Yang jelas negara dg mayoritas hindu lebih toleran dan lebih menghargai 
intelektualitas daripada negara dg mayoritas keturunan onta yang notabene belum 
menjadi manusia karena posisi otaknya masih dipunduk, sehinga tdk punya akal 
fikiran dan segalanya diselesaikan dg otot kekerasan.
Cobe bhayangkan, di indonesia mustahil non muslim menjadi presiden, belum apa2 
para mafia agama semacam MUI menelorkan fatwa haram dan ormas2 islam bersimbol 
palu arit bersiap menjegal dg kekerasan.
Ayolah bos,kapan ente yg berotak onta bisa punya nalar. Atau nungu sampai utak 
ente pindah kekepala, tapi kapan yah?apa nungu LIA EDAN jadi nabe ente yg baru.
Saloet

-original message-
Subject: Re:Diskusian - Re: [zamanku] Re:Jangan Tidak Bisa Menjadi Presiden,
 Kar
From: "Diskusian Aneka" <diskus...@yahoo.com>
Date: 20/12/2008 12:20 pm

India dengan terpaksa memberikan kesempatan kepada Muslim karena memang sudah 
tidak ada lagi Hindu yang becus memimpin.
 
Mau bukti nyata kenapa saya katakan secara terpaksa ? Bukti nya Hindustan 
terpecah belah menjadi India dan Pakistan karena Hindu tidak setuju Ali Jinah 
yang Muslim menjadi pemimpin pendamping Gandhi. Hindu fanatik extrimist lebih 
memilih menembak mati Gandhi dari pada memberikan kesempatan kepada Muslim. 
Akibatnya Muslim memisahkan diri cengkeraman preman2 Hindu di India.
 
India telah membayar mahal kebodohan dan kebengisan penduduk Hindu nya sendiri.
 
Sampai sekarang kalau di lihat Hindu dan Budha begitu dekat dengan 
kediktatoran. Cina, Myanmar, Korut adalah negara yg mengaku memiliki unsur 
Budha tapi pemimpin mrk sangat diktator. Thailand adalah kerajaan Budha yang 
sedang diguncang warga nya sendiri. Budha, Hindu, patung gede emas, pemimpin 
yang diktator adalah suatu paduan yang setimpal.
 
AD


      

Kirim email ke