Eh Hafsah tunjukkan pasal HAM yang membolehkan orang mengganggu agama orang
lain

Pada tanggal 15/12/08, Hafsah Salim <muskitaw...@yahoo.com> menulis:
>
>   Dizaman sekarang setiap orang termasuk orang Islam sendiri dilindungi
> hak azasinya dalam mengkritik termasuk mengkritik nabi Muhammad dan
> ajaran Islamnya.
>
> Jadi nasib penghujat nabi Muhammad dizaman dulu tidak lagi bisa
> dijadikan contoh untuk bisa memungkinkan terjadi dizaman sekarang.
> kalopun ada umat yang overacting mau membunuh penghujat nabi, pasti
> dia ditangkap dan dihukum bukan yang dituduhnya menghujat.
>
> Lebih baik kita sebagai umat Islam mulai menghargai penghujat nabi,
> menghargai penyembah berhala, menghargai orang kafir, dan menghargai
> orang2 murtad termasuk orang2 Yahudi. Kesemuanya ini sudah menjadi
> bagian dari HAM yang telah ditanda tangani semua negara2 didunia.
>
> Ny. Muslim binti Muskitawati.
>
> --- In zamanku@yahoogroups.com <zamanku%40yahoogroups.com>, "Mansur Amin"
> <mansura...@...> wrote:
> >
> > Nasib Penghujat Islam Dalam Catatan Siroh Nabawiyah
> >
> > Selasa, 25/11/2008 14:26 WIB Cetak <javascript:print();> |
> >
> Kirim<
> http://www.eramuslim.com/suara-langit/undangan-surga/send/nasib-penghujat-islam-dalam-catatan-siroh-nabawiyah
> >
> > |
> > RSS <http://www.eramuslim.com/suara-langit/undangan-surga/rss>
> >
> > Dalam bukunya berjudul "*Pedang Terhunus Bagi Penghujat Rasul*"
> ("AsSarim al
> > Maslul 'ala Shatim arRasul"), Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah
> menjelaskan
> > sebuah pelajaran penting dari Siroh Nabi shollallahu 'alaih wa
> sallam. Dalam
> > tulisan tersebut dijelaskan bahwa seorang pemuka Yahudi ahli syair warga
> > Madinah bernama Ka'ab bin Al-Asyraf dibunuh oleh seorang sahabat Nabi
> > shollallahu 'alaih wa sallam bernama Muhamad bin Maslamah radhiyallahu
> > 'anhu. Ia dibunuh karena telah menulis puisi yang menghujat Nabi
> shollallahu
> > 'alaih wa sallam.
> >
> > Ceritanya, setelah berita kekalahan kaum musyrikin Quraisy menghadapi
> > pasukan Islam di dalam perang Badar sampai ke Madinah, maka Ka'ab
> berkata:
> > "Jika berita ini benar, maka berada di bawah tanah lebih baik bagi kami
> > daripada di atasnya." Artinya, ia merasa dirinya lebih baik mati
> daripada
> > hidup setelah kekalahan kaum kuffar Quraisy. Lalu Ka'ab bin Al-Asyraf
> > membuat syair-syair berisi ratapan atas kekalahan kaum musyrikin
> tersebut.
> > Di dalamnya juga memuat hujatan terhadap Nabi shollallahu 'alaih wa
> sallam
> > dan kaum muslimin. Lalu pergilah ia ke Mekkah untuk menampilkan
> puisinya dan
> > turut berduka cita bersama kaum musyrikin Mekkah. Bahkan kaum
> muslimat juga
> > ia lecehkan di dalam syairnya. Maka Nabi shollallahu 'alaih wa sallam
> > kemudian bersabda:
> >
> > ãä áí ÈßÚÈ Èä ÇáÃÔÑÝ ÝÅäå ÞÏ ÃÐì Çááå æ ÑÓæáå
> >
> > *"Siapakah yang mau menangani Ka'ab bin Al-Asyraf karena ia sungguh
> telah
> > mengganggu Allah dan RasulNya?"*
> >
> > Muhammad bin Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu, salah satu dari orang-orang
> > Ansar dari suku Aus berkata: "Saya akan melakukannya Wahai Rasulullah..!
> > Apakah Anda ingin saya untuk membunuh dia?".
> >
> > Nabi shollallahu 'alaih wa sallam menjawab: " Ya!"
> >
> > Muhammad bin Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu telah memberikan suatu
> janji; ia
> > telah berjanji dengan lisannya bahwa ia akan membunuh Ka'ab bin
> Al-Asyraf!
> >
> > Ia pulang ke rumah dan mulai berpikir tentang tugas tersebut dan mulai
> > menyadari bahwa untuk mewujudkannya ternyata tidaklah ringan. Ka'ab
> tinggal
> > di sebuah benteng di kawasan Yahudi dikelilingi para pendukungnya
> sehingga
> > sangat, sangat sulit untuk membunuhnya..! Dia mulai menjadi prihatin
> > memikirkannya. Suatu keprihatinan yang melalaikannya dari makan dan
> minum
> > kecuali sekedar untuk bertahan hidup. Selama tiga hari ia praktis tidak
> > makan dan minum...!
> >
> > Berita ini sampai ke Nabi shollallahu 'alaih wa sallam. Lalu ia panggil
> > Muhammad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu dan bertanya: "Ada apa
> denganmu,
> > Muhammad bin Al-Maslamah? Benarkah kamu berhenti makan dan minum?"
> >
> > Ia menjawab: "Benar, ya Rasulullah."
> >
> > "Mengapa?" tanya Nabi shollallahu 'alaih wa sallam.
> >
> > Ia menjawab: "Aku telah berjanji sesuatu yang aku sendiri pertanyakan.
> > Akankah aku sukses melakukannya dan memenuhinya?"
> >
> > Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam kemudian bersabda:
> >
> > ÇäãÇ Úáíß ÇáÌåÏ
> >
> > *"Yang dituntut darimu hanyalah kesungguhan, sisanya serahkanlah kepada
> > Allah Yang Maha Kuasa."*
> >
> > *Subhanallah...! *Lihatlah semangat dan kesungguhan para sahabat.
> Tidak bisa
> > makan atau minum bila menghadapi keadaan seperti itu. Baginya hal ini
> > merupakan perkara sangat serius. Ia telah berjanji dan khawatir
> tidak dapat
> > memenuhi janjinya. Ia tidak sanggup meneruskan hidupnya seperti biasanya
> > sebelum Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam mengatakan agar ia
> memenuhi
> > bagiannya dan menyerahkan sisanya kepada Allah. Barulah ia merasa
> terhibur
> > dan bisa makan dan minum kembali...!
> >
> > Akhirnya datanglah Muhammad Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu kepada
> Rasulullah
> > shollallahu 'alaih wa sallam dengan suatu rencana, namun ia minta izin
> > terlebih dahulu: " Wahai Rasulullah, untuk menjalankan rencana ini
> > izinkanlah saya berbicara terhadap anda!" (Bagian dari rencananya ia
> akan
> > berbicara negatif tentang Nabi shollallahu 'alaih wa sallam di hadapan
> > Ka'ab)
> >
> > Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam bersabda: "Katakanlah apa
> yang anda
> > ingin!"
> >
> > Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu dan sekelompok kecil dari
> > orang-orang Ansar dari suku Aus, pergi menjumpai Ka'ab bin Al-Asyraf
> guna
> > mengatur perangkap baginya. Mereka berkata kepada Ka'ab: "Lelaki ini
> > –maksudnya Nabi shollallahu 'alaih wa sallam - merupakan ujian Allah
> bagi
> > kita semua. Ia masalah. Ia musibah. Dan bangsa Arab telah memerangi
> kita dan
> > memusuhi kita karena dia."
> >
> > Ka'ab menjawab: "Sudah kukatakan pada kalian sebelumnya. Kalian akan
> lihat
> > keadaan bakal menjadi lebih buruk."
> >
> > AlMaslamah radhiyallahu 'anhu berkata: "Ka'ab, semenjak kehadiran
> lelaki ini
> > keadaan keuangan kami telah memburuk. Kami ingin pinjam uang darimu dan
> > menitipkan jaminan."
> >
> > Ka'ab menjawab: "Serahkan anak-anak kalian padaku."
> >
> > Mereka berkata: "Kami tinggalkan anak-anak kami kepadamu sebagai jaminan
> > untuk pinjaman yang tidak seberapa, maka itu akan menjadi aib bagi
> mereka
> > seumur hidup."
> >
> > Ka'ab melanjutkan: "Bila demikian, serahkanlah wanita kalian."
> >
> > Mereka berkata: "Bagaimana kami serahkan kaum wanita kami kepada Anda
> > sedangkan Anda lelaki paling tampan? Sudahlah, kami akan menjaminkan
> kepada
> > Anda persenjataan kami." Ka'ab berujar: "Baiklah, setuju."
> >
> > Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu menjebaknya agar pada
> kunjungan
> > berikutnya Ka'ab tidak akan curiga bila mereka datang membawa
> senjata. Maka
> > mereka buat perjanjian untuk pertemuan berikutnya di malam hari
> karena lebih
> > kondusif.
> >
> > Maka pada malam yang disepakati Ka'ab datang menemui AlMaslamah
> radhiyallahu
> > 'anhu. Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu bilang kepada
> > kawan-kawannya: "Jika kalian melihat aku memegang kepalanya itulah
> pertanda
> > saatnya kalian menyerang dia dengan pedang-pedang kalian."
> >
> > Ketika Ka'ab berjumpa dengan AlMaslamah radhiyallahu 'anhu ia diajak
> untuk
> > berjalan-jalan ke tempat nostalgia mereka dahulu. Yaitu tempat
> mereka dahulu
> > biasa menghabiskan waktu ketika AlMaslamah radhiyallahu 'anhu masih
> > jahiliyah, yaitu di Sya'ab al A'juz. Suatu tempat di pinggir kota
> menjauhi
> > benteng Yahudi.
> >
> > Saat tiba di tempat tujuan AlMaslamah berkata kepada Ka'ab: "Harum nian
> > aroma yang muncul dari rambutmu. Boleh aku menciumnya dari dekat?"
> (Ka'ab
> > rupanya menggunakan parfum beraroma sejenis kesturi sebagai minyak
> > rambutnya).
> >
> > Ka'ab berkata: "Silakan."
> >
> > Ia pegang kepalanya dengan kuat dan berdatanganlah kawan-kawannya
> menyerang
> > Ka'ab dengan pedang mereka. Tapi serangan tersebut tidak cukup
> mematikannya.
> > Ka'ab-pun menjerit memohon pertolongan. Benteng Yahudi mulai menyala
> > pertanda warganya terbangun. Dengan sigap Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu
> > mengeluarkan belati dan menusuk dalam-dalam perut Ka'ab hingga belatinya
> > mencapai tulang pinggangnya...!
> >
> > Demikianlah Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu beserta beberapa
> > pemuda Aus menangani orang yang menghujat Rasulullah shollallahu
> 'alaih wa
> > sallam...!
> >
> > Kemudian keesokan harinya, datanglah kaum Yahudi bersama beberapa kaum
> > musyrik menemui Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam. Mereka berkata:
> > "Salah seorang yang terhormat dari kalangan kami telah dibunuh
> semalam! Dan
> > ia dibunuh secara licik. Bukan bertarung satu lawan satu. Ia dibunuh
> secara
> > diam-diam dan tiba-tiba..!" Mereka selanjutnya berkata: "Ia telah
> dibunuh
> > tanpa sebab tindak kriminal apapun yang telah dilakukannya...!"
> >
> > Mereka mempertanyakan mengapa Ka'ab ibn Al-Asyraf dibunuh padahal
> terdapat
> > perjanjian damai yang telah disepakati antara Rasulullah dengan kaum
> Yahudi
> > di Madinah. MENGAPA? BAGAIMANA INI BISA TERJADI?
> >
> > Apa jawab Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam ? Beliau bersabda:
> >
> > Çäå áæ ÞÑ ßãÇ ÞÑ ÛíÑå ããä åæ Úáì ãËá ÑÃíå ãÛÊíá æ áßäå äÇá
> > ãäÇ
> > ÇáÃÐì æ åÌÇäÇ ÈÔÚÑ æ áã íÝÚá åÐÇ ÇÍÏ ãäßã ÇáÇ ßÇä ÇáÓíÝ
> >
> > *"Jika dia berlaku tenang, seperti orang lain yang pendapatnya sama
> dengan
> > pendapatnya, tentu dia tidak akan dibunuh! Tetapi dia telah
> mengganggu kami
> > dan menghujat kami dengan puisinya, dan tidak ada seorangpun di antara
> > kalian yang melakukan hal semacam itu kecuali kami akan tangani dengan
> > pedang!"*
> >
> > Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam mengatakan bahwa banyak
> orang yang
> > keyakinan di dalam hatinya mirip dengan Ka'ab bin Al-Asyraf, ia bukan
> > dibunuh karena itu! Ia bukan dibunuh karena ia tidak percaya, ia tidak
> > dibunuh karena ia membenci Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam,
> ia tidak
> > dibunuh karena membenci kaum muslimin. TIDAK...! Banyak orang lain yang
> > mempunyai penyakit hati seperti itu namun tidak dibunuh, mereka
> dibiarkan
> > hidup. "Jika dia berlaku tenang, seperti orang lain yang pendapatnya
> sama
> > dengan pendapatnya, tentu dia tidak akan dibunuh! Tetapi ia telah
> berbicara
> > menentangku dan mengumpatku," demikian Rasulullah shollallahu 'alaih wa
> > sallam.
> >
> > Lalu Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam menegaskan sejelas mungkin
> > kepada kaum Yahudi: "Jika salah seorang di antara kalian, kaum
> Yahudi atau
> > musyrikin, mencoba untuk mengumpatku melalui ucapannya demikianlah
> kami akan
> > tangani dia. Tidak ada di antara kami dengan kalian selain pedang..!
> Tidak
> > akan ada dialog, tidak ada pengampunan, tidak ada jembatan, tidak
> akan ada
> > upaya rekonsiliasi. Hanya ada pedang di antara saya dengan
> kalian..!" Dan
> > Nabi shollallahu 'alaih wa sallam menegaskan hal ini sejelas-jelasnya.
> > Kemudian Nabi shollallahu 'alaih wa sallam mengajak kaum Yahudi dan
> > musyrikin menanda-tangani dokumen kesepakatan yang memuat perjanjian
> bahwa
> > mereka tidak akan berbicara menentang beliau.
> >
> > Ibnu Taimiyah berkata:* "Ini merupakan bukti bahwa mengganggu Allah dan
> > RasulNya merupakan alasan untuk mendorong kaum muslimin membunuh
> siapa saja
> > yang melakukan gangguan tersebut meskipun mereka punya perjanjian dengan
> > kaum muslimin."*
> >
> > Sebagian orang berusaha memelintir pelajaran dari cerita Siroh Nabi
> > shollallahu 'alaih wa sallam ini dengan berpendapat bahwa Ka'ab ibn
> > Al-Asyraf dibunuh karena ia menganjurkan kaum musyrik Mekkah untuk
> memerangi
> > Muhammad shollallahu 'alaih wa sallam, bukan karena kata-katanya.
> >
> > Ibnu Taimiyah menegaskan: *"TIDAK! Ia dibunuh karena syairnya yang
> > ditulisnya dan dibacakannya bahkan sebelum ia pergi ke Mekkah." Jadi
> tidak
> > ada kaitannya karena ia pergi ke Mekkah dan menganjurkan mereka
> memerangi
> > kaum muslimin. Ka'ab bin Al-Asyraf telah dibunuh semata-mata karena
> > puisinya...!*
> >
> > Ibnu Taimiyah melanjutkan: *"Semua yang dilakukan Al-Asyraf ialah
> mengganggu
> > dengan lidah. Meratapi terbunuhnya kaum kuffar, dukungannya kepada
> mereka
> > untuk berperang, kutukan dan umpatannya dan ucapannya merendahkan agama
> > Islam dan mengutamakan agama kaum kafir, semua ini ialah ucapan dengan
> > lidahnya. Inilah hujjah-bukti terhadap siapapun yang berselisih pendapat
> > tentang isyu-isyu seperti ini. Jelaslah tidak ada perlindungan
> dengan cara
> > apapun bagi darah manusia yang mengganggu Allah dan RasulNya melalui
> puisi
> > dan umpatan."*
> >
> > *Wallahu a'lam bish-showwaab.- *
> >
> > *(Dikutip dari sebagian ceramah berjudul "The Dust Will Never Settle
> Down"
> > Syaikh Anwar Al-Awlaki)*
> >
>
> 
>

Kirim email ke