Refleksi:  Bagaimana dengan agama yang diajarkan dan dianut sejak kecil?  
Apakah tidak mempunyai pengaruh untuk memberantas korupsi, kecurangan dan 
perlakuan tidak adil dari penguasa  yang membuat pembodohan dan pemiskinan 
kehidupan rakyat?

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0812/12/kesra01.html

Pendidikan Antikorupsi Dimulai dari Rumah Tangga

Oleh
Stevani Elisabeth



Jakarta - Pendidikan antikorupsi harus dimulai di dalam rumah tangga, khususnya 
untuk anak-anak pada usia dini. 

Ayah maupun ibu di dalam rumah tangga harus melatih anak-anaknya untuk jujur 
dalam melakukan berbagai hal, khususnya yang menyangkut uang. Kejujuran 
merupakan prinsip dasar dalam pendidikan antikorupsi. 


"Kalau kita menyuruh anak belanja sesuatu ke warung, dia harus diajarkan 
mengembalikan uang sisa belanja tersebut dan tidak boleh mengantongi uang sisa 
belanja tersebut untuk dirinya sendiri. Intinya, kita sebagai orangtua harus 
menanamkan kejujuran pada anak," tutur Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan 
(Menneg PP) Meutia Hatta kepada wartawan di sela-sela bakti sosial menyambut 
Hari Ibu ke-80, di Jakarta, Kamis (11/12). 


Meutia juga mengaku, sejak remaja sudah diajarkan oleh ibunya untuk mengatur 
uang belanja bila sang ibu sedang tidak berada di rumah. Meutia mencatat 
seluruh kebutuhan rumah yang dibeli, kemudian catatan tersebut diserahkan 
kepada ibunya setelah kembali ke rumah. Oleh sebab itu, Meutia juga mengimbau 
kepada para orangtua untuk mengajarkan anak-anak sejak dini untuk berhemat. 


Terkait dengan masalah kemiskinan, Menneg PP mengatakan sudah banyak program 
pemberdayaan perempuan seperti Gerakan Sayang Ibu (GSI), tetapi kurang dikenal 
karena belum tertata dengan baik. Program GSI bertujuan agar masyarakat 
memperhatikan ibu yang sedang hamil yang ada di lingkungannya. Selain itu, GSI 
juga dimaksudkan sebagai upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI). 
Sementara itu, Sosiolog Universitas Indonesia Imam Prasodjo menilai ada dua hal 
yang menjadi akar kemiskinan, yakni pendidikan dan lapangan kerja. Kegagalan 
pendidikan dapat menciptakan kemiskinan. "Semakin banyak orang yang tidak dapat 
mengakses pendidikan, maka semakin besar kemungkinan mereka tidak memiliki 
lapangan kerja. Pengangguran inilah yang menciptakan kemiskinan," lanjutnya. 
Selain itu, kesadaran masyarakat miskin terhadap pentingnya pendidikan juga 
masih rendah. Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat miskin mengalokasikan 
12,4 persen dari penghasilannya untuk mengonsumsi rokok, sedangkan alokasi 
untuk pendidikan dan kesehatan hanya 3 persen dari penghasilannya. 
Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan dan kesehatan bukan menjadi prioritas 
mereka. Untuk mengatasi hal tersebut, lanjut Imam, pemerintah harus all out 
untuk memberikan akses pendidikan kepada masyarakat, khususnya pada kaum 
perempuan. n

Kirim email ke