Jawa Pos

 

[ Jum'at, 05 Desember 2008 ] 

Gerebek Panti Pijat Gay, Polisi Nyamar sebagai Hombre 

JAKARTA - Jajaran Polres Metro (Polrestro) Jakarta Barat menggerebek panti 
pijat khusus gay di Tambora pada Rabu malam lalu (3/12). Dalam penggerebekan 
tersebut, polisi menangkap pengelola panti pijat yang merangkap sebagai germo 
dan 20 laki-laki pemijat.

Polisi juga menyita beberapa barang bukti, antara lain aneka macam kondom, pil 
kuat, buku tamu, foto-foto pemijat, dan celana dalam. Hasil pemeriksaan 
sementara menunjukkan, polisi langsung menetapkan Candra Manulang, pengelola 
panti pijat tadi, sebagai tersangka. Sejak penggerebekan itu, panti pijat 
tersebut langsung disegel. 

Kasatreskrim Polrestro Jakarta Barat Komisaris Sujudi Aryo Seto mengatakan, 
pengungkapan kasus itu bermula dari informasi masyarakat. Guna memastikan 
kebenaran informasi tersebut, Yudi -panggilan akrab Sujudi- memerintah salah 
seorang anggota resmob untuk menyamar sebagai gay. 

"Anggota saya yang transaksi. Setelah bayar di kasir, pilih satu orang, lalu 
masuk kamar sampai sama-sama buka baju. Saat itu anggota saya juga sempat foto 
bareng," ungkap mantan Kasatreskrim Polrestro Tangerang tersebut. 

Setelah memastikan, barulah anggota yang menyamar itu menghubungi timnya yang 
bersiaga di luar. Rumah kontrakan yang memiliki tiga kamar tersebut seketika 
digerebek petugas yang berjumlah 18 orang. 

Seluruh penghuni di dalam rumah itu digelandang ke Mapolrestro Jakarta Barat. 
"Seumur-umur gue jadi polisi, baru kali ini menangkap hombreng (homoseks, 
Red)," seloroh Yudi. 

Menurut dia, selain Candra, tidak ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Para 
pria pemijat itu dianggap sebagai korban. "Kami akan mengirim mereka ke panti 
sosial, biar dibina," ucap Yudi. 

Salah seorang pemijat, Radit Aditya, mengaku dua tahun bekerja di tempat yang 
dikelola Candra tersebut. Awalnya, dia memasukkan lamaran kerja sesuai dengan 
iklan lowongan di salah satu koran kuning ibu kota. "Semula saya tidak tahu 
kalau tempat begituan," jelas pria asal Pasar Turi, Surabaya, itu. 

Begitu diterima, Radit di-training pijat relaksasi. Radit berdalih baru tahu 
setelah training karena langsung melayani hasrat seksual seorang pelanggan pria 
gay. "Awalnya sih ingin keluar. Karena faktor ekonomi, saya bertahan," kilah 
Radit. 

Dia menyatakan menerima bayaran setiap melayani pelanggan. Dari germo, dia 
diupah Rp 50 ribu tiap jam. Rata-rata pelanggannya menggunakan jasanya hanya 
satu jam. Kadang-kadang dia mendapatkan penghasilan tambahan dari uang tip 
pemberian pelanggannya. 

Dalam sebulan, Radit mengaku mengantongi uang rata-rata Rp 500 ribu. Dalam 
sehari, dia rata-rata melayani dua hingga empat pelanggan. Beberapa di 
antaranya merupakan pelanggan tetap. (dni/jpnn/ruk

<<39181large.jpg>>

Kirim email ke