Sudah Tiba Waktunya Menghargai Jasa2 Suharto ??!!
                                          
Kalo kita membandingkan situasi negara pasca-Suharto dengan keadaan
pra-Suharto, tak ada yang bisa memungkiri bahwa KORUPSI MAKIN MELUAS
DAN MERAJALELA.

Pra-Suharto termasuk zaman Bung Karno, korupsi itu terlokalisir hanya
pada keluarga penguasa dan penguasanya itu sendiri.

Pada Pasca-Suharto, korupsi itu sudah tidak lagi terlokalisir
melainkan menyebar kesegala penjuru dari penguasa tertinggi hingga
pegawai ter-rendah bahkan meluas ke-pedagang2 yang bukan pegawai
tetapi bermanfaat bekerja sama dengan penguasa dalam menciptakan
bukti2 kwitansi palsu yang nilainya dilipat gandakan untuk menguras
keuangan negara.  Pasca-Suharto ini ditandai dengan korupsi yang sudah
tidak dianggap lagi sebagai korupsi seperti contohnya ada Direktur
Bank Indonesia yang mem-bagi2kan uang negara kepada semua anggauta2
MPR dan DPR ditambah lagi menanggung biaya tour ke Eropah, Amerika,
dan Asia.

Dizaman pra-Suharto, korupsi merupakan proyek keluarga dan kroni;
tetapi dizaman pasca-Suharto, korupsi sudah merupakan institusi resmi
seperti MUI yang secara resmi memungut pungli untuk stiker halal. 
Padahal berdasarkan agama Islam, makanan halal itu adalah makanan yang
diproses secara Islamiah dan kandungannya juga sesuai dengan ketentuan
Islam yang setiap orang bisa membacanya di Quran tanpa harus
mendapatkan legitimasi UI agar bisa syah dianggap halal.  Malah Islam
melarang sesama umat Islam memeras sesama umat misalnya melalui stiker
halal ini menaikkan harga jual makanan yang tujuannya untuk disetorkan
kepada badan MUI ini.  Ini adalah bentuk pungli resmi, bentuk korupsi
yang dilegitimasikan sebagai institusi.  Padahal Arab Saudia yang
merupakan tanah suci tempat lahir dan mati sang nabi Muhammad sendiri
mengimport makanan dari Amerika, Eropah, dan Asia yang kesemuanya
dinyatakan halal setelah lolos pemeriksaan dengan membubuhkan juga
stiker halal yang sama sekali tidak membebankan sesen pun pabrik2
makanan tsb untuk membayar biaya stiker halal tsb.  Bayangkan saja,
pabrik2 makanan itu sendiri letaknya semuanya diluar Arab Saudia
seperti di Amerika, Eropah, dan Asia sehingga tak pernah pabrik2
makanan itu dikenakan biaya stiker dinegerinya maupun waktu dieksport
ke Arab Saudia.  Untuk menyatakan makanan itu halal, adalah tugas dari
petugas2 kesehatan Arab Saudia untuk memeriksanya dan menyatakannya
sebagai halal tanpa semua pabrik makanan ini mengetahuinya.  Waktu
memesan makanan itu pihak Arab Saudia cukup menetapkan syarat2
kandungan makanan yang boleh dijual di Arab Saudia, selebihnya
mengenai cara2 pembuatannya sama sekali bukan urusan tanggung jawab
Arab Saudia melainkan merupakan urusan negara dimana pabrik tsb
berdomisili.  Seperti pabrik2 makanan di Eropah, Amerika dan Asia
tidak ada mengharuskan cara2 pengolahan makanan secara Islamiah,
tetapi pengolahan itu harus dilakukan dengan standard kesehatan yang
berlaku dinegara tsb seperti di Amerika dilakukan oleh FDA.

Dizaman Bung Karno, korupsi-nya hanya terbatas lingkungan penguasa
sama seperti dizaman Suharto, bedanya dizaman Sukarno-negara Indonesia
mengalami embargo ekonomi yang ketat sehingga tak ada uang pinjaman
luar negeri yang bisa dikorupsi seperti dizaman Suharto.  Memang
Sukarno juga terkenal raja koruptor, tetapi dana yang dikorupsi
hanyalah seputar pampasan perang Jepang, bantuan Cina, dan bantuan
dari Russia.  Selebihnya pinjaman2 dari Amerika, Eropah dan negara2
Asia lainnya dikorupsinya dalam jumlah tidak melebihi dari $100 juta
yang disimpannya dalam account di Swiss dimana hanya Dr. Subandrio
saja yang bisa akses mengambilnya.  Namun dana korupsi besar2an
dizaman Sukarno ini akhirnya diambil Suharto dengan cara menukarnya
dengan hukuman mati Subandrio.  Subandrio akhirnya tidak jadi dihukum
mati tanpa resmi diumumkan oleh negara, dan dana ORLA yang berada
dalam kekuasaan Subandrio akhirnya diserahkan kepada Suharto sebagai
milik pribadi.

Memang Sukarno dan rezim-nya betul2 apes, bukan cuma harta koruptor
semua menteri2nya saja yang disita Suharto secara pribadi, bahkan
nyawa mereka pun tak ada satupun yang selamat, semuanya mati diracun
tanpa diumumkan dikoran.  Bahkan Suharto membentuk pasukan khusus
untuk memburu harta semua pengikut Sukarno, bukan cuma uang dollar dan
benda saja yang disitanya, bahkan juga jutaan hektar tanah berganti
pemilik menjadi atas nama keluarga dan kroni2nya.

Dalam sejarah per-korupsian, memang Suharto yang paling berhasil,
bukan saja berhasil menikmati dan mewariskan hasil korupsinya kepada
keturunan, kroni, dan kelompoknya saja, tetapi juga berhasil
membersihkan dirinya menjadi penguasa yang paling bersih dari korupsi.
 Semua bukti2 korupsinya bisa dimusnahkan dengan menciptakan kebakaran
disemua gedung2 yang menyimpan arsip2 bukti korupsi yang pernah
dilakukannya.  Belum pernah sepanjang sejarah dunia ini ada koruptor
yang se-akbar Suharto, bayangkan saja, anak2 Suharto masing2 berhak
mencetak uang negara, dan uang itu dinomorinya sendiri dan gubernur BI
yang diangkat keluarganya tinggal membubuhi tanda tangan saja agar
uang palsu ini menjadi syah tidak lagi dianggap palsu.  Bahkan didunia
Internasional, Suharto memerintahkan adiknya untuk menyebarkan surat2
saham palsu hingga di Wall Street.  Bursa Saham di New York,
Washington, Hongkong, Singapore, dan Tokyo dibanjiri dengan surat2
saham palsu yang dijual oleh Suharto melalui kroni2nya sehingga bisa
dibayangkan jumlah yang berhasil diraup oleh Suharto jauh melebihi
kekayaan yang dimiliki siapapun yang dianggap terkaya didunia ini.

Korupsi di pasca-Suharto boleh dinamakan sebagai zaman korupsi yang
paling Islamiah.  Karena pelaku2 koruptor ini bertindak seperti apa
yang dilakukan oleh nabi Muhammad dengan rampasan pedagang2 Yahudi.
Hasil korupsinya dibagi merata sesuai jasa masing2 pejabat dalam
membantu tegaknya Syariah Islam.  Hasilnya, semua pejabat dizaman
pasca Suharto ini korupsi dan meluas ke pegawai, pedagang2, bahkan
hingga ke tukang pijet presiden berhasil mengkorupsi dana simpanan
pegawai Bulog yang menimbulkan kemarahan pegawai2 itu sendiri.  Wajar
akhirnya Gus Dur terjerembab tersandung korupsi yang diperintahkan
melalui tukang pijetnya ini.  Bukan cuma Gus Dur dan tukang pijetnya
saja menikmati hasil korupsi, bahkan dokter2 rumah sakit juga
mengkorupsi dana rumah sakitnya sendiri.  Waktu pembantu keluarga
dokter sakit, maka sang pembantu dikirim ke rumah sakit, dirawat,
difoto rontgen, periksa lab darah, dan berbagai rumah sakit ditanggung
pemerintah karena sang pembantu menggunakan nama isteri dokter di
rumah sakit yang dibiayai dana pemerintah ini.

Pasca Suharto benar2 pesta korupsi besar2an bahkan satu2nya zaman yang
ditandai dengan korupsi yang betul2 Islamiah karena bukan cuma
koruptornya adalah penegak Syariah Islam tetapi juga kesempatan
korupsi dan hasil korupsi itu betul2 dibuka bagi umat Islam yang
berkeimanan tinggi.  Bahkan di-kampung2 para ulama mengajarkan umatnya
bagaimana caranya mencantolkan kabel listrik untuk mencuri listrik
PLN.  Dipinggiran kota2 besar, para ulama menyumbangkan pengetahuannya
dalam cara2 membocorkan pipa ledeng perusahaan air minum negara
sehingga jalanan tergenang menjadi oase seperti dizaman nabi Muhammad.
 Masyarakat diuntungkan oleh tindakan ulama ini karena bak air zamzam
lebih menyehatkan orang2 kecil di-kampung2 yang tidak punya jabatan
apapun selain sebagai pengangguran yang beriman, dibandingkan dengan
air sungai ciliwung yang beracun, maka pembobolan pipa2 ledeng ini
betul2 menyelamatkan kehidupan umat dari bencana keracunan air sungai
Ciliwung yang penuh logam berat akibat limbah pabrik2 obat2an dan batu
battery yang pabriknya berderet sepanjang sungai Ciliwung itu.

Ditinjau dari keadaan Indonesia masa kini, maka kita tidak bisa
menyangkal bahwa warisan korupsi zaman Suharto sekarang sudah merakyat
dan tidak lagi terlokalisir dalam jabatan penguasa.  Dan kesemua hal
ini tidak bisa terlepas dari jasa2 Suharto dimasa lalunya yang kita
semua mau tidak mau harus menghargainya sebagai pahlawan bangsanya
dalam berkorupsi.  Korupsi sebagai budaya benar2 menjadi kenyataan
bukan hanya sebagai sindiran karena tidak ada satupun rakyat di
Indonesia yang tidak ikut ambil bagian menikmati hasil korupsi yang
seharusnya haram jadah ini.  Semuanya terlihat sebagai halal.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke