Bagaimana kalau  terlebih dahulu Nyonya Hafsah bin sexy  jungkir balik 
dikuburannya Harto pada malam Kliwon sebagai  contoh tanda penghargaan sumph 
setia jungjung tinggi.  12 kali jungbaliknya, sudah itu mutar-mutar keliling 
kuburannya 12 dengan merokok kemenyan.

  ----- Original Message ----- 
  From: Hafsah Salim 
  To: zamanku@yahoogroups.com 
  Sent: Saturday, December 13, 2008 5:52 PM
  Subject: [zamanku] Sudah Tiba Waktunya Menghargai Jasa2 Suharto ??!!


  Sudah Tiba Waktunya Menghargai Jasa2 Suharto ??!!

  Kalo kita membandingkan situasi negara pasca-Suharto dengan keadaan
  pra-Suharto, tak ada yang bisa memungkiri bahwa KORUPSI MAKIN MELUAS
  DAN MERAJALELA.

  Pra-Suharto termasuk zaman Bung Karno, korupsi itu terlokalisir hanya
  pada keluarga penguasa dan penguasanya itu sendiri.

  Pada Pasca-Suharto, korupsi itu sudah tidak lagi terlokalisir
  melainkan menyebar kesegala penjuru dari penguasa tertinggi hingga
  pegawai ter-rendah bahkan meluas ke-pedagang2 yang bukan pegawai
  tetapi bermanfaat bekerja sama dengan penguasa dalam menciptakan
  bukti2 kwitansi palsu yang nilainya dilipat gandakan untuk menguras
  keuangan negara. Pasca-Suharto ini ditandai dengan korupsi yang sudah
  tidak dianggap lagi sebagai korupsi seperti contohnya ada Direktur
  Bank Indonesia yang mem-bagi2kan uang negara kepada semua anggauta2
  MPR dan DPR ditambah lagi menanggung biaya tour ke Eropah, Amerika,
  dan Asia.

  Dizaman pra-Suharto, korupsi merupakan proyek keluarga dan kroni;
  tetapi dizaman pasca-Suharto, korupsi sudah merupakan institusi resmi
  seperti MUI yang secara resmi memungut pungli untuk stiker halal. 
  Padahal berdasarkan agama Islam, makanan halal itu adalah makanan yang
  diproses secara Islamiah dan kandungannya juga sesuai dengan ketentuan
  Islam yang setiap orang bisa membacanya di Quran tanpa harus
  mendapatkan legitimasi UI agar bisa syah dianggap halal. Malah Islam
  melarang sesama umat Islam memeras sesama umat misalnya melalui stiker
  halal ini menaikkan harga jual makanan yang tujuannya untuk disetorkan
  kepada badan MUI ini. Ini adalah bentuk pungli resmi, bentuk korupsi
  yang dilegitimasikan sebagai institusi. Padahal Arab Saudia yang
  merupakan tanah suci tempat lahir dan mati sang nabi Muhammad sendiri
  mengimport makanan dari Amerika, Eropah, dan Asia yang kesemuanya
  dinyatakan halal setelah lolos pemeriksaan dengan membubuhkan juga
  stiker halal yang sama sekali tidak membebankan sesen pun pabrik2
  makanan tsb untuk membayar biaya stiker halal tsb. Bayangkan saja,
  pabrik2 makanan itu sendiri letaknya semuanya diluar Arab Saudia
  seperti di Amerika, Eropah, dan Asia sehingga tak pernah pabrik2
  makanan itu dikenakan biaya stiker dinegerinya maupun waktu dieksport
  ke Arab Saudia. Untuk menyatakan makanan itu halal, adalah tugas dari
  petugas2 kesehatan Arab Saudia untuk memeriksanya dan menyatakannya
  sebagai halal tanpa semua pabrik makanan ini mengetahuinya. Waktu
  memesan makanan itu pihak Arab Saudia cukup menetapkan syarat2
  kandungan makanan yang boleh dijual di Arab Saudia, selebihnya
  mengenai cara2 pembuatannya sama sekali bukan urusan tanggung jawab
  Arab Saudia melainkan merupakan urusan negara dimana pabrik tsb
  berdomisili. Seperti pabrik2 makanan di Eropah, Amerika dan Asia
  tidak ada mengharuskan cara2 pengolahan makanan secara Islamiah,
  tetapi pengolahan itu harus dilakukan dengan standard kesehatan yang
  berlaku dinegara tsb seperti di Amerika dilakukan oleh FDA.

  Dizaman Bung Karno, korupsi-nya hanya terbatas lingkungan penguasa
  sama seperti dizaman Suharto, bedanya dizaman Sukarno-negara Indonesia
  mengalami embargo ekonomi yang ketat sehingga tak ada uang pinjaman
  luar negeri yang bisa dikorupsi seperti dizaman Suharto. Memang
  Sukarno juga terkenal raja koruptor, tetapi dana yang dikorupsi
  hanyalah seputar pampasan perang Jepang, bantuan Cina, dan bantuan
  dari Russia. Selebihnya pinjaman2 dari Amerika, Eropah dan negara2
  Asia lainnya dikorupsinya dalam jumlah tidak melebihi dari $100 juta
  yang disimpannya dalam account di Swiss dimana hanya Dr. Subandrio
  saja yang bisa akses mengambilnya. Namun dana korupsi besar2an
  dizaman Sukarno ini akhirnya diambil Suharto dengan cara menukarnya
  dengan hukuman mati Subandrio. Subandrio akhirnya tidak jadi dihukum
  mati tanpa resmi diumumkan oleh negara, dan dana ORLA yang berada
  dalam kekuasaan Subandrio akhirnya diserahkan kepada Suharto sebagai
  milik pribadi.

  Memang Sukarno dan rezim-nya betul2 apes, bukan cuma harta koruptor
  semua menteri2nya saja yang disita Suharto secara pribadi, bahkan
  nyawa mereka pun tak ada satupun yang selamat, semuanya mati diracun
  tanpa diumumkan dikoran. Bahkan Suharto membentuk pasukan khusus
  untuk memburu harta semua pengikut Sukarno, bukan cuma uang dollar dan
  benda saja yang disitanya, bahkan juga jutaan hektar tanah berganti
  pemilik menjadi atas nama keluarga dan kroni2nya.

  Dalam sejarah per-korupsian, memang Suharto yang paling berhasil,
  bukan saja berhasil menikmati dan mewariskan hasil korupsinya kepada
  keturunan, kroni, dan kelompoknya saja, tetapi juga berhasil
  membersihkan dirinya menjadi penguasa yang paling bersih dari korupsi.
  Semua bukti2 korupsinya bisa dimusnahkan dengan menciptakan kebakaran
  disemua gedung2 yang menyimpan arsip2 bukti korupsi yang pernah
  dilakukannya. Belum pernah sepanjang sejarah dunia ini ada koruptor
  yang se-akbar Suharto, bayangkan saja, anak2 Suharto masing2 berhak
  mencetak uang negara, dan uang itu dinomorinya sendiri dan gubernur BI
  yang diangkat keluarganya tinggal membubuhi tanda tangan saja agar
  uang palsu ini menjadi syah tidak lagi dianggap palsu. Bahkan didunia
  Internasional, Suharto memerintahkan adiknya untuk menyebarkan surat2
  saham palsu hingga di Wall Street. Bursa Saham di New York,
  Washington, Hongkong, Singapore, dan Tokyo dibanjiri dengan surat2
  saham palsu yang dijual oleh Suharto melalui kroni2nya sehingga bisa
  dibayangkan jumlah yang berhasil diraup oleh Suharto jauh melebihi
  kekayaan yang dimiliki siapapun yang dianggap terkaya didunia ini.

  Korupsi di pasca-Suharto boleh dinamakan sebagai zaman korupsi yang
  paling Islamiah. Karena pelaku2 koruptor ini bertindak seperti apa
  yang dilakukan oleh nabi Muhammad dengan rampasan pedagang2 Yahudi.
  Hasil korupsinya dibagi merata sesuai jasa masing2 pejabat dalam
  membantu tegaknya Syariah Islam. Hasilnya, semua pejabat dizaman
  pasca Suharto ini korupsi dan meluas ke pegawai, pedagang2, bahkan
  hingga ke tukang pijet presiden berhasil mengkorupsi dana simpanan
  pegawai Bulog yang menimbulkan kemarahan pegawai2 itu sendiri. Wajar
  akhirnya Gus Dur terjerembab tersandung korupsi yang diperintahkan
  melalui tukang pijetnya ini. Bukan cuma Gus Dur dan tukang pijetnya
  saja menikmati hasil korupsi, bahkan dokter2 rumah sakit juga
  mengkorupsi dana rumah sakitnya sendiri. Waktu pembantu keluarga
  dokter sakit, maka sang pembantu dikirim ke rumah sakit, dirawat,
  difoto rontgen, periksa lab darah, dan berbagai rumah sakit ditanggung
  pemerintah karena sang pembantu menggunakan nama isteri dokter di
  rumah sakit yang dibiayai dana pemerintah ini.

  Pasca Suharto benar2 pesta korupsi besar2an bahkan satu2nya zaman yang
  ditandai dengan korupsi yang betul2 Islamiah karena bukan cuma
  koruptornya adalah penegak Syariah Islam tetapi juga kesempatan
  korupsi dan hasil korupsi itu betul2 dibuka bagi umat Islam yang
  berkeimanan tinggi. Bahkan di-kampung2 para ulama mengajarkan umatnya
  bagaimana caranya mencantolkan kabel listrik untuk mencuri listrik
  PLN. Dipinggiran kota2 besar, para ulama menyumbangkan pengetahuannya
  dalam cara2 membocorkan pipa ledeng perusahaan air minum negara
  sehingga jalanan tergenang menjadi oase seperti dizaman nabi Muhammad.
  Masyarakat diuntungkan oleh tindakan ulama ini karena bak air zamzam
  lebih menyehatkan orang2 kecil di-kampung2 yang tidak punya jabatan
  apapun selain sebagai pengangguran yang beriman, dibandingkan dengan
  air sungai ciliwung yang beracun, maka pembobolan pipa2 ledeng ini
  betul2 menyelamatkan kehidupan umat dari bencana keracunan air sungai
  Ciliwung yang penuh logam berat akibat limbah pabrik2 obat2an dan batu
  battery yang pabriknya berderet sepanjang sungai Ciliwung itu.

  Ditinjau dari keadaan Indonesia masa kini, maka kita tidak bisa
  menyangkal bahwa warisan korupsi zaman Suharto sekarang sudah merakyat
  dan tidak lagi terlokalisir dalam jabatan penguasa. Dan kesemua hal
  ini tidak bisa terlepas dari jasa2 Suharto dimasa lalunya yang kita
  semua mau tidak mau harus menghargainya sebagai pahlawan bangsanya
  dalam berkorupsi. Korupsi sebagai budaya benar2 menjadi kenyataan
  bukan hanya sebagai sindiran karena tidak ada satupun rakyat di
  Indonesia yang tidak ikut ambil bagian menikmati hasil korupsi yang
  seharusnya haram jadah ini. Semuanya terlihat sebagai halal.

  Ny. Muslim binti Muskitawati.



   

Kirim email ke