Artinya tidak  pernah mengenal kenyataan.  Adalah fatlal bila mempunyai seorang 
pemimpin yang tidak mengenal dan meyadari adanya kenyataan.  

  ----- Original Message ----- 
  From: Abdul Rohim 
  To: santrik...@yahoogroups.com 
  Sent: Tuesday, December 23, 2008 6:36 PM
  Subject: [zamanku] Saya Tidak Pernah Merasa Kalah


        Megawati Soekarnoputri:
        Saya Tidak Pernah Merasa Kalah
        PELUNCURAN buku Mereka Bicara Mega di Hotel Sultan, Jakarta, awal 
Desember lalu, semarak. Ratusan orang memenuhi ballroom, termasuk Sri Sultan 
Hamengku Buwono X, yang spesial datang dari Yogyakarta. Namun, ”sripanggung” 
hari itu tentulah Megawati Soekarnoputri, dan buku yang diluncurkan merupakan 
kumpulan tulisan kolega dan tokoh politik tentang diri Ketua Umum Partai 
Demokrasi Indonesia Perjuangan itu. 
        Menjelang Pemilihan Umum 2009, Megawati makin membuka diri. Selama ini, 
ketika calon presiden lain gencar membangun citra lewat iklan dan media, 
Megawati banyak diam sehingga tmbul kesan tertutup—tentu tak bagus bagi calon 
pemimpin. 
        Kesan itu mulai berubah. Perempuan 61 tahun itu kini lebih sering 
memberikan wawancara media. Bersama keluarga, ia tampil dalam acara televisi. 
Rabu pekan lalu, ia menerima Tempo di rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta 
Pusat. 
        Didahului makan malam bersama Taufiq Kiemas, suami Megawati, dan Ketua 
PDI Perjuangan Jakarta, Adang Ruchiatna, dengan menu nasi goreng, sate ayam, 
lontong, ayam goreng, dan kerupuk udang, Tempo kemudian menemui Megawati di 
ruang tamu yang disekat partisi bertatahkan ayat suci Al-Quran. Hampir dua jam, 
ibu tiga anak itu menceritakan latar belakang pencalonannya sebagai presiden, 
dan berbagai isu menyangkut dirinya. 
        Megawati malam itu bergaun terusan bermotif mawar kecil berwarna merah 
dan biru. Ia menjawab lancar pertanyaan, meski sedang flu. Suaranya terdengar 
sedikit serak dan sengau. Selama wawancara, tujuh kali ia menyeka hidung dengan 
tisu, dan empat kali batuk kecil. Beberapa kali pula ia menyesap teh dari 
cangkir putih untuk memulihkan suaranya. 
        Apa yang mendorong Anda maju kembali sebagai calon presiden? 
          Dalam kongres di Bali 2005 ditetapkan, ketua umum terpilih otomatis 
menjadi calon presiden dari PDI Perjuangan. Lalu kami rapat kerja nasional. Di 
situ keputusan diperteguh dengan permintaan dari seluruh jajaran struktur 
partai. Kemudian diulangi lagi dalam rapat koordinasi nasional. Akhirnya, saya 
bersedia. Bukan sombong, jabatan (presiden) itu pernah saya emban. Yang mau 
saya lihat adalah bagaimana kesiapan Partai. Sebab, tanpa persiapan lebih baik, 
terutama dari pengalaman 2004, kami bakal menghadapi kesulitan besar. 
        Sejumlah pengurus DPP PDI Perjuangan terkejut karena tak menduga 
jawaban Anda secepat itu? 
          Orang boleh saja ngomong, bersuara. Tapi kan yang ditanya saya? Nanti 
kalau saya tidak cepat menjawab, bisa saja saya dikatakan peragu. Dalam rapat 
koordinasi nasional, terkumpul seluruh aspirasi warga PDI Perjuangan yang ada 
dalam struktur partai, juga yang duduk di legislatif dan eksekutif. Saya 
melihat, kita perlu persepsi yang sama, baik di jajaran eksekutif, legislatif, 
maupun struktur partai. Ini tantangan, karena mengorganisasi 16 ribu peserta 
bukan hal mudah. Kita harus bisa mendisiplinkan mereka. Mereka datang, dan 
semua pendanaannya dilakukan gotong-royong. Menurut saya, sebagai Ketua Umum 
PDI Perjuangan, sekarang kondisi Partai sudah jauh lebih baik daripada 2004.
        Pada 2004 ada 40 juta orang yang memilih Anda. Anda yakin mereka masih 
mendukung pada 2009 nanti? 
          Sampai sekarang pun saya tak pernah menyatakan kalah. Waktu itu media 
menyatakan saya tidak kesatria, tidak menyatakan kekalahan. Saya bilang, aduh, 
ini orang ngomong kok enak saja, ya. Sebagai pejuang, tak pernah saya merasa 
kalah. Ini untuk memberikan semangat ke warga saya. Saya menyatakan bahwa saya 
kurang suara. Mari kita rebut kembali. Saya tahulah sebetulnya permainan yang 
dilakukan pada waktu itu. 
        Permainan apa? Kalau ada kecurangan, kenapa Anda tidak protes? 
          Begini, ya. Pemilihan langsung itu saya yang membuat. Waktu itu, 
sebagai presiden, saya dihadapkan pada pilihan: menguntungkan PDI 
Perjuangan—yang posisi puncaknya dengan sendirinya akan saya raih lagi sebagai 
presiden—atau memberikan kepada nation ini suatu hal yang konkret. Bahwa pemilu 
langsung bisa dilakukan di Indonesia. Waktu itu, media dan pengamat banyak yang 
bilang pemilu ini tidak akan berhasil, berdarah-darah, mungkin mundur, dan 
sebagainya. Kenapa, sih, komentar seperti itu yang harus dibesar-besarkan? 
Kapan kita akan maju kalau hanya negative thinking yang disebarkan, yang 
membuat rakyat akhirnya takut dan ragu? Makanya saya pikir, ya sudah, 
bismillah, pemilu langsung harus dilakukan. Waktu itu Menteri Koordinator 
Politik dan Keamanan saya sudah entah ke mana. Betul, kan? Di suatu 
pemerintahan, yang namanya menteri itu seharusnya ada di posnya. Saya bilang 
ingin menyukseskan pemilu, bukan untuk saya, tapi untuk republik ini. Orang 
asing waktu itu semua tanya pada saya, apa betul bisa dilakukan pemilu langsung 
tanpa guncangan. Saya bilang, bisa. Mengapa? Rakyat saya bukan rakyat yang tak 
beradab. Itu yang saya katakan kepada banyak kedutaan yang ingin bertemu dengan 
saya. Dan buktinya (pemilu) memang sukses, alhamdulillah.
        Waktu itu Menteri Koordinator Politik dan Keamanan beralasan tidak 
diundang ke Istana, bahkan sampai sebulan? 
          Ya, sekarang cari saja orang yang punya kompetensi untuk menerangkan 
persidangan pada waktu itu. Jangan lupa, adik ipar beliau (Brigjen TNI Eddie 
Wibowo) adalah ajudan saya sampai last minute. Jadi, kurang apa lagi? Orang 
bisa saja membuat alasan. Kalau pada waktu itu saya hanya terdorong emosi, 
hanya mengikuti arus ingin berpolemik, bisa dibayangkan ke mana bangsa ini 
terseret. 
        Anda merasa sakit hati terhadap SBY? 
          Saya enggak merasa sakit sati. Saya hanya enggak mau ketemu saja 
dengan orang yang menurut saya kok sikapnya seperti itu. Tidak boleh? Ya, boleh 
saja, itu kan hak saya.
        Tapi Taufiq Kiemas boleh bertemu dengan SBY? 
          Enggak apa-apa, kok. Memang kenapa? Keluarga saya ini demokratis. 
Kemarin Puan (Puan Maharani, putri Mega) juga baru ketemu di Yogyakarta ketika 
mewakili saya. 
        Kalau Pak SBY minta bertemu, apa bisa diterima? Atau ada syaratnya? 
          Ya..., diemin sajalah. Kalau mau ketemu, terus untuk apa? Kok ya 
minta ketemunya hari-hari ini.
        Sampai sekarang Anda masih percaya bahwa sistem pemilihan presiden 
secara langsung itu baik? 
          Secara substansi memang harus, kalau kita mau berdemokrasi. Makanya 
saya enggak setuju ketika banyak pengamat bilang tidak apa-apa golput. Saya 
juga ”dipukul” ketika saya mengatakan jangan golput. Menurut saya, dalam hak 
dan kewajiban warga negara itu tidak ada gray area. Kita punya hak dipilih, 
lalu kewajiban kita memilih. Jadi, enggak ada itu, sebagai warga negara kalau 
tidak senang, lalu diam, golput. Kalau secara teknis banyak kekurangan, namanya 
juga pertama kali dilakukan setelah 1955. 
        Di beberapa pemilihan kepala daerah, angka golput malah sampai 40 
persen…. 
          Ya, karena didorong-dorong. Rakyat kita yang masih belum mengerti dan 
masih banyak kendalanya dalam proses (pemilihan) itu sendiri akhirnya ikut.
        Tokoh yang mendorong golput termasuk Gus Dur…. 
          Saya bilang sama Gus Dur, ”Gus, jangan begitulah memberi pelajaran. 
Masak, disuruh golput?”
        Ada prediksi, Pemilu 2009 merupakan pertarungan antara Anda dan SBY 
saja. Yang lain hanya penggembira…. 
          (Tertawa) Itu kan omongan orang, silakan saja. 
        Anda sendiri kenapa yakin maju? 
          Buat saya, semuanya wajar saja. Mereka yang mau mencalonkan diri 
tentu merasa memiliki kekuatan. Makanya yang paling penting buat saya adalah 
memberikan pendidikan politik pada rakyat. Kita selalu mengatakan, rakyat 
Indonesia perlu pendidikan yang baik. Enggak ada yang akan ngomong tidak, pasti 
ya semua. Tapi bagaimana kalau pada tataran pelaksanaannya kita sendiri sering 
tidak konsekuen? Kalau rakyat terus didorong tidak memilih, bagaimana? Mau uji 
coba apa lagi? Anda punya ide baru? 
        Mungkin akan kembali ke yang dulu, sistem perwakilan? 
          Bayangkan sekarang kalau itu dilakukan, kita akan mundur, set back 
itu. Untuk apa bereformasi dengan segala jerih payah, korban, air mata, darah, 
dan sebagainya. Kemudian (mundur) karena enggak puas pada si A atau si B. 
Memangnya manusia ada yang sempurna?
        Apa penilaian Anda terhadap kondisi masyarakat di bawah pemerintahan 
SBY-JK? 
          Saya tidak mau menilai di luar dulu. Saya menilai internal saya dulu, 
karena itulah sumber kekuatan saya. Ngapain saya menilai di luar ketika tidak 
tahu rumah sendiri?
        Dari mana Anda tahu banyak yang tidak puas dengan keadaan sekarang? 
Apakah mereka menyatakan akan mendukung Anda lagi? 
          Mereka kan bilang, ”Kami ini salah pilih, Bu”. Ya, saya diam saja, 
memang mau bagaimana? Saya mesti menghibur atau bagaimana?
        Banyak yang berbicara seperti itu? 
          Banyak. Perorangan atau organisasi. Dalam kampanye, saya kira sangat 
jelas: beri saya waktu lagi. Saya sebagai presiden terhitung hanya tiga tahun. 
Banyak orang lupa itu, menyangka saya memimpin lima tahun. Boleh dilihat dalam 
tiga tahun itu, success story cari sendirilah. 
        Kenapa sekarang memilih masalah sembako sebagai tema kampanye? 
          Karena, selama saya berkeliling ke daerah, topik yang saya tanyakan 
masalah ekonomi. Di sana sangat tergambarkan, keluhan masyarakat adalah 
persoalan sembako. Mereka bilang kenapa waktu zaman saya tidak semahal 
sekarang. Mereka bisa hafal harga beras, cabai, daging. Lantas saya bilang, 
”Ya, karena kamu ndak milih saya.” 
        Anda dikritik kurang Islami. Di buku Mereka Bicara Mega malah ada saran 
mengubah penampilan pakai kerudung? 
          Sekarang saya mau tanya, masalah Islami itu sebetulnya opo to? 
Makanya saya bilang, biarkan saja orang bicara, berkomentar. Saya juga 
kapan-kapan boleh dong komentar. 
        Mungkin karena PDIP konsisten dengan isu pluralisme? 
          Siapa yang bilang Islam tidak pluralis? Saya sendiri orang Islam. 
Keluarga saya orang Islam. Menurut pandangan saya, kalau kita bicara tentang 
Nabi Muhammad, coba saja baca, apa beliau tidak pluralis? Dia sangat pluralis.
        Apa tanggapan Anda tentang penolakan terhadap pemimpin perempuan? 
          Menurut saya, kita perlu berhati-hati kalau agama dibawa ke ranah 
politik. Agama yang khusyuk dan sakral bisa jadi kacau-balau. Saya bukan ahli, 
saya bicara dan diskusi dengan Siti Musdah Mulia. Saya tanya, ”Sebetulnya salah 
kita ini apa ya, Mbak? Yang Di Atas itu kan sudah Maha, berapa nama Dia punya. 
Kenapa di-create perempuan?” Saya dalam doa juga sering bertanya, ”Sebetulnya 
apa sih kami (perempuan) ini di mata-Mu? Padahal Kamu buat kami, perempuan, 
menjadi satu bagian yang, menurut saya, kalau enggak ada, musnahlah yang 
namanya wangsa manusia.” Mbak Musdah menjawab, ”Kenapa mesti serius banget 
ditanggepin, Mbak?” (Mega tertawa). 
        Sampai sekarang kampanye menolak pemimpin perempuan masih dilakukan.. 
Seperti yang dialami Khofifah Indar Parawansa di Jawa Timur.… 
          Saya sendiri sampai guyon dengan Khofifah: ”Lucu ya, Mbak, kalau 
dipikir-pikir, kita ini katanya kaum lemah, tapi ternyata ditakuti, lho.” (Mega 
tertawa). Iya, kan? Harusnya, kalau wanita lemah, kan dibiarin saja, ya? 
(Tertawa) 
        Bagaimana tentang calon wakil presiden Anda, apa sudah mulai mengerucut 
dari enam nama itu? 
          Kalau mau demokratis, silakan saja mengajukan nama. Tapi, jangan 
lupa, sebagai ketua umum, setelah menerima mandat kongres, saya punya hak 
prerogatif. Yang akan menjalankan itu kan saya? Menurut UUD 1945, wakil 
presiden itu membantu presiden. Menurut saya, tafsir membantu itu serius. 
        Maksudnya, wakil presiden itu cuma ban serep? 
          Contoh konkret, ketika saya jadi presiden, Pak Hamzah (Haz) kan 
wakilnya? Dan kami bukan paket, tapi dipilih MPR. Saya bicara terbuka dengan 
beliau, bagaimana pengertiannya membantu. Pak Hamzah mengatakan: ”Lho, saya 
membantu Ibu.” Jadi, kita memang harus mempertemukan dua sosok ini. 
Alhamdulillah, sepanjang saya dengan Pak Hamzah, beliau memang membantu saya. 
Dalam arti, ada hal yang memang harus diputuskan oleh presiden, itu yang beliau 
katakan. 
        Bukankah sejak reformasi posisi wakil presiden sekarang lebih menonjol? 
          Kalau mau sharing power, apa mungkin? Sekarang kita perhatikan, kalau 
seorang wakil presiden bertindak—istilah saya ”one step ahead”— nuansanya bisa 
sampai ke bawah. Ketika saya jadi wakil Gus Dur, mereka sudah reka penugasan 
yang diberikan kepada saya, harusnya saya bagaimana. Saya berbicara pada diri 
saya, menyangkut moral dan etika berpolitik. Tidak pernah saya katakan pada Gus 
Dur: ”Oh, Gus, ini sudah saya selesaikan.” Saya selalu katakan, ”Bapak 
Presiden, ini hal-hal yang telah kita siapkan. Silakan, maunya bagaimana.” 
        Dalam acara peluncuran buku kemarin, Anda menekankan agar wakil 
presiden jangan sampai berperan sebagai presiden? 
          Ya..., itu toh siapa saja, terserah siapa yang merasa. (Tertawa)
        Mengenai calon pendamping, apakah ukuran ideal yang diperhitungkan? 
          Kalau ukurannya ideal, karena saya perempuan, menurut saya, ya saya 
ini cukup cantik. Nanti yang di sebelah saya mestinya paling tidak bisa sesuai 
(Mega tersenyum). Mungkin joke-nya seperti itu. Lalu juga dalam diskusi kita 
bisa sama-sama. Jangan bondo kosong (modal kosong). Itu kan joke saja 
(tertawa). Tapi maksudnya bukan materi, lho. Masak saya tanya, bondomu piro 
(hartamu berapa). 
        Anda percaya bahwa pasangan presiden dan wakil presiden harus 
mencerminkan kombinasi militer-nonmiliter, Jawa-luar Jawa, partai 
nasionalis-religius? 
          Itu merupakan bagian dari kriteria, tapi bukan kepastian mutlak.. 
Alangkah sulitnya kalau hal itu dijadikan patokan kunci. Saya bilang ke anak- 
cucu, kalian ini turunan gado-gado, apa enggak pusing? Seperti saya ini, kan 
bunglon, dalam hal positif? Mau dibilang Sumatera bisa, karena saya memang ada 
keturunan Sumatera. Luar Jawa? Boleh juga, karena saya (keturunan) Bali dan 
Sumatera. Tapi kalau dibilang bukan Jawa, no, no..., saya Jawa juga. Jadi, 
gado-gado. 

------------------------------------------------------------------------

        DIAH PERMATA MEGAWATI SETIAWATI SOEKARNOPUTRI 
        Tempat dan tanggal lahir: Yogyakarta, 23 Januari 1947 
        Pendidikan: 
          a.. SD Perguruan Cikini Jakarta, 1954-1959 
          b.. SMP-SMA Perguruan Cikini, Jakarta, 1960-1965 
          c.. Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, 1965-1967, tidak 
selesai 
          d.. Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, 1970-1972, tidak 
selesai 
        Karier politik: 
          a.. Anggota GMNI, Bandung, 1965 
          b.. Ketua DPC PDI Jakarta Pusat, 1986 
          c.. Anggota Fraksi PDI DPR-RI, 1987-1997 
          d.. Ketua Umum PDI versi Kongres Luar Biasa Surabaya, 1993-1999 
          e.. Ketua Umum PDI Perjuangan, 1999-sekarang 
          f.. Wakil Presiden RI, Oktober 1999-23 Juli 2001 
          g.. Presiden RI, Juli 2001-2004
        
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/12/22/WAW/mbm.20081222.WAW129032.id.html


           Salam
        Abdul Rohim
        http://groups.google.com/group/peduli-jateng?hl=id 



   

Kirim email ke