http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008122401084169

      Rabu, 24 Desember 2008 
     
      INDONESIA MEMILIH 
     
     
     
Kalla: Merah 'Berbahaya' 

      LEBAK (Lampost/Ant): Menjelang Pemilu 2009, segala sesuatu sering 
dijadikan simbol politik, tidak terkecuali warna dasar partai politik. Wakil 
Presiden Jusuf Kalla mengatakan hijau selalu cocok dengan kuning dan akan padu 
dengan biru. Namun, warna merah akan "berbahaya".

      "Warna hijau dan kuning sebenarnya cocok. Hutan menghijau. Tapi kalau 
tananam mau berhasil harus menguning," kata Wapres saat menghadiri acara 
menanam pohon dalam rangka Bulan Menanam Pohon di bukit kritis Desa Ciuyah, 
Sajira, Lebak, Banten, Selasa (23-12).

      Pernyataan Wapres soal warna tersebut kontan disambut tawa dan tepuk 
tangan ribuan warga. "Kalau padi mau dipanen itu menguning, akan cocok kalau 
langit biru," kata Ketua Umum DPP Partai Golkar itu.

      Guyonan tidak berhenti pada warna kuning, biru, dan hijau. Ketika bagian 
pidatonya menyinggung masalah penanggulangan kebakaran hutan, kembali Kalla 
melontarkan guyonan merujuk pada warna khas partai politik tertentu. "Kalau 
merah biasanya bahaya. Merah kan kebakaran hutan. Hahaha...," kata Wapres 
sambil tertawa dan disambut tepuk tangan meriah.

      Pada Pemilu 2009 mendatang, Partai Golkar yang berciri khas warna kuning 
diperkirakan akan bersaing ketat dengan PDI Perjuangan dengan karakter warna 
merah. Partai Demokrat dominan warna biru, sementara, sejumlah partai Islam, 
seperti PBB dan PPP yang mendukung SBY-JK, didominasi warna hijau.

      Usai berpidato, Kalla menanam pohon yang menandai dimulainya gerakan 
serupa serentak di Tanah Air. Gubernur Banten R. Atut Choisiyah, Menhut M.S. 
Ka'ban, dan Menteri PU Djoko Kirmanto, turut menanam pohon di lahan kritis 
bukit Desa Cieuyih itu.

      Pencitraan Golkar

      Secara terpisah, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional (LSN) Umar S. 
Bakry dalam rilisnya kemarin menilai Golkar sulit melakukan politik pencitraan 
untuk mendongkrak elektabilitas. Semua itu karena posisi Jusuf Kalla yang 
kurang menguntungkan.

      Jabatan Kalla sebagai Wapres memosisikan Golkar sebagai "partai banci." 
Jika pemerintahan berhasil, Partai Demokrat akan lebih dominan daripada Golkar. 
Jika kondisi ekonomi membaik, ujarnya, Demokrat sebagai partai pemerintah akan 
menuai popularitas. Sebaliknya ekonomi memburuk, PDI Perjuangan akan menjadi 
harapan publik," kata Umar.

      Sementara itu, dalam kondisi ekonomi apa pun, baik atau buruk, Golkar 
tidak dapat mengambil keuntungan. Selain itu, tingkat elektabilitas Kalla yang 
rendah dalam sejumlah survei juga menyulitkan Golkar membangun politik 
pencitraan. "Jika Golkar memaksakan mengusung Kalla sebagai capres, sangat 
mungkin akan kalah," kata dia.

      Sebaliknya, jika Golkar mengusung kader lain yang elektabilitasnya bagus 
(misalnya Sultan), juga tidak mungkin karena hal ini dianggap mendahului Kalla. 
Kondisi dilematis ini membuat Golkar kehilangan kesempatan untuk mencitrakan 
diri sebagai partai besar yang memiliki kader-kader hebat pada Pilpres 2009.

      Menurut dia, peluang Golkar memenangi Pemilu 2009 sebenarnya belum 
tertutup. Berdasar survei LSN Oktober 2008, Golkar masih terpopuler (paling 
dikenal publik). "Bersama Partai Demokrat, Golkar juga menjadi partai 
terfavorit (paling disukai publik)," kata Umar.

      Jika elektabilitas Partai Golkar sekarang ini terbenam di bawah PDI-P dan 
Partai Demokrat, hal ini ini lebih banyak disebabkan kegagalan Golkar membangun 
pencitraan. Apabila awal 2009 nanti Golkar mengambil sikap tegas terkait 
posisinya di pemerintahan maupun menetapkan capres sendiri, masih ada 
kesempatan merebut simpati publik. "Ketegasan sikap Golkar menentukan politik 
pencitraan seperti apa yang hendak dibangun," kata dia. n DTC
     

<<bening.gif>>

Kirim email ke