Non-Muslim Dibebani Pajak Biayai Umat Syariah Yang Bebas Pajak !
                                                  
Bayanginlah 85% pembayar pajak adalah non-pribumi dan non-Islam,
sedangkan sisanya 13% berasal dari perusahaan2 besar Amerika, Jepang
dan Eropah.  Hanya 2% saja uang pajak yang berasal pribumi Islam
dimana termasuk disini adalah Bakri Brother, Keluarga Cendana dll.

Bahkan katanya naik haji itu hanya syah bagi yang mampu, tapi
kenyataannya meskipun jemaah haji adalah orang2 yang ekonominya mampu
tapi semua jemaah haji dibebaskan dari segala bentuk pajak atas
keputusan menteri agama nomor sekian.....!

Tanyakanlah kepada Habib Rizieq, kapan dia pernah bayar pajak.
Tanyakanlah kepaa Guz Dur, kapan dia pernah bayar pajak.
Tanyakan kepada Aa Gym kapan dia pernah bayar pajak.
Berdasarkan UU negara semua yayasan Islam dibebaskan dari pajak
sehingga setiap imam mesjid, setiap uztad, setiap kiayai kesemuanya
membuka usaha bisnisnya dibawah nama yayasan seperti juga keluarga
cendana semua bisnisnya menggunakan nama yayasan yang bebas pajak.

Perusahaan2 raksasa milik keluarga Cendana yang bayar pajak hanyalah
sebatas perusahaan2 saham bersama dengan investor asing.


> Jusfiq Hadjar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Ada sebuah hal yang tidak disadari menyalahi
> sekularisme: pendidikan agama yang
> diselenggarakan  dan dibiayi oleh negara.
> Agama adalah urusan pribadi  warganegara
> dan negara nggak ada urusan untuk ikut campur.
> Diselenggarakannnya dan dibiayainya pendidikan
> agama oleh negara itu bertentangan dengan
> sekularisme. Negara kudu berhenti mengurus dan
> membiayai IAIN..
> ---------------
>

Hal inilah sumber utama kehancuran negara RI ini, membiayai sebuah
proyek agama Islam yang begitu mahal tetapi tidak pernah ada payback 
balik yang bisa menjadi pemasukan kepada kas negara !!!

Bayanginlah 85% pembayar pajak adalah non-pribumi dan non-Islam,
sedangkan sisanya 13% berasal dari perusahaan2 besar Amerika, Jepang
dan Eropah.  Hanya 2% saja uang pajak yang berasal pribumi Islam
dimana termasuk disini adalah Bakri Brother, Keluarga Cendana dll.

Bagaimana mungkin kondisi seperti ini bisa mampu memutar roda
pemerintahan tanpa ditunjang oleh bantuan luar negeri ???

Hal seperti ini juga menghancurkan dunia pendidikan yang ternyata 75%
guru2 yang diangkat jadi pegawai negeri adalah guru agama Islam,
akibatnya hasil kemampuan murid sangat rendah tetapi biaya negara yang
dikeluarkan sangat besar.  Agama Islam menjadi mata pelajaran wajib
dalam setiap pendidikan disekolah negeri dan swasta dimana hal ini
merupakan pemborosan yang sama sekali tidak menghasilkan apapun yang
bisa menunjang kebutuhan pegawai dari para investor asing.

Keadaan ini makin lama makin parah, karena jumlah IAIN lebih banyak
daripada Universitas, setiap tahun lulus sarjana2 IAIN baru sebanyak
puluhan ribu tanpa penampungan tempat kerja yang sesuai dengan
kemampuan jurusannya.

Celakanya, lulusan IAIN ini meskipun bergelar doktor sekalipun tidak
laku untuk bekerja sebagai tenaga pengajar disemua negara2 Islam
seperti di Arab Saudia, Kuwait, Iran dll karena ajaran Islamnya
dianggap menyeleweng bukan akidah Islam yang aseli.  Apakah enggak
keblinger tuh kita memproduksi doktor2 lulusan IAIN ber-juta2 tanpa
bisa dipekerjakan bukan saja oleh pemerintah juga oleh institusi2
Islam yang ada didunia ini.  Hingga saat ini, Indonesia memiliki
jutaan doktor lulusan IAIN yang pengangguran yang setiap harinya
berdemonstrasi meminta pemerintah mengangkat mereka menjadi tenaga
guru tetap sebagai pegawai negeri.

Lebih celaka lagi, ternyata lulusan doktor2 IAIN ini tak satupun mampu
menonjol menjadi pemimpin Islam di Indonesia, kenyataannya semua
pemimpin2 Islam di Indonesia yang menononjol justru tidak punya gelar
apapun selain cukup bergelar Habib, Kiayi, Buya, dan Uztad yang
kesemuanya ini tidak perlu sekolah cukup diwariskan secara turun
temurun.  Contohnya Habib Rizieq, Buya Sobri Lubis, Uztad AA Gym, dan
juga kiyai2 langitan gelap.

Mau kemana negara kita ini dibawa ???  Dinegara manapun diseluruh
dunia bisa eksist dari pajak rakyat yang ditariknya, sedangkan di
Indonesia yang mayoritas Islam tidak bayar pajak, bahkan kiyai Puji
yang baru saja menikahi gadis cilik, ternyata juga tidak bayar pajak
padahal beliau katanya mau mendidik kepada isteri mudanya untuk
mengelola usahanya nanti diwariskan setelah kiyai puji ini sudah tua.
 Katanya akan dilatih menjadi usahawan yang jempolan yaitu jempolan
menggelapkan pajak, dan sama sekali tidak perlu bayar pajak.

Mana pernah ada orang kaya diseluruh dunia bisa berbuat seperti kiyai
puji yang mereklamekan dirinya kawin dengan anak dibawah umur disertai
menyumbang rakyat sebesar katanya hingga 1 milyard rupiah tanpa
dibuktikan pembayaran pajaknya bahkan tidak dikejar petugas pajak dan
tetap merasa aman dari tagihan pajak.

Bandingkan dengan si Aseng Kho keturunan Cina yang ulet yang cuma
jualan mainan anak2 made in China di kaki lima yang setiap harisnya
sibuk dikejar pajak, mulai dari pajak jalanan, pajak jawara, pajak
DKI, pajak penjualan, pajak penghasilan, bahkan diwaktu lebaran tetap
dipaksa membayar zakat meskipun dia bukan beragama Islam dan tetap
menyembah Toapekongnya dirumah yang katanya membawa banyak rezeki. 
Padahal orang2 seperti si Aseng inilah sokoguru yang membiayai negara
RI untuk tetap berputarnya roda pemerintahan.  Orang2 seperti si Aseng
inilah yang dibebankan untuk membayar ongkos guru2 agama Islam
meskipun si Aseng enggak pernah percaya Allah.  Orang2 seperti si
Aseng inilah yang membiayai pembangunan mesjid maupun yang menanggung
beban gaji pegawai2 departement Agama.

Betul, dunia Islam di Indonesia juga menghasilkan milyardan rupiah
dari ONH, namun uang ini tidak masuk pembukuan pemasukan negara.  Juga
MUI menghasilkan ratusan milyard rupiah hingga triliunan rupiah dari
stiker halal semua pabrik makanan dan semua pabrik2 yang bukan
manakan.  Tapi kesemuanya ini bukan menjadi uang pemasukan negara
melainkan di-bagi2kan kepada semua pejabat2 negara sebagai bonus yang
pada waktunya bisa berubah menjadi tuduhan penggelapan uang negara
yang akhirnya dituduh korupsi hingga dipenjara sebagai koruptor
seperti yang dialami oleh bekas menteri agama yang lalu.

Mengerikan, benar2 mengerikan kondisi negara ini.  Rakyat tetap
tertindas, umat agama2 minoritas sudah diperas malah kepercayaan
merekapun diganggu gugat agar bisa masuk Islam sehingga menambah
jumlah sumbangan yang sudah tak terukur ini.

Kalo saja rakyat RI ini membayar pajak seperti di Amerika, saya jamin
bahwa setiap penganggur tak perlu kuatir lagi karena negara mampu
menjamin kehidupan penganggur, menjamin orang2 tua, orang2 jompo,
orang2 cacat dan juga menjamin sekolah gratis dari sd hingga sarjana
muda.  Kalo dibandingkan dengan jumlah penduduknya, maka Amerika yang
berjumlah 270 juta jiwa dibandingkan dengan Indonesia yang berjumlah
230 juta jiwa, maka semua yang saya katakan diatas akan memastikan
bahwa Indonesia akan menjadi negara makmur yang sama seperti Amerika
asal dikelola dengan benar, adil dan tidak melakukan diskriminasi
agama dimana muslim dibebaskan pajak sedangkan non-muslimnya dibebani
pajak hingga tak bisa maju, yaitu kedua-duanya jadi tidak bisa maju. 
Kalo yang non-muslim tidak bisa maju karena dibebani pajak yang
terlalu besar, sebaliknya yang muslim juga tidak bisa maju karena
pemborosan biaya tetek bengek keimanannya sehingga tidak bisa
memanfaatkan untuk aktivitas2 yang produktiv.

Ny. Muslim binti Muskitawati.












Kirim email ke