Harusnya milis ini bikin kebijakan sumber Hidayatullah tidak layak dijadikan 
referensi kecuali buat dijadikan joke. hehehehe


From: eka zulkarnain 
Sent: Wednesday, December 10, 2008 3:15 PM
To: zamanku@yahoogroups.com 
Subject: Re: [zamanku] Pelaku "Kondomisasi" Dikategorikan "Pembohong Agama"


      Pisau selain untuk motong rumput, bawang sama daun seledri juga bisa 
dipakai buat bunuh orang? Lantas apakah pemakaian pisau juga harus dilarang? 
dan termasuk pembohongan agama....weleh-weleh iki logikanya piye tho....


      Eka Zulkarnain


      --- On Tue, 12/9/08, Sunny <am...@tele2.se> wrote:

        From: Sunny <am...@tele2.se>
        Subject: [zamanku] Pelaku "Kondomisasi" Dikategorikan "Pembohong Agama"
        To: undisclosed-recipi...@yahoo.com
        Date: Tuesday, December 9, 2008, 8:01 PM



        Refleksi: Kalau orang tidak mau mempunyai anak banyak tentunya  kondom  
salah satu  alat praktis. Orang kalau mau berzinah apakah perlu kondom?  Tanpa 
kondom orang berzina,  tak perlu adanya protitusi. Masalahnya ialah tuntutan 
bilogis  berkat Illahi atau kasarnya  ngaceng dengan suka sama suka, bukankah 
begitu? Ada pendapat lain?

        http://www.hidayatu llah.com/ index.php? option=com_ 
content&view=article&id=8108:pelaku- kondomisasi- dikategorikan- qpembohong- 
agamaq-&catid=87:kajian&Itemid=71

              Pelaku “Kondomisasi” Dikategorikan "Pembohong Agama"        
              Sunday, 07 December 2008 14:23 
             
              Menurut hukum Islam, kampanye “kondomisasi” hukumnya sama dengan 
memfasilitasi orang berbuat zina. Tergolong fitnah fiiddin dan dosa besar



              Hidayatullah. com--Penyebaran virus HIV/AIDS sudah sangat massif. 
Oleh karena itu, pembagian kondom secara gratis merupakan solusi terakhir dan 
cara paling aman untuk mencegah menjalarnya penyakit mematikan ini.   

              Namun, apakah betul demikian? Pembagian ribuan kondom gratis  
atau kondomisasi dapat mencegah penyebaran HIV/AIDS?. Alih-alih mencegah, malah 
menyuburkan free sex. Masyarakat setidaknya digiring untuk membolehkan seks 
bebas  asal pakai kondom.  

              Nampaknya cara berfikir seperti ini ditolak mentah-mentah oleh 
kalangan ahli Fikih (Hukum Islam). Prof. Dr. Chuzaimah Tahido Yanggo 
mengatakan, pembagian kondom sama halnya menyuruh orang berzina. Menurutnya, 
pembagi kondom tersebut sama artinya menfasilitasi orang untuk berzina. 

              “Walaupun pembagi tersebut tidak berzina, namun perbuatannya itu 
hukumnya tetap haram dan berdosa,” katanya.

              Menurut Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini,  
berdasarkan (QS. al-Mai'dah: 2), yang buntinya,  “Dan tolong-menolonglah kamu 
dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam 
berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya 
Allah amat berat siksa-Nya.”

              Bagi Chuzaimah, membagikan kondom termasuk menolong orang untuk 
bermaksiat. Dengan adanya kondomisasi orang dengan leluasa akan berzina. 
Padahal mendekati zina saja dilarang, apalagi berzina. Sebagaimana dalam QS, 
Al-Israa: 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu 
adalah faahisah (perbuatan yang keji) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh 
oleh seseorang.”

              Bagi Chuzaimah, para ulama menjelaskan bahwa firman Allah 
Subhanahu wa Ta'ala yang disebutkan itu tak ada perselisihan.  “Janganlah 
mendekati zina”, maknanya lebih dalam dari perkataan: “Janganlah kamu berzina” 
itu sendiri.  Tafsirnya dapat dijelaskan jJanganlah mendekati yang berhubungan 
dengan zina,  membawa kepada zina, apalagi sampai berbuat zina. 

              “Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa zina termasuk 
Al-Kabaa'ir (dosa-dosa besar) berdasarkan ayat di atas dan sabda Nabi yang 
mulia Shallallahu 'alaihi wa sallam,” ujarnya. 

              Selanjutnya, Chuzaimah menyebut betapa ruginya orang berbuat 
zina. “Karena kerasnya larangan tersebut, wajar jika pezina ditimpa virus 
HIV/AIDS, dan itu masih siksa di dunia, belum di nereka,”  tambahnya. 

              Fitnah Fiiddin 

              Senada dengan  Chuzaimah, Ketua MUI Jatim, Abdul Shomad juga 
mengatakan, pembagian kondom adalah langkah praktis yang meniru-niru Barat. 
Padahal, bila mau menimbang mafasadah-nya lebih banyak daripada maslahah-nya. 
Dan pembagian kondom tersebut tidak lain hanya untuk menyuburkan praktek 
perzinahan.

              Dua pernyataan di atas dikuatkan, Abdul Kholik Lc. Pengasuh 
konsultasi Fikih di situs www.hidayatullah. com. Menurut Dosen STAIL 
Hidayatullah Surabaya ini, kondomisasi merupakan tindakan melindungi perilaku 
penyimpangan atau perzinahan. 

              “Jangan karena alasan AIDS susah diberantas, lalu pembagian 
kondom dilakukan,” katanya. Lebih dari itu, menurutnya, pembagian kondom 
merupakan bentuk pembodohan dan pembohongan kepada masyarakat. Mereka ingin 
mendistorsi (memutarbalikkan) fakta bahwa 'zina itu haram' asal dengan 
pendekatan seks aman (safe sex) atau memakai kondom.

              Kholik, mengatakan bahwa pelaku kondomisasi termasuk dalam 
kategori  fitnah fiddin atau pembohongan terhadap agama. Karena mencoba 
menghalalkan perzinahan dengan dalih kondom. Sebetulnya, mereka ingin free sex 
tetap tumbuh subur. Tindakan pembagian kondom tersebut, termasuk dalam kategori 
haram serta berdosa.

              Hal ini menurut Kholik sesuai dengan QS. An-Nur,19, yaitu: 
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu 
tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di 
dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak Mengetahui.”

              Menurut Kholik, ada dua kesalahan yang sering dilakukan oleh 
pemerintah dan para pegiat HIV/AIDS adalah memberantas virus tersebut bukan 
dari akarnya. Seperti kondom, bila mau mengukur sejauhmana efektifitas kondom 
dalam menekan laju penyebaran HIV/AIDS justru lebih banyak mafsadah 
(kerusakannya) ketimbang manfaatnya. 

              “Tidak ada ceritanya dengan menggunakan kondom, lalu free sex 
akan berkuranng,” katanya.

              Kedua, faktor lokalisasi. Tidak dimungkiri, adanya lokalisasi 
atau prostitusi legal di sejumlah tempat yang jumlahnya kini kian meningkat 
tidak membuat free sex berkurang dan ataupun terpusat dalam satu tempat. Justru 
pelakunya makin canggih dan memanfaatkan dunia maya (internet). Hal ini, 
menurutnya karena faktor legalitas lokalisasi oleh pemerintah.

              Oleh karena  solusi satu-satunya dalam memberangus virus HIV/AIDS 
yaitu dengan cara memberantas akarnya. Yakni pemerintah harus berusaha 
membubarkan tempat prostitusi dan menstop pembagian kondom. 

              Penolakan hukum Islam akan memberangus mata pencaharian, menurut 
Kholik adalah alasan yang tidak masuk akal. Sebab, diberlakukanya syariah tidak 
akan membawa mafsadah (kerusakan) justru maslahah (kebaikan). 

              Pendapat ini juga diamini KH. Abdul Shomad. Menurut Shomad, 
seharusnya pemerintah jangan takut membuat kebijakan untuk membubarkan tempat 
prostitusi karena faktor kehidupan. Hal itu, menurutnya bukan persoalan 
mendasar karena pekerjaan bagi orang beriman itu masih banyak yang halal, 
tinggal mau berusaha. Dan situlah juga dituntut peran pemerintah dalam 
melakukan pemberdayaan. 

              Nah, pada intinya, semua ahli Fikih ini berpendapat, langkah 
terbaik mencegah tumbuhnya HIV/AIDS ya menjauhkan diri dari perbuatan zina dan 
seks bebas tadi. Bukan menfasilitasinya. [anshar/cha/www.hidayatullah. com
             
     



 

Kirim email ke