Refleksi:  Bagi yang berhak memilih,  saya kira pilihan terbaik adalah  HB X,  
jangan pilih yang lain, karena sudah terbukti hasil kerja mereka sama dengan 
nol selain  hanya untuk kepentingan pribadi dan konco-konco terdekat mereka.

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=2069


2009: SBY-JK Vs Mega-HB X?


Christianto Wibisono



Pada hari Kamis (4/12), mantan cawapres 2004 Gus Solah, alias Salahuddin Wahid 
didampingi Nathan Setiabudi, menggelar jumpa pers di Gedung Joang 45, Jakarta, 
memperkenalkan konvensi capres Dewan Integritas Bangsa (DIB). Hadir pada acara 
itu capres Sri Sultan Hamengkubuwono X, Fadel Muhammad, Rizal Ramli, Marwah 
Daud Ibrahim, Yuddi Chrisnandy, dan Taufikurahman Ruki. Belakangan Ruki mundur 
dan diganti oleh putra Bung Tomo, Bambang Sulistomo yang mengundurkan diri dari 
Tim 45 DIB. Gagasan DIB ini merupakan respons masyarakat terhadap fenomena 
golput yang telah sering diwacanakan. Reaksi parpol bervariasi, mulai dari 
dukungan sampai peringatan bahwa konvensi DIB tidak berdampak apa pun karena 
capres hanya bisa diajukan oleh parpol. 

Tapi sebenarnya, di balik formalisme yang dilontarkan dalam polemik, sedang 
terjadi pendekatan ke arah transaksi politik di antara para tim sukses, yang 
tentu saja mempergunakan buku Sun Tzu, Machiavelli, dan Sorensen, serta 
mendalami riwayat Brutus dan Ken Arok. Jika Megawati rela menjadi wapres, maka 
duet Hamengkubuwono X - Megawati akan menjadi pasangan alternatif yang kuat dan 
bisa mengalahkan duet incumbent SBY-JK. Tetapi duet ini sulit disusun sekarang 
karena secara psikologis Megawati masih merasa mempunyai mandat PDIP, sedang 
Sultan adalah pendatang baru dari luar PDIP. Sultan sendiri sudah all out hanya 
mau jadi capres dan bukan cawapres. Bagaimana kalau duetnya adalah Mega-HB X? 
Apakah akan sekuat HB X-Mega? Tentu akan berbeda kualitasnya, bila duet ini 
dibolak-balik, ada nuansa kualitatif yang pasti mempengaruhi elektabilitas duet 
HB X-Mega dibanding duet Mega-HB X.

Mungkinkah JK melamar Sultan dengan duet JK- HB X? Jarang orang membuat 
skenario duet ini sebab, tidak bakal laku jika orang Bugis menjadi raja sedang 
raja Jawa hanya menjadi wakil. Bagaimana kalau di balik, JK bersedia jadi wakil 
seperti Hillary bersedia jadi Menlunya Obama, walaupun secara struktural lebih 
senior. JK adalah ketua umum dan incumbent wapres, jika Sultan menang lewat 
Golkar, maka itu mirip Obama mengalahkan Hillary. 

Skenario status quo duet incumbent SBY-JK dinilai tetap paling strategis dan 
aman bagi kedua tokoh. Kalau mereka bersatu padu, maka relatif dianggap 
"terbaik" ketimbang pasangan baru yang mesti diuji coba lagi di tengah krismon 
global yang mengancam kita. Sebenarnya, paling aman bila duet ini 
memproklamasikan koalisi permanen Golkar Demokrat. SBY sebagai pemimpin 
koalisi, serta JK sebagai "campaign manager". Tapi barangkali juga ada 
pertimbangan ketidakpopuleran kebijakan sekitar Lapindo dan citra Bakrie yang 
penuh konotasi money politics bisa membuat duet ini kurang laku. Karena itu, 
harus ada pemurnian dan penjauhan SBY dari keracunan "malfungsi Lapindo". 
Suksesnya SBY melampaui krismon global yang diperkirakan baru akan teratasi 18 
bulan mendatang, memang menjadi kartu taruhan oleh pesaing capres yang bisa 
mengeksploitasi dampak krismon sebagai nilai negatif bagi incumbent. 

Tampaknya, para capres kurang begitu antusias berbicara tentang krismon, karena 
sadar bahwa tantangan akan berat sekali sehingga lebih baik membiarkan SBY 
memikul beban itu dan menarik manfaat bila "gagal". Sebab, sadar kalau mereka 
menjadi presiden juga harus memikul beban berat tantangan krismon itu yang 
tidak gampang atau ringan.

Capres lain yang memikul beban bagasi politik pelanggaran HAM Orde Baru 
tampaknya tidak akan berpeluang besar dalam pilpres 2009 di tengah krismon 
global dan opini publik terhadap para diktator pelanggar HAM yang semakin 
mengkristal.

Christian Amanpour menyajikan dokumentasi film CNN tentang genoside di Nazi 
Jerman, Pol Pot Kamboja, Irak Saddam, Rwanda, Bosnia, Darfur, dan mewawancarai 
tokoh seperti Richard Holbrooke, mantan Dubes AS di PBB, Presiden Rwanda Paul 
Kagame, dan pegiat pengekspos Darfur. Hari Sabtu, pemenang hadiah Nobel, Uskup 
Desmond Tutu menyerukan Robert Mugabe untuk mundur dari jabatan Presiden 
Zimbabwe atau akan diseret ke Mahkamah Internasional di The Hague karena 
kejahatan terhadap kemanusiaan, kelaparan, dan pembunuhan oposisi di Zimbabwe. 
Menlu AS Condoleeza Rice mondar-mandir Islamabad-New Delhi untuk mencegah 
serangan balasan India atas teror Mumbai terhadap Pakistan. Presiden Pakistan 
Zardari menyatakan bahwa teroris yang berasal dari Pakistan adalah rogue non 
state actor, pelaku bukan negara, tapi oknum. Zardari menekankan bahwa 
istrinya, Benazir adalah juga korban teroris, dan hari Sabtu (6/12), sebuah 
mesjid di Peshawar (Pakistan) dibom.

Indonesia belum sepenuhnya steril dari bom waktu konflik SARA, dan bagasi 
politik otoritarian Orde Baru masih akan membebani figur capres masa lalu. 
Bahkan polemik pro dan kontra pemasangan gambar Soeharto oleh PKS bisa 
mengurangi suara PKS karena dianggap mengejar akses dana ke Cendana.

Dua hari setelah acara DIB, polemik tentang efektivitas wadah dan gebrakan DIB 
merebak. Dalam drama musikal Sujiwo Tejo, "Pengakuan Rahwana", Sabtu malam 
(6/12), artis menyanyikan lagu pemilu ditutup dengan bait Mari Kita Memilih 
Barack Obama. Dunia memang terpesona oleh terobosan Obama yang mengukuhkan AS 
sebagai global state pertama sedunia. Tokoh minoritas yang didukung pendapat 
umum sedunia, menjadi the best untuk memimpin AS berdasar meritokrasi.

Apakah DIB bisa menjadi mesin pengorbit "Obama Indonesia"? Apakah DIB akan bisa 
berperanan menggerakkan golput memilih Sultan atau capres alternatif 2009? 
Dapatkah DIB mengumpulkan suara langsung dari rakyat pemilih mulai sekarang 
sampai 5 April? Dalam 4 bulan atau 120 hari, voters boleh langsung mengajukan 
capres alternatif melalui email ke website. Misalnya, sehari ada 100.000 suara 
pemilih, maka tanggal 5 April DIB bisa menyatakan bahwa 12 juta pemilih 
mendukung capres Sultan atau alternatif lain. Dengan dukungan itu, maka parpol 
yang mengusung capres melalui internet voting harus memenangkan paling sedikit 
15 juta suara dari mesin konvensi DIB yang harus sekualitas dengan mesin 
kampanye Obama. Suatu kampanye yang mengutamakan substansi kapabilitas dan 
profil kenegarawanan sang capres dalam menghadapi krismon global. Kepada capres 
lain, terobosan konvensi DIB bisa menjadi cermin, serta alarm agar tidak 
mengabaikan golongan putih, yang sudah muak dan jenuh dengan oligarki parpol. 
Kalau golput bergabung, oligarki parpol harus mawas diri bila tidak ingin 
dilanda tsunami voters. Final segiempat SBY-JK, Mega-HB X bakal menarik mirip 
final sepakbola Piala Dunia. 


Penulis adalah pengamat masalah nasional dan internasional

Kirim email ke