*"Siapakah yang mau menangani Ka'ab bin Al-Asyraf karena ia sungguh
telah
mengganggu Allah dan RasulNya?"*

Muhammad bin Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu, salah satu dari orang-orang
Ansar dari suku Aus berkata: "Saya akan melakukannya Wahai Rasulullah..!
Apakah Anda ingin saya untuk membunuh dia?".

Jelas dari hadist di atas bhw Muhammad menghalalkan pembunuhan orang yg
menghinanya. Bagi seorang 'nabi' hal semacam ini sangat tidak pantas krn
nabi2 itu harus memberi teladan baik. Bgmn pengikut Muhammad akan
mendiamkan orang yg menghina dirinya kalo sang nabi sendiri menyuruh
penghinannya dibunuh (dg meminjam tangan).

Ngomong2 Aulloh rupanya juga melakukan hal yg sama: ada ayat yg
menyatakan bhw Muslim dipake oleh Aulloh untuk membunuh orang2 yg tidak
sudi menerima Aulloh.

Lebih cilaka lagi ialah bhw mnrt Muhammad & Qur'an selama masih ada
FITNAH, i.e. orang2 yg tidak mau menerima Aulloh dan Rasulnya maka
orang2 ini halal untuk dibunuh. Amit2!

Gabriela Rantau
--- In zamanku@yahoogroups.com, "Mansur Amin" <mansura...@...> wrote:
>
> Nasib Penghujat Islam Dalam Catatan Siroh Nabawiyah
>
> Selasa, 25/11/2008 14:26 WIB Cetak <javascript:print();> |
>
Kirim<http://www.eramuslim.com/suara-langit/undangan-surga/send/nasib-pe\
nghujat-islam-dalam-catatan-siroh-nabawiyah>
> |
> RSS <http://www.eramuslim.com/suara-langit/undangan-surga/rss>
>
> Dalam bukunya berjudul "*Pedang Terhunus Bagi Penghujat Rasul*"
("AsSarim al
> Maslul 'ala Shatim arRasul"), Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah
menjelaskan
> sebuah pelajaran penting dari Siroh Nabi shollallahu 'alaih wa sallam.
Dalam
> tulisan tersebut dijelaskan bahwa seorang pemuka Yahudi ahli syair
warga
> Madinah bernama Ka'ab bin Al-Asyraf dibunuh oleh seorang sahabat Nabi
> shollallahu 'alaih wa sallam bernama Muhamad bin Maslamah radhiyallahu
> 'anhu. Ia dibunuh karena telah menulis puisi yang menghujat Nabi
shollallahu
> 'alaih wa sallam.
>
> Ceritanya, setelah berita kekalahan kaum musyrikin Quraisy menghadapi
> pasukan Islam di dalam perang Badar sampai ke Madinah, maka Ka'ab
berkata:
> "Jika berita ini benar, maka berada di bawah tanah lebih baik bagi
kami
> daripada di atasnya." Artinya, ia merasa dirinya lebih baik mati
daripada
> hidup setelah kekalahan kaum kuffar Quraisy. Lalu Ka'ab bin Al-Asyraf
> membuat syair-syair berisi ratapan atas kekalahan kaum musyrikin
tersebut.
> Di dalamnya juga memuat hujatan terhadap Nabi shollallahu 'alaih wa
sallam
> dan kaum muslimin. Lalu pergilah ia ke Mekkah untuk menampilkan
puisinya dan
> turut berduka cita bersama kaum musyrikin Mekkah. Bahkan kaum muslimat
juga
> ia lecehkan di dalam syairnya. Maka Nabi shollallahu 'alaih wa sallam
> kemudian bersabda:
>
> ãä áí ÈßÚÈ Èä ÇáÃÔÑÝ ÝÅäå ÞÏ ÃÐì Çááå æ
ÑÓæáå
>
> *"Siapakah yang mau menangani Ka'ab bin Al-Asyraf karena ia sungguh
telah
> mengganggu Allah dan RasulNya?"*
>
> Muhammad bin Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu, salah satu dari
orang-orang
> Ansar dari suku Aus berkata: "Saya akan melakukannya Wahai
Rasulullah..!
> Apakah Anda ingin saya untuk membunuh dia?".
>
> Nabi shollallahu 'alaih wa sallam menjawab: " Ya!"
>
> Muhammad bin Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu telah memberikan suatu
janji; ia
> telah berjanji dengan lisannya bahwa ia akan membunuh Ka'ab bin
Al-Asyraf!
>
> Ia pulang ke rumah dan mulai berpikir tentang tugas tersebut dan mulai
> menyadari bahwa untuk mewujudkannya ternyata tidaklah ringan. Ka'ab
tinggal
> di sebuah benteng di kawasan Yahudi dikelilingi para pendukungnya
sehingga
> sangat, sangat sulit untuk membunuhnya..! Dia mulai menjadi prihatin
> memikirkannya. Suatu keprihatinan yang melalaikannya dari makan dan
minum
> kecuali sekedar untuk bertahan hidup. Selama tiga hari ia praktis
tidak
> makan dan minum...!
>
> Berita ini sampai ke Nabi shollallahu 'alaih wa sallam. Lalu ia
panggil
> Muhammad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu dan bertanya: "Ada apa
denganmu,
> Muhammad bin Al-Maslamah? Benarkah kamu berhenti makan dan minum?"
>
> Ia menjawab: "Benar, ya Rasulullah."
>
> "Mengapa?" tanya Nabi shollallahu 'alaih wa sallam.
>
> Ia menjawab: "Aku telah berjanji sesuatu yang aku sendiri pertanyakan.
> Akankah aku sukses melakukannya dan memenuhinya?"
>
> Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam kemudian bersabda:
>
> ÇäãÇ Úáíß ÇáÌåÏ
>
> *"Yang dituntut darimu hanyalah kesungguhan, sisanya serahkanlah
kepada
> Allah Yang Maha Kuasa."*
>
> *Subhanallah...! *Lihatlah semangat dan kesungguhan para sahabat.
Tidak bisa
> makan atau minum bila menghadapi keadaan seperti itu. Baginya hal ini
> merupakan perkara sangat serius. Ia telah berjanji dan khawatir tidak
dapat
> memenuhi janjinya. Ia tidak sanggup meneruskan hidupnya seperti
biasanya
> sebelum Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam mengatakan agar ia
memenuhi
> bagiannya dan menyerahkan sisanya kepada Allah. Barulah ia merasa
terhibur
> dan bisa makan dan minum kembali...!
>
> Akhirnya datanglah Muhammad Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu kepada
Rasulullah
> shollallahu 'alaih wa sallam dengan suatu rencana, namun ia minta izin
> terlebih dahulu: " Wahai Rasulullah, untuk menjalankan rencana ini
> izinkanlah saya berbicara terhadap anda!" (Bagian dari rencananya ia
akan
> berbicara negatif tentang Nabi shollallahu 'alaih wa sallam di hadapan
> Ka'ab)
>
> Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam bersabda: "Katakanlah apa yang
anda
> ingin!"
>
> Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu dan sekelompok kecil dari
> orang-orang Ansar dari suku Aus, pergi menjumpai Ka'ab bin Al-Asyraf
guna
> mengatur perangkap baginya. Mereka berkata kepada Ka'ab: "Lelaki ini
> –maksudnya Nabi shollallahu 'alaih wa sallam - merupakan ujian
Allah bagi
> kita semua. Ia masalah. Ia musibah. Dan bangsa Arab telah memerangi
kita dan
> memusuhi kita karena dia."
>
> Ka'ab menjawab: "Sudah kukatakan pada kalian sebelumnya. Kalian akan
lihat
> keadaan bakal menjadi lebih buruk."
>
> AlMaslamah radhiyallahu 'anhu berkata: "Ka'ab, semenjak kehadiran
lelaki ini
> keadaan keuangan kami telah memburuk. Kami ingin pinjam uang darimu
dan
> menitipkan jaminan."
>
> Ka'ab menjawab: "Serahkan anak-anak kalian padaku."
>
> Mereka berkata: "Kami tinggalkan anak-anak kami kepadamu sebagai
jaminan
> untuk pinjaman yang tidak seberapa, maka itu akan menjadi aib bagi
mereka
> seumur hidup."
>
> Ka'ab melanjutkan: "Bila demikian, serahkanlah wanita kalian."
>
> Mereka berkata: "Bagaimana kami serahkan kaum wanita kami kepada Anda
> sedangkan Anda lelaki paling tampan? Sudahlah, kami akan menjaminkan
kepada
> Anda persenjataan kami." Ka'ab berujar: "Baiklah, setuju."
>
> Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu menjebaknya agar pada
kunjungan
> berikutnya Ka'ab tidak akan curiga bila mereka datang membawa senjata.
Maka
> mereka buat perjanjian untuk pertemuan berikutnya di malam hari karena
lebih
> kondusif.
>
> Maka pada malam yang disepakati Ka'ab datang menemui AlMaslamah
radhiyallahu
> 'anhu. Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu bilang kepada
> kawan-kawannya: "Jika kalian melihat aku memegang kepalanya itulah
pertanda
> saatnya kalian menyerang dia dengan pedang-pedang kalian."
>
> Ketika Ka'ab berjumpa dengan AlMaslamah radhiyallahu 'anhu ia diajak
untuk
> berjalan-jalan ke tempat nostalgia mereka dahulu. Yaitu tempat mereka
dahulu
> biasa menghabiskan waktu ketika AlMaslamah radhiyallahu 'anhu masih
> jahiliyah, yaitu di Sya'ab al A'juz. Suatu tempat di pinggir kota
menjauhi
> benteng Yahudi.
>
> Saat tiba di tempat tujuan AlMaslamah berkata kepada Ka'ab: "Harum
nian
> aroma yang muncul dari rambutmu. Boleh aku menciumnya dari dekat?"
(Ka'ab
> rupanya menggunakan parfum beraroma sejenis kesturi sebagai minyak
> rambutnya).
>
> Ka'ab berkata: "Silakan."
>
> Ia pegang kepalanya dengan kuat dan berdatanganlah kawan-kawannya
menyerang
> Ka'ab dengan pedang mereka. Tapi serangan tersebut tidak cukup
mematikannya.
> Ka'ab-pun menjerit memohon pertolongan. Benteng Yahudi mulai menyala
> pertanda warganya terbangun. Dengan sigap Al-Maslamah radhiyallahu
'anhu
> mengeluarkan belati dan menusuk dalam-dalam perut Ka'ab hingga
belatinya
> mencapai tulang pinggangnya...!
>
> Demikianlah Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu beserta
beberapa
> pemuda Aus menangani orang yang menghujat Rasulullah shollallahu
'alaih wa
> sallam...!
>
> Kemudian keesokan harinya, datanglah kaum Yahudi bersama beberapa kaum
> musyrik menemui Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam. Mereka
berkata:
> "Salah seorang yang  terhormat dari kalangan kami telah dibunuh
semalam! Dan
> ia dibunuh secara licik. Bukan bertarung satu lawan satu. Ia dibunuh
secara
> diam-diam dan tiba-tiba..!" Mereka selanjutnya berkata: "Ia telah
dibunuh
> tanpa sebab tindak kriminal apapun yang telah dilakukannya...!"
>
> Mereka mempertanyakan mengapa Ka'ab ibn Al-Asyraf dibunuh padahal
terdapat
> perjanjian damai yang telah disepakati antara Rasulullah dengan kaum
Yahudi
> di Madinah. MENGAPA? BAGAIMANA INI BISA TERJADI?
>
> Apa jawab Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam ? Beliau bersabda:
>
> Çäå áæ ÞÑ ßãÇ ÞÑ ÛíÑå ããä åæ Úáì ãËá
ÑÃíå ãÛÊíá æ áßäå äÇá
> ãäÇ
> ÇáÃÐì æ åÌÇäÇ ÈÔÚÑ æ áã íÝÚá åÐÇ ÇÍÏ
ãäßã ÇáÇ ßÇä ÇáÓíÝ
>
> *"Jika dia berlaku tenang, seperti orang lain yang pendapatnya sama
dengan
> pendapatnya, tentu dia tidak akan dibunuh! Tetapi dia telah mengganggu
kami
> dan menghujat  kami dengan puisinya, dan tidak ada seorangpun di
antara
> kalian yang melakukan hal semacam itu kecuali kami akan tangani dengan
> pedang!"*
>
> Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam mengatakan bahwa banyak orang
yang
> keyakinan di dalam hatinya mirip dengan Ka'ab bin Al-Asyraf, ia bukan
> dibunuh karena itu! Ia bukan dibunuh karena ia tidak percaya, ia tidak
> dibunuh karena ia membenci Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam, ia
tidak
> dibunuh karena membenci kaum muslimin. TIDAK...! Banyak orang lain
yang
> mempunyai penyakit hati seperti itu namun tidak dibunuh, mereka
dibiarkan
> hidup. "Jika dia berlaku tenang, seperti orang lain yang pendapatnya
sama
> dengan pendapatnya, tentu dia tidak akan dibunuh! Tetapi ia telah
berbicara
> menentangku dan mengumpatku," demikian Rasulullah shollallahu 'alaih
wa
> sallam.
>
> Lalu Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam menegaskan sejelas
mungkin
> kepada kaum Yahudi: "Jika salah seorang di antara kalian, kaum Yahudi
atau
> musyrikin, mencoba untuk mengumpatku melalui ucapannya demikianlah
kami akan
> tangani dia. Tidak ada di antara kami dengan kalian selain pedang..!
Tidak
> akan ada dialog, tidak ada pengampunan, tidak ada jembatan, tidak akan
ada
> upaya rekonsiliasi. Hanya ada pedang di antara saya dengan kalian..!"
Dan
> Nabi shollallahu 'alaih wa sallam menegaskan hal ini sejelas-jelasnya.
> Kemudian Nabi shollallahu 'alaih wa sallam mengajak kaum Yahudi dan
> musyrikin menanda-tangani dokumen kesepakatan yang memuat perjanjian
bahwa
> mereka tidak akan berbicara menentang beliau.
>
> Ibnu Taimiyah berkata:* "Ini merupakan bukti bahwa mengganggu Allah
dan
> RasulNya merupakan alasan untuk mendorong kaum muslimin membunuh siapa
saja
> yang melakukan gangguan tersebut meskipun mereka punya perjanjian
dengan
> kaum muslimin."*
>
> Sebagian orang berusaha memelintir pelajaran dari cerita Siroh Nabi
> shollallahu 'alaih wa sallam ini dengan berpendapat bahwa Ka'ab ibn
> Al-Asyraf dibunuh karena ia menganjurkan kaum musyrik Mekkah untuk
memerangi
> Muhammad shollallahu 'alaih wa sallam, bukan karena kata-katanya.
>
> Ibnu Taimiyah menegaskan: *"TIDAK! Ia dibunuh karena syairnya yang
> ditulisnya dan dibacakannya bahkan sebelum ia pergi ke Mekkah." Jadi
tidak
> ada kaitannya karena ia pergi ke Mekkah dan menganjurkan mereka
memerangi
> kaum muslimin. Ka'ab bin Al-Asyraf telah dibunuh semata-mata karena
> puisinya...!*
>
> Ibnu Taimiyah melanjutkan: *"Semua yang dilakukan Al-Asyraf ialah
mengganggu
> dengan lidah. Meratapi terbunuhnya kaum kuffar, dukungannya kepada
mereka
> untuk berperang, kutukan dan umpatannya dan ucapannya merendahkan
agama
> Islam dan mengutamakan agama kaum kafir, semua ini ialah ucapan dengan
> lidahnya. Inilah hujjah-bukti terhadap siapapun yang berselisih
pendapat
> tentang isyu-isyu seperti ini. Jelaslah tidak ada perlindungan dengan
cara
> apapun bagi darah manusia yang mengganggu Allah dan RasulNya melalui
puisi
> dan umpatan."*
>
> *Wallahu a'lam bish-showwaab.- *
>
> *(Dikutip dari sebagian ceramah berjudul "The Dust Will Never Settle
Down"
> Syaikh Anwar Al-Awlaki)*
>

Kirim email ke