-------- Original Message --------
Date:   Fri, 5 Dec 2008 10:07:51 +0800
From:   ChanCT



----- Original Message -----
*From:* Budi Setiyono <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
*To:* [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
*Sent:* Friday, December 05, 2008 9:54 AM
*Subject:* Zalimnya Pemerintah Ini

*Zalimnya Pemerintahan Ini
**/Pengalaman Seorang Hamba./*

*_S_*epulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di 
tepi trotoar daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum jua lewat, 
sedang matahari kian memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya 
tertarik untuk memperhatikan seorang bapak tua yang tengah termanggu di 
tepi jalan dengan sebuah gerobak kecil yang kosong. Bapak itu duduk di 
trotoar. Matanya memandang kosong ke arah jalan.

Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan. Pak Jumari, 
demikian namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang 
biasa menjajakan barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur.

*/"Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?/**"** 
*tanya saya.

Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang 
seakan hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia 
limapuluh dua tahun ini menggeleng. */"Gak ada minyaknya./"*

Bapak empat anak ini bercerita jika dia tengah bingung. Mei depan, 
katanya, pemerintah akan mencabut subsidi harga minyak tanah.

*/"Saya bingung. saya pasti gak bisa lagi jualan minyak. Saya gak tahu 
lagi harus jualan apa. modal gak ada.keterampilan gak punya.."/* Pak 
Jumari bercerita. Kedua matanya menatap kosong memandang jalanan. 
Tiba-tiba kedua matanya basah. Dua bulir air segera turun melewati 
pipinya yang cekung.

*/"Maaf dik saya menangis, saya benar-benar bingung. mau makan apa kami 
kelak.., "/* ujarnya lagi. Kedua bahunya terguncang menahan tangis. Saya 
tidak mampu untuk menolongnya dan hanya bisa menghibur dengan kata-kata. 
Tangan saya mengusap punggungnya. Saya tahu ini tidak mampu mengurangi 
beban hidupnya.

Pak Jumari bercerita jika anaknya yang paling besar kabur entah ke mana.
/*"Dia kabur dari rumah ketika saya sudah tidak kuat lagi bayar 
sekolahnya di SMP. Dia mungkin malu. Sampai sekarang saya tidak pernah 
lagi melihat dia.. Adiknya juga putus sekolah dan sekarang ngamen di 
jalan. Sedangkan dua adiknya lagi ikut ibunya ngamen di kereta. Entah 
sampai kapan kami begini ."
*
/Mendengar penuturannya, kedua mata saya ikut basah.

Pak Jumari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil lusuh yang 
melingkar di leher.

*/"Dik, katanya adik wartawan.. tolong bilang kepada pemerintah kita, 
kepada bapak-bapak yang duduk di atas sana , keadaan saya dan banyak 
orang seperti saya ini sungguh-sungguh berat sekarang ini. Saya dan 
orang-orang seperti saya ini cuma mau hidup sederhana, punya rumah 
kecil,/* */bisa nyekolahin anak, bisa makan tiap hari, itu saja."/* 
Kedua mata Pak Jumari menatap saya dengan sungguh-sungguh.

*/"Dik, mungkin orang-orang seperti kami ini lebih baik mati... mungkin 
kehidupan di sana lebih baik/* */daripada di sini yah..."/**/ /*Pak 
Jumari menerawang.

Saya tercekat. Tak mampu berkata apa-apa. Saya tidak sampai hati 
menceritakan keadaan sesungguhnya yang dilakukan oleh para pejabat kita, 
oleh mereka-mereka yang duduk di atas singgasananya. Saya yakin Pak 
Jumari juga sudah tahu dan saya hanya mengangguk.

Mereka, orang-orang seperti Pak Jumari itu telah bekerja siang malam 
membanting tulang memeras keringat, bahkan mungkin jika perlu memeras 
darah pun mereka mau. Namun kemiskinan tetap melilit kehidupannya. 
Mereka sangat rajin bekerja, tetapi mereka tetap melarat.

Kontras sekali dengan para pejabat kita yang seenaknya numpang hidup 
mewah dari hasil merampok uang rakyat. Uang rakyat yang disebut 
'anggaran negara' digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah, 
fasilitas alat komunikasi yang canggih, rumah dinas yang megah, gaji dan
honor yang gede-gedean, uang rapat, uang transport, uang makan, 
akomodasi hotel berbintang nan gemerlap, dan segala macam fasilitas gila 
lainnya. Mumpung ada anggaran negara maka sikat sajalah!

Inilah para perampok berdasi dan bersedan mewah, yang seharusnya bekerja 
untuk mensejahterakan rakyatnya namun malah berkhianat mensejahterakan 
diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Inilah para lintah darat yang 
menghisap dengan serakah keringat, darah, tulang hingga sum-sum 
rakyatnya sendiri. Mereka sama sekali tidak perduli betapa rakyatnya 
kian hari kian susah bernafas. Mereka tidak pernah perduli. Betapa 
zalimnya pemerintahan kita ini!

Subsidi untuk rakyat kecil mereka hilangkan. Tapi subsidi agar para 
pejabat bisa hidup mewah terus saja berlangsung. Ketika rakyat antri 
minyak berhari-hari, para pejabat kita enak-enakan keliling dalam mobil 
mewah yang dibeli dari uang rakyat, menginap berhari-hari di kasur empuk 
hotel berbintang yang dibiayai dari uang rakyat, dan melancong ke luar 
negeri berkedok studi banding, juga dari uang rakyat.

Sepanjang jalan, di dalam angkot, hati saya menangis. Bocah-bocah kecil 
berbaju lusuh bergantian turun naik angkot mengamen. Di perempatan lampu 
merah, beberapa bocah perempuan berkerudung menengadahkan tangan. Di 
tepi jalan, poster-poster pilkada ditempel dengan norak. Perut saya mual 
dibuatnya.

Setibanya di rumah, saya peluk dan cium anak saya satu-satunya.

*/"Nak, ini nasi bungkus yang engkau minta." /*Dia makan dengan lahap. 
Saya tatap dirinya dengan penuh kebahagiaan. Alhamdulillah, saya masih 
mampu menghidupi keluarga dengan uang halal hasil keringat sendiri, 
bukan numpang hidup dari fasilitas negara, mengutak-atik anggaran negara 
yang sesungguhnya uang rakyat, atau bagai lintah yang mengisap kekayaan 
negara.

Saat malam tiba, wajah Pak Jumari kembali membayang. Saya tidak tahu 
apakah malam ini dia tidur dengan perut kenyang atau tidak. Saya berdoa 
agar Allah senantiasa menjaga dan menolong orang-orang seperti Pak 
Jumari, dan memberi hidayah kepada para pejabat kita yang korup.
Mudah-mudahan mereka bisa kembali ke jalan yang benar. Mudah-mudahan 
mereka bisa kembali paham bahwa jabatan adalah amanah yang harus 
dipertanggungjawabkan di mahkamah akhir kelak. Mudah-mudahan mereka 
masih punya nurani dan mau melihat ke bawah.

Mudah-mudahan mereka bisa lebih sering naik angkot untuk bisa mencium 
keringat anak-anak negeri ini yang harus bekerja hingga malam demi 
sesuap nasi, bukan berkeliling kota naik sedan mewah...

Mudah-mudahan mereka lebih sering menemui para dhuafa, bukan menemui 
konglomerat dan pejabat... Mudah-mudahan mereka lebih sering berkeliling 
ke wilayah-wilayah kumuh, bukan ke mal...
_Amien Ya Allah. _

/Untuk kita renungkan.../

/Apakah empati sudah tiada lagi ?/

/Atau mungkin bangsa ini sudah kehilangan nurani.../

/Selamat jalan dik Teguh, engkau sudah tidak sakit lagi.../

/Wassalaam,/

*Bu**_d_**i-pc*

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

*LAPAR, ANAK SD GANTUNG DIRI**

*/Wednesday, 20 February 2008

/*Magetan-Surya*, Heran melihat Teguh Miswadi(11), tidak masuk sekolah 
sejak Senin (18/2), Sujarwo menjenguk salah-satu murid pintarnya itu 
kemarin. Pak guru Sujarwo(45) khawatir sakit maag Teguh kambuh, dan dia 
ingin membawanya ke Puskesmas.

Namun, tiba di rumah Teguh yang tinggal bersama neneknya di Desa Pupus, 
Kecamatan Lembeyan, Kab. Magetan, Sujarwo terkejut bukan kepalang. Di 
sebuah kamar yang tak terkunci di rumah setengah kayu dan setengah bambu 
itu, Sujarwo melihat siswa kesayangannya tergantung kaku. Teguh sudah 
tak bernyawa. Teguh bunuh diri.

"Seutas tali tampar biru menjerat lehernya," kata Sujarwo saat ditemui 
Selasa (19/2). Tali itu diikatkan pada blandar atau kayu penopang atap.

Menurut Sujarwo, Teguh gelap mata, sangat mungkin karena tidak tahan 
akan rasa sakit yang menyerang perut. Maag itu sering membuatnya 
mengerang. Penyakit ini seharusnya dilawan dengan makan teratur dan 
bergizi. Tapi, justru itulah yang tak mungkin didapatkan.

Beberapa tetangga membenarkan Teguh hanya makan satu kali sehari. 
Kondisi Teguh yang tinggal hanya berdua dengan neneknya yang renta, 
memang sangat memprihatinkan. Siswa kelas 5 SDN Pupus 02, Kecamatan 
Lembeyan, Kabupaten Magetan ini sering mengeluh sakit perut.

"Teguh menderita sakit maag akut cukup lama dan tak ada yang 
memperhatikan secara penuh sakitnya, termasuk kebutuhan makannya," tutur 
Sujarwo dengan nada prihatin.

Dengan kondisi keluarga Teguh yang miskin, makan sebagai kebutuhan 
paling dasar tampaknya memang tak sanggup dipenuhi keluarganya. Teguh 
tinggal bersama Mbah Ginah, 76, neneknya yang buta di RT 2 RW 7 No 672 
Desa Pupus, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan.

"Sebetulnya tidak ada yang aneh. Anak itu mudah bergaul dengan teman 
sebayanya dan tergolong cerdas. Hanya, dia sering tiba-tiba terdiam," 
kata Sukarni (35) tetangga Mbah Ginah.

Baru ketika bocah ini nekat gantung diri, orang-orang dewasa di 
sekitarnya melek. Betapa tersiksanya Teguh yang hanya bisa mengisi perut 
sekali sehari. Bahkan sebelum meregang nyawa, dia diduga sangat 
kesakitan. Ini terlihat dari tas sekolah, buku-buku, sepatu, serta 
seragam sekolah yang ada di bawahnya berantakan.

Sangat mungkin Teguh yang mengenakan kaus hijau dan celana jins biru ini 
berkelojotan menahan sakit.

Menurut Sukarni, Mbah Ginah menjadi satu-satunya orang yang dianggap 
paling bisa memberi perhatian pada Teguh. Tetapi, karena sudah tak bisa 
melihat, Mbah Ginah memiliki keterbatasan. Selain itu, kemiskinan selalu 
saja menjadi sandungan.

Bahkan ketika bocah malang ini tinggal bersama ayahnya, Suwarno, 41, dia 
juga tidak mendapat perhatian apalagi dirawat layaknya seorang anak. 
Lagi-lagi kemiskinan yang membuat keluarga kecil ini berantakan.

Kata sejumlah tetangganya, Suwarno harus berangkat ke sawah sebagai 
buruh tani usai subuh dan kembali ke rumah menjelang senja. Ibu Teguh, 
Supartinah (38), telah pergi merantau ke Sumatera sejak Teguh masih 
kecil. Hingga kini Supartinah tidak pernah kembali, sehingga tak ada 
yang sekadar
menyapa apakah bocah ini sudah makan atau belum, apakah di rumah ada 
yang bisa dimakan atau tidak.


"Teguh kemudian memilih tinggal bersama Mbah Ginah yang tinggalnya masih 
sedesa dengan ayahnya. Meski sama-sama miskin, mbah yang buta ini lebih 
telaten," kata Sukarni.

Teguh memilih mengakhiri rasa sakit dan kemiskinan itu dengan caranya 
sendiri. Bayu, 11, teman sebangku Teguh di kelas, menangis mendengar 
teman belajar dan teman bermainnya meninggal.

Menurut Bayu, nilai pelajaran Teguh yang duduk di bangku terdepan ini 
bagus-bagus. "Selalu 7 dan 8. Dia juga mampu menirukan semua bentuk 
lukisan maupun gambar di atas kertas," kata Bayu.

Bayu ingat, ketika bermain bersama, Teguh sudah berpesan mulai Senin 
(18/2) tidak masuk sekolah lagi. "Sabtu lalu dia bilang sakit maagnya 
kambuh," tuturnya.

Setelah memastikan sebab kematian, Kapolsek Lembeyan, AKP Subagyo 
langsung menyerahkan jasad Teguh kepada keluarga untuk dimakamkan atas 
permintaan keluarga.

Ayahnya, Suwarno, tak bisa dimintai keterangan karena pingsan setelah 
melihat Teguh meninggal.

--------------------0-----------------

//
/Wassalaam,/
*/Bu_d_i-pc/*

------------------------------------------------------------------------


Kirim email ke