Brahmacarya artinya abstinence alias berpantang esek-esek. 

As far as I understand, kita BISA brahmacarya kalo memang tidak ada yg
bisa di-esek. Tapi, kalo kita lagi beruntung dan bertemu dengan
seseorang yg gimana gituh dan suka sama suka, then why not gitu lho!

Buat agama atau aliran kepercayaan tertentu, praktek brahmacarya yg
diartikan sebagai NON esek-esek merupakan suatu syariat. Yg namanya
kiat-kiat dari agama apapun adalah syariat, semua agama memiliki
syariat.

Dan kita juga tahu bahwa yg namanya syariat itu bukannya melepaskan
manusia untuk menjadi dirinya sendiri, malahan mengikat dan membebani
manusia sehingga menjadi semacam robot saja yg melakukan ritual demi
pahala blah blah blah... pedahal Allah itu cuma konsep buatan manusia
di jaman dahulu kala.

Ada agama yg memiliki ritual dan segala macam syariat buat menyenangkan
dewa-dewi blah blah blah... Ada juga yg menggunakan istilah untuk
menyenangkan Allah.

So, semuanya menjanjikan Angin Surga yg juga bisa dibilang  sebagai Angin 
Nirwana.

Di Sulawesi Selatan namanya Angin Mamiri yg setahu saya tidak bisa
jalan kalau tidak dipasang seperti dengan jelas bisa didengar dari bait
lagu "Angin mamiri kupasang, blah blah blah..."

Saya sendiri berpendapat bahwa konsep brahmacarya yg diartikan sebagai
non esek-esek termasuk jenis pembodohan massal juga karena menjadi
seorang selibat tidak otomatis meningkatkan spiritualitas seseorang.
Ngesek atau tidak ngesek secara fisik has no spiritual value whatsoever.

Ngesek is netral, sama saja seperti makan dan minum. Habis makan dan
minum kita akan kenyang sampai akhirnya lapar lagi. Sex is also like
that, cuma memang memerlukan partner yg syariatnya cuma satu yaitu suka
sama suka.

Bisa juga dilakukan seorang diri saja, namanya swalayan alias self
service dengan hasil akhir yg sama yaitu meletusnya "kawah berapi" yg
lalu dibersihkan dengan seksama plus ucapan alhamdulilah, kalau mau.

J. Krishnamurti tidak mempraktekkan brahmacarya, dia ngesex dengan
istri sahabat baiknya selama bertahun-tahun. Osho Rajnesh tidak
mempraktekkan brahmacarya. Osho malah boleh dibilang free sex;
pengikutnya juga banyak yg free sex yg menurut saya ok saja selama
semuanya didasarkan atas suka sama suka.

So, brahmacarya secara fisik tidak bernilai secara spiritual. Yg
mungkin bernilai secara spiritual adalah brahmacarya secara rohani.
Jadi, dengan kata lain, kita tetap saja akan bisa meditasi dan mencapai
samadhi walaupun sedang nge-sex. Ya gak? Ya gak?

On the other hand, kalau membahas tentang syariat agama, maka
domain-nya itu memang agak sedikit berbeda karena syariat agama
mengiming-imingi dengan Sorga dan Neraka, as well as memakai kata
"Allah" yg menurut saya berimplikasi penipuan.

Kenapa berindikasi penipuan? Karena setiap orang BISA membuat peraturan dan 
bilang bahwa itu syariat dari Allah.

Pedahal peraturan itu dibuat oleh manusianya sendiri, dan bahkan Allah disitu 
merupakan konsep buatan si manusia itu sendiri.

It's very SIMPLE to make a religion.

Sangat mudah sekali untuk membuat agama. Anda tinggal bilang bahwa
Allah menyuruh anda potong kambing, atau jiarah ke tanah merah, atau
tanah item, whatever... as simple as that.

Pada pihak lain, merupakan HAM bagi setiap orang untuk percaya kepada
agama apapun atau untuk tidak percaya kepada agama apapun, atau bahkan
untuk menciptakan agama apapun dan menjalankannya sendiri.

Selama tidak bertentangan dengan ketertiban umum, segalanya itu bisa saja 
dilakukan karena ini berada di DOMAIN PRIBADI.

Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya menerapkan prinsip HAM Universal 
seperti itu.

Jadi tidak akan ada pemaksaan agar orang mengikuti ajaran atau syariat
agama tertentu karena orang disana sudah tahu bahwa segalanya itu
buatan saja, walaupun memang tetap saja membawa-bawa nama Allah yg
disana disebut sebagai God.

Then what about the ayats ? The ayat-ayat suci?

We also know bahwa yg namanya ayat-ayat yg disucikan itu selalu keluar lewat 
mulut atau tulisan tangan manusia.

Yg berbicara itu selalu manusianya sendiri, walaupun manusia itu BISA
mengaku dibisikin oleh malaikat atau Allah atau apapun nama yg
disebutnya, yg juga tidak akan menjadi masalah.

Yg penting kita TAHU bahwa yg berbicara itu selalu manusianya sendiri, walaupun 
mengatas-namakan apapun.

Kalaupun manusia itu bilang ada "malaikat", tetap saja yg bicara kepada
manusia-manusia lainnya itu si manusia yg merasa bertemu "malaikat" itu
sendiri. Jadi, manusia itu merasa bertemu dengan "malaikat", dan hasil
pertemuannya itu dilaporkan kepada manusia-manusia lainnya.

Dengan kata lain, yg bicara kepada orang-orang lain dan akhirnya
menjadi ayat yg disucikan ya tetap saja orang itu sendiri dan BUKAN
malaikat.

Segala macam ayat itu keluar dari mulut manusia, dalam hal ini manusia
yg mengaku bertemu dengan "malaikat" yg menyampaikan ayat-ayat itu.

Dan "malaikat" itu siapa lagi kalau bukan figment dari KESADARAN di
diri si manusia itu sendiri yg tidak ada bedanya dengan kesadaran di
dalam diri setiap manusia lainnya?

So, there's nothing special here.

Pengalaman bertemu dengan "malaikat" termasuk umum juga, ini pengalaman 
psikologis biasa saja ketika orang sedang stress, dsb...

Sama saja seperti orang "kesambet/kesurupan " yg mengaku sebagai Abah
Anom bin siapa gituh... bahkan BISA dengan suara seperti si abah yg
sudah meninggal, etc...

Tetapi, apakah benar itu arwah si Abah is another thing karena, yg jelas, yg 
bicara itu si manusia hidup itu sendiri.

Menurut saya semuanya berasal dari kesadaran di dalam diri manusianya
sendiri yg memang BISA fleksibel "menyadap" informasi dari mana saja,
baik dari memory yg bernama Abah Anom whomever,... maupun dari "Allah".

Di Jawa, kegiatan berbicara mengatasnamakan "roh" lain dikenal sebagai
"ndawuh". Kalau di Timur Tengah namanya "nubuah" dan orang yg berbicara
disebut sebagai seorang nabi atau nabiah.

Yg berbicara tetap si manusia sendiri, dengan mengatas-namakan malaikat atau 
Allah atau apapun yg mau disebutnya.

And, that's the phenomenon that we now know as Lia Eden, yg berkelakuan
tidak ada bedanya dengan berbagai macam orang yg mengaku dan diakui
sebagai seorang nabi or nabiah di masa lalu.

Lia Eden mengaku bertemu dengan "malaikat" dan berbicara blah blah
blah... pedahal yg berbicara itu cuma kesadaran di dalam dirinya
sendiri saja.

Leo
Milis Spiritual Indonesia <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.


Spirituality
without God atau spiritualitas tanpa Allah adalah alternatif bagi kita
yg hidup di era POST Modern dan sudah muak dengan segala macam
permainan kata oleh manusia-manusia yg berjualan agama dengan alasan
Allah suka ini dan benci itu blah blah blah... pedahal yg suka ini dan
benci itu cuma manusianya sendiri saja, in this case si manusia yg
mengatas-namakan Allah.


      New Email names for you! 
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke