Tanggal 19 Desember 61 tahun silam, Amir Sjarifuddin dan 10 orang lain ditembak 
di Desa Ngalihan, Solo, atas perintah Gubernur Militer Kolonel Gatot Subroto. 


Sebelumnya Amir Sjarifuddin sempat menyanyikan “Indonesia Raya”. Penulis kiri 
cenderung mengatakan setelah itu mereka juga melagukan Internationale. Adapun 
kalangan Kristen menambahkan bahwa Amir memegang Alkitab. Amir Sjarifuddin 
Harahap adalah mantan Perdana Menteri (PM) Republik Indonesia yang dieksekusi 
oleh bangsanya sendiri tanpa proses pengadilan. 

Amir Sjarifuddin (dan Sjahrir) adalah tokoh yang berjasa mempertahankan 
eksistensi negara Indonesia pada awal kemerdekaan.Tahun 1945–Januari 1948 
keduanya menjadi PM.Mereka diangkat untuk menangkis tuduhan Belanda bahwa 
Pemerintah Indonesia adalah boneka Tokyo karena Soekarno- Hatta berkolaborasi 
dengan “saudara tua dari Negeri Matahari Terbit”itu. 

Sejak November 1945 sampai Januari 1948, Amir Sjarifuddin berturut-turut 
menjadi Menteri Keamanan Rakyat/Menteri Pertahanan. Saat itu Indonesia berhasil 
membantu pemulangan ribuan pasukan Jepang dan internir Belanda. Pada awal 
kemerdekaan, unsur tentara terdiri atas berbagai kelompok terlatih (eks didikan 
Belanda/ Jepang) dan laskar. 

Hatta ingin secepatnya merasionalisasi tentara dari 400.000 menjadi 60.000, 
sedangkan Amir berpendapat diperlukan masa transisi.Perbedaan kebijakan itu 
antara lain yang di lapangan memicu timbulnya Peristiwa Madiun 1948 di mana 
Amir menjadi salah seorang korbannya. Jenjang karier Amir berkebalikan dengan 
beberapa politisi dewasa ini.

 

Dia ditahan Jepang dan masih mendekam di penjara Malang sampai 1 Oktober 1945 
sebelum dibebaskan dan diberangkatkan ke Jakarta untuk dilantik sebagai Menteri 
Penerangan. Kalau perjalanan hidup Amir “dari penjara ke kabinet”, yang terjadi 
di era Reformasi pada beberapa elite politik adalah “dari kabinet ke penjara”. 
Amir berasal dari keluarga Batak Islam bercampur Kristen. 

Kakeknya, Ephraim adalah seorang jaksa beragama Kristen.Ayahnya, Soripada, juga 
jadi jaksa dan beralih ke agama Islam ketika menikah dengan seorang gadis Batak 
muslim.Amir sempat menempuh pendidikan sekolah menengah di negeri Belanda 
mengikuti jejak saudara sepupunya TSG Mulia.Pergaulan semasa di Eropa dan 
setelah kembali ke Tanah Air tahun 1927 mengakibatkan dia tertarik kepada agama 
Kristen dan dibaptis tahun 1935. 

Dalam bidang politik, dia menjadi bendahara panitia persiapan kongres pemuda II 
tahun 1928 yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda. Tahun 1931 dia aktif dalam 
Partai Indonesia (Partindo) yang didirikan Bung Karno. Kemudian ketika 
tokohtokoh seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir diasingkan Belanda, Amir 
menggagas Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia). 

Organisasi ini cukup maju dalam mendefinisikan kewarganegaraan berdasarkan 
kediaman (tempat lahir), bukan ras. Tahun 1938–1941 Amir menjadi redaktur 
majalah sastra Poedjangga Baroe. 

Selanjutnya Amir juga aktif pada Gabungan Politik Indonesia (GAPI) bersama-sama 
dengan MH Thamrin. S e w a k t u menjadi Menteri Penerangan tahun 1945 dia 
mengeluarkan Maklumat Pers bulan Oktober 1945 yang menjamin kemerdekaan pers. 
Ini merupakan pernyataan pertama pemerintah tentang kehidupan pers. 

Amir Sjarifuddin adalah seorang pemimpin yang memiliki prinsip seperti 
dikisahkan Fransisca Fanggidae (82 tahun, eksil di Belanda) yang ikut dalam 
pelarian tahun 1948. Di suatu desa, anak buahnya mengambil buah kelapa milik 
warga,Amir mengeluarkan tembakan peringatan dan memarahi mereka. “Tentara harus 
melayani rakyat, bukan mengambil kepunyaan rakyat,”ujarnya.

 

Peristiwa Madiun 

Amir Sjarifuddin Harahap adalah satu dari demikian banyak korban peristiwa 
Madiun.Dalam buku pelajaran sejarah Indonesia, peristiwa Madiun 1948 dicatat 
sebagai pemberontakan kaum komunis untuk merebut kekuasaan Soekarno-Hatta.. 
Buktinya, tokoh penting dalam peristiwa itu,Musso,adalah kader PKI yang baru 
pulang dari Moskow. 

Kini sejarah resmi itu ditinjau kembali. Muncul versi lain misalnya yang 
beranggapan peristiwa Madiun merupakan persengketaan antara TNI dengan 
laskar-laskar revolusi lain yang berkelanjutan dengan saling menculik. Anthony 
Reid (Revolusi Nasional Indonesia,1996) mengatakan bahwa respons pemerintah 
terhadap peristiwa Madiun tidak sulit dimengerti. 

Negosiasi seperti yang diusulkan Sudirman mungkin dapat menyelamatkan banyak 
nyawa, tetapi dengan ongkos keberhasilan propaganda Belanda bahwa Republik 
Indonesia tidak berdaya terhadap komunis (1) dan AS mendukung Belanda untuk 
melakukan agresi (2). Soekarno-Hatta memilih bertindak tegas terhadap kelompok 
oposisi kiri tersebut. 

Dalam buku Harry Poeze, Verguisd en Vergeten,Tan Malaka, De linkse Beweging en 
Indonesische Revolutien 1945-1949 (Leiden, 2007), peristiwa Madiun 1948 dibahas 
sebanyak 300 halaman.Poeze menggunakan arsip Komintern di Moskow. 

Selama ini dikesankan bahwa itu gerakan lokal yang diangkat Soekarno-Hatta 
sebagai peristiwa nasional (agar RI dapat dukungan internasional, terutama 
Amerika Serikat). Menurut Poeze masa itu hierarki dalam partai komunis masih 
sangat kuat sehingga mustahil kegiatan lokal di Madiun tanpa restu politbiro 
PKI. 

Sebelum peristiwa itu meletus, Setiadjid dan Wikana diutus menemui Soemarsono. 
Ini berbeda dengan situasi tahun 1965 di mana manuver biro khusus PKI tidak 
diketahui oleh seluruh pucuk pimpinan partai tersebut. Poeze juga mengulas long 
march orang-orang kiri pascaperistiwa Madiun yang jarang disinggung dalam 
sejarah Indonesia.

 

Tidak kurang dari jarak 500 km ditempuh ribuan orang selama dua bulan dari 
Madiun ke arah Pacitan, lalu ke utara sebelumnya akhirnya mereka (antara lain 
Amir Sjarifuddin) ditangkap di perbatasan dengan wilayah yang dikuasai tentara 
Belanda. Poeze menemukan sebuah arsip menarik di Arsip Nasional RI bahwa 
Soeharto pernah menulis kepada “Paduka Tuan”Kolonel Djokosoejono, komandan 
tentara kiri, agar beliau datang ke Yogya dan menyelesaikan persoalan ini. 
Soeharto menulis, “Saya menjamin keselamatan Pak Djoko.” 

Dokumen ini menarik karena ternyata Soeharto mengambil inisiatif sendiri 
sebagai penengah dalam peristiwa Madiun. Menurut Soe Hok Gie dalam Orang-Orang 
Kiri di Persimpangan Jalan (1997), perdebatan apakah peristiwa Madiun merupakan 
pemberontakan (versi resmi) atau provokasi pemerintah Hatta (versi kiri) tidak 
menjawab persoalan mendasar. 

Yang terjadi sebetulnya adalah ketegangan di tengah masya-rakat (di Pulau Jawa) 
dalam revolusi nasional karena harapan- harapan yang tidak terpenuhi dan 
kesulitan ekonomi yang membawa frustrasi.Peristiwa Madiun akan lebih jelas bila 
dilacak secara multidisiplin dari aspek sosialpolitik (perubahan masyarakat 
pasca-1942), ekonomi (kehancuran ekonomi setelah perang), budaya (pertentangan 
Islam-nasionalis,Sunda versus Jawa melalui konflik divisi Siliwangi-Panembahan 
Senapati).(*) 

Asvi Warman Adam 
Sejarawan LIPI  
 
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/197326/



   Salam
Abdul Rohim
http://groups.google.com/group/peduli-jateng?hl=id


      

Kirim email ke