----- Original Message ----- 
From: Wilson Lalengke 
To: pemberitaan DPD-RI 
Cc: sekretariat pah3 
Sent: Thursday, December 04, 2008 8:38 AM
Subject: [dpr-indonesia] PRESS RELEASE DPD-RI: Kondisi Jemaah Haji di Mekkah 
Memprihatinkan


      Jakarta, 4 Desember 2008 

       

      DPD RI: Kondisi Jemaah Haji di Mekkah Memprihatinkan 

       

      Sebagian jemaah haji asal Indonesia tahun 2008 ini mengalami masalah yang 
memprihatinkan utamanya terkait dengan lokasi pemondokan, pelayanan 
transportasi, koordinasi dan bimbingan beribadah, serta pemenuhan kebutuhan 
konsumsi. Fakta lapangan tersebut menjadi salah satu temuan Tim Pengawasan 
Penyelenggaraan Haji DPD RI di Tanah Suci, ketika meninjau beberapa lokasi 
pemukiman (makhtab) dengan menemui langsung sejumlah jemaah haji dari berbagai 
daerah termasuk di dalamnya dengan pihak panitia di daerah kerja (daker 
Mekkah). 

       

      Tim Pengawas dari DPD RI tahun ini dipimpin oleh Wakil Ketua DPD RI, 
Laode Ida dengan anggota-anggota Sumardi Taher (Wakil Ketua PAH III/Riau), Ir. 
Nur Adriani (Kaltim), KH. Nurudin A. Rahman (Jatim), Hamdhani (Kalteng), dan 
Amir Adam (Gorontalo), didampingi oleh Wakil Sekretaris Jenderal DPD RI, Jamhur 
Hidayat dan Staf PAH III DPD RI, Kukuh Zaldhy. Tim ini melakukan tugasnya sejak 
keberangkatan hingga kepulangan ke tanah air, dengan fokus pada pelayanan 
jemaah selama berada di Tanah Suci. 

       

      Sejumlah masalah itu dapat digambarkan antara lain sbb: 

      1.      Lokasi pemondokan: jarak antara loaksi pemondokan dengan Masjidil 
Haram berada di kisaran di atas 10 km (jauh di luar ring), sehingga menyulitkan 
untuk menunaikan ibadah shalat di Masjidil Haram. Ini dialami oleh para jamaah 
yang ditempartkan di daerah Sauqiyah (14-16 km dari Masjidil Haram) dan Sittin 
(10-12 km dari Masjidil Haram). Hal ini sangat disayangkan oleh para jamaah, 
karena tidak sesuai dengan harapan dan niat mereka untuk selalu sholat di 
masjid yang penuh berkah itu. Kondisi lokasi yang jauh ini baru pertama kali 
terjadi, yang menjadikan para jemaah merasa kecewa. Kendati begitu, kondisi 
perumahan yang ditempati di lokasi yang jauh itu dianggap sudah memadai, karena 
memang bangunannya masih sangtat baru, bahkan masih ada yang masih dalam taraf 
penyempurnaan. 

       

      2.      Sarana transporatsi yang disediakan sama sekali tidak memadai, 
karena sangat terbatas, sehingga berjubel dan bahkan ada seorang yang meninggal 
(kasus jamaah asal propinsi Riau) disebabkan ketidak layakan sarana 
transportasi itu. Bahkan jamaah yang bermukim di pemondokan No. 545 (asal 
Kalimantan Tengah), belum pernah sama sekali memperoleh pelayanan transportasi 
dari Panitia Haji untuk menunaikan shalat di Masjidil Haram. Maka untuk 
memenuhi hasrat beribadah di Masjidil Haram, sebagian jamaah terpaksa harus 
menyewa taksi dengan biaya sendiri. Apalagi mulai kemarin (3/12) seluruh 
pelayanan transportasi bus dihentikan oleh panitia haji dengan alasan untuk 
mempersiapkan pelaksaan wukuf di Arafah. 

       

      3.      Koordinasi dan bimbingan beribadah. Terdapat sejumlah rombangan 
yang mengalami masalah ketiadaan koordinasi dan bimbingan beribadah, utamanya 
dalam melaksanakan tawaf di Kabah dan sya’i di bukti Shafa dan bukit Marwah, 
sehingga sedikit mengganjal perasaan terkait dengan derajat keafdlolan ibadah 
haji secara keseluruhan. Ada rombongan jamaah yang pimpinan kloternya justru 
belum pernah menunaikan ibadah haji sehingga sangat tidak familier dengan 
pengelolaan jemaah di tanah suci. Ada rombongan sama sekali tidak memperoleh 
tuntunan dalam menjalankan tawaf dan sya’i, padahal para anggota rombongan itu 
umumnya berasal dari pedalaman yang baru pertama kali menunaikan ibadah haji. 
Kita semua bisa membayangkan bagaimana cara sebagian jamaah itu berada di 
tengah kerumunan puluhan bahkan ratusan juta manusia dengan tingkat kerumitan 
menemukan lokasi ibadah. 

       

      4.      Pemenuhan kebutuhan konsumsi. Sebagian lokasi di lokasi yang jauh 
dan baru itu mengalami kesulitan untuk konsumsi mereka. Ini terutama disebabkan 
oleh dua hal: (1) tidak diizinkannya memasak sendiri di tempat pemukiman, 
sebagai konsekwensi dari aturan yang diberlakukan oleh utamanya pihak pemilik 
rumah, dan (2) ketiadaan restoran yang menyiapkan bahan makanan di lokasi itu – 
maklum karena lokasinya masih sangat baru. Sebenarnya, memang, pihak panitia 
sudah menyediakan konsumsi, tetapi tidak selalu sesuai dengan selera mereka. 

       

      Kondisi lapangan seperti itu sebenarnya jauh berbeda dengan penjelasan 
pihak panitia di Tanah Suci yang disampaikan langsung kepada Tim DPD RI. 
Makanya, pihak DPD RI meminta penjelasan dan memberikan saran langsung kepada 
pihak panitia melalui Ketua Panitia Penyelenggara di Tanah Suci, Nursamat Kamba 
(dari Depag). Namun, Nursamat Kamba menyatakan bahwa soal lokasi pemukiman itu 
sudah disepakati bersama DPR RI. 

       

      Soal pelayanan transportasi sebenarnya, menurut pihak panitia, sudah 
disiapkan sebanyak 600 unit bus, ditambah dengan puluhan lainnya sesuai dengan 
keperluan. Tetapi kenyataan di lapangan yang beroperasi di lokasi pemukiman 
yang jauh itu paling banyak sekitar 30-an bus. 

       

       

      Mekkah, 4 Desember 2008. 

       

      Kukuh Zaldhy 

      Kesub Rapat PAH III DPD RI 

       

      Nomor Kontak Tim DPD RI di Mekkah: 

      Laode Ida: +966-534898580; 

      Sumardi Taher: +966-534898624;p 

      KH. Nurudin A. Rahman: +966-534898578; 

      Nur Andriani: +966-534754690. 

       

      Siaran pers ini dikeluarkan secara resmi oleh 

      Bagian Hubungan Antar-Lembaga dan Pemberitaan Sekretariat Jenderal DPD 

       

      Penanggungjawab: 

      A Djunaedi

      my personal room at http://saintlover.blogsome.com
       
     



 

Kirim email ke