bersaing dengan sebuah konsorsium 
yang dipimpin Amerika Serikat untuk meraih US$ 1,3 milyar kerja sama penyediaan 
batu bara, untuk membeli PT Bumi Resources dari Bakrie Brothers. Ada investasi 
di sini dan investasi akan masuk ke Indonesia.

Standard and Poors mencoba menstabilkan rating kredit Indonesia, dan bahkan 
rating itu mungkin akan meningkat. Singapura dapat tergelincir ke dalam resesi, 
tapi Indonesia tidak akan mengalaminya. Alasannya, manajemen ekonomi dan 
keuangan Indonesia lebih baik.

Indonesia berada dalam posisi penting sebagai negara muslim terbesar di dunia, 
dengan populasi 230 juta orang dan luas area 1,9 juta kilometer persegi. Produk 
domestik bruto Indonesia sebesar US$ 843,7 milyar dalam periode jual-beli 
tenaga listrik dan US$ 432,9 milyar dalam periode nilai tukar resmi tahun 2007. 
Indonesia memiliki investasi asing tetap sebesar US$ 57,6 milyar dan memegang 
investasi di negara-negara lain sebesar US$ 9 milyar. Indonesia punya lebih 
dari 3.500 milyuner, yang masing-masing memiliki US$ 100 juta lebih, yang 70% 
di antaranya tinggal di Jakarta.

Baru-baru ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 6,5% dan dikhawatirkan 
jatuh di bawah 6% pada 2009 karena adanya pengurangan ekspor. Pemerintah akan 
menstimulasi pertumbuhan menggunakan anggaran nasional yang mencapai US$ 100 
milyar pada 2008. Pemerintah Indonesia yakin akan mempertahankan pertumbuhan 
sebesar 6%. Bank Dunia telah menyisihkan pinjaman cadangan sebesar US$ 2 milyar 
untuk tahun 2009, yang hanya akan dikucurkan jika pertumbuhan jatuh di bawah 
5,8%.

Pada 2007, ekspor Indonesia adalah sebesar US$ 118 milyar, impor US$ 86 milyar, 
surplus perdagangan US$ 32 milyar, dan cadangan devisa asing sampai November 
2008 sebesar US$ 50 milyar.

Indonesia telah kehilangan beberapa pekerjaan di sektor tekstil. Beberapa 
ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa jatuh pada kuartal keempat. Bursa saham, 
obligasi pemerintah, dan nilai tukar nasional juga jatuh pada minggu pertama 
Oktober lalu.

Pemerintah meluncurkan program pengamanan buy back yang dipelopori BUMN dan 
mempertahankan rupiah dengan campur tangan di pasar nilai tukar via Bank 
Indonesia (BI). Pemerintah juga mengambil langkah untuk meningkatkan likuiditas 
serta fokus mengontrol inflasi dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah menaikkan jaminan deposit pribadi sampai Rp 2 milyar (US$ 190.000), 
yang mencakup 100% deposit untuk lebih dari 99,7% dari 81 juta rekening bank. 
Bank-bank di Indonesia masih dalam posisi yang kuat dengan cadangan yang cukup, 
pinjaman non-performing yang rendah, dan nyaris tanpa pembeberan pada kerugian 
subprimer. Hanya sebagian kecil investor yang kehilangan uang pembelian 
instrumen yang berkaitan dengan Lehman via bank internasional.

Nilai inflasi Indonesia menurun dari 12% menjadi sekitar 9% pada Januari, 
dengan reduksi yang direncanakan antara 9% dan 7% sepanjang tahun 2009. Suku 
bunga bank telah distabilkan pada angka 9,5% setelah enam bulan berturut-turut 
naik. Hal ini akan dipertahankan sementara dan kemudian dikurangi menjadi 7,5% 
pada 2009.

Obligasi Indonesia telah pulih dari gejolak yang tajam baru-baru ini. Bursa 
saham pun sudah stabil. Ekonom lokal menyatakan bahwa bursa saham yang 
sebelumnya mengalami over-value akan kembali normal sejalan dengan siklus 
perdagangan lokal.

Pemerintah sekarang fokus untuk mengolah dana sebesar US$ 115 milyar dari 
anggaran nasional tahun 2009, naik dari US$ 100 milyar pada 2008. Hal ini 
dilakukan untuk mendorong pembangunan proyek dan secara keseluruhan 
dibelanjakan untuk membantu memenuhi permintaan lokal karena adanya penurunan 
ekspor, dengan harapan menjaga pertumbuhan ekonomi 5,5% hingga 6% pada 2009.

Di samping keruntuhan bank Indover Cabang Pembantu Bank Indonesia di Belanda, 
tidak ada kebangkrutan yang lebih parah. Menteri Keuangan Indonesia, Sri 
Mulyani Indrawati, dan Gubernur BI yang baru, Boediono, telah mengambil 
tindakan untuk mengatasi kesalahan manajemen sebelumnya.

Berbeda dari cara penanganan bankir-bankir keuangan yang gagal di negara Barat, 
yang tidak bijaksana dan mengambil risiko yang mungkin saja ilegal, Pemerintah 
Indonesia mengatur cara kerja Komisi Pemberantasan Korupsi dan pengadilan 
antikorupsi untuk melawan bankir-bankir serta anggota parlemen yang melakukan 
korupsi dan menerima suap.

Pemerintah Indonesia juga menyatakan akan memburu orang-orang yang 
menyalahgunakan namanya dan menyebabkan hancurnya Bank Indover Belanda. 
Pemerintah Indonesia bermaksud pula mengusut dugaan praktek perdagangan singkat 
dan kecurangan di pasar modal.

Indonesia kehilangan waktu 10 tahun akibat kehancuran perbankan pada 1998, 
ketika menyerahkan nasibnya kepada IMF, yang gagal memahami kekuatan lokal dan 
membesar-besarkan kelemahan lokal. Sebuah foto historis memperlihatkan Soeharto 
duduk di meja kerjanya, menandatangani surat kuasa kematian politiknya. 
Perwakilan IMF berdiri di depannya, sedangkan dia menandatangani perjanjian IMF.

Banyak hal telah berubah di antara kehancuran perbankan Asia pada 1998 dan 
kehancuran Wall Street pada 2008. Kekuatan keseimbangan ekonomi di dunia 
berubah, keseimbangan kekuatan global bergeser ke Selatan dan Timur. Perdana 
Menteri Inggris, Gordon Brown, mengetahui hal itu ketika mengimbau 
negara-negara Teluk dan G-20 untuk membantu menstabilkan ekonomi dunia.

Pada kehancuran bank tahun 1998, Indonesia tidak memiliki kebebasan dan 
pilihan. Kini, tahun 2008, Indonesia memiliki kebebasan dan lebih kuat serta 
dapat memilih jalannya sendiri. Semoga kekuatan dan tekad yang kuat dapat 
memberi inspirasi kepada negara-negara muslim dan negara-negara Selatan untuk 
tidak panik menghadapi resesi di dunia Barat, melainkan bekerja sama untuk 
menghindari penyebaran resesi ke Selatan serta membangun dan menguatkan sebuah 
tatanan baru ekonomi dunia.

Terry Lacey Ekonom, berdomisili di Jakarta

<<84.jpg>>

Kirim email ke