kadang seseorang harus berani mengakui kekalahan, sebagai bentuk fair play, 
namun jika alasan mega yang tidak pernah merasa kalah, adalah sebagai pengobar 
semangat simpatisan PDI perjuangan, juga tidak sepenuhnya salah, sikap ini saya 
rasa banyak dipakai oleh seorang panglima perang dalam memompa semangat tempur 
anak buahnya.

semoga alasan inilah yang digunakan Ibu Megawati.
selamat berjuang Ibu mega, jangan kecewakan laskar catur muka dengan manuver 
politik Ibu yang konyol.




________________________________
Dari: Sunny <am...@tele2.se>
Kepada: zamanku@yahoogroups.com; santrik...@yahoogroups.com
Terkirim: Kamis, 25 Desember, 2008 18:14:33
Topik: Re: [zamanku] Saya Tidak Pernah Merasa Kalah


 
 
Artinya tidak  pernah mengenal 
kenyataan.  Adalah fatlal bila mempunyai seorang pemimpin yang tidak 
mengenal dan meyadari adanya kenyataan.  
 
----- Original Message ----- 
From: Abdul  Rohim 
To: santrik...@yahoogro ups.com 
Sent: Tuesday, December 23, 2008 6:36  PM
Subject: [zamanku] Saya Tidak Pernah  Merasa Kalah

Megawati Soekarnoputri:
Saya  Tidak Pernah Merasa Kalah
PELUNCURAN buku Mereka Bicara Mega di Hotel Sultan, Jakarta, awal  Desember 
lalu, semarak. Ratusan orang memenuhi ballroom, termasuk Sri  Sultan Hamengku 
Buwono X, yang spesial datang dari Yogyakarta. Namun,  ”sripanggung” hari itu 
tentulah Megawati Soekarnoputri, dan buku yang  diluncurkan merupakan kumpulan 
tulisan kolega dan tokoh politik tentang  diri Ketua Umum Partai Demokrasi 
Indonesia Perjuangan itu. 
Menjelang Pemilihan Umum 2009, Megawati makin membuka diri. Selama  ini, ketika 
calon presiden lain gencar membangun citra lewat iklan dan  media, Megawati 
banyak diam sehingga tmbul kesan tertutup—tentu tak  bagus bagi calon pemimpin. 
Kesan itu mulai berubah. Perempuan 61 tahun itu kini lebih sering  memberikan 
wawancara media. Bersama keluarga, ia tampil dalam acara  televisi. Rabu pekan 
lalu, ia menerima Tempo di rumahnya di Jalan Teuku  Umar, Jakarta Pusat. 
Didahului makan malam bersama Taufiq Kiemas, suami Megawati, dan  Ketua PDI 
Perjuangan Jakarta, Adang Ruchiatna, dengan menu nasi goreng,  sate ayam, 
lontong, ayam goreng, dan kerupuk udang, Tempo kemudian  menemui Megawati di 
ruang tamu yang disekat partisi bertatahkan ayat  suci Al-Quran. Hampir dua 
jam, ibu tiga anak itu menceritakan latar  belakang pencalonannya sebagai 
presiden, dan berbagai isu menyangkut  dirinya. 
Megawati malam itu bergaun terusan bermotif mawar kecil berwarna  merah dan 
biru. Ia menjawab lancar pertanyaan, meski sedang flu.  Suaranya terdengar 
sedikit serak dan sengau. Selama wawancara, tujuh  kali ia menyeka hidung 
dengan tisu, dan empat kali batuk kecil. Beberapa  kali pula ia menyesap teh 
dari cangkir putih untuk memulihkan suaranya. 
Apa yang mendorong Anda maju kembali sebagai calon presiden? 
Dalam kongres di Bali 2005 ditetapkan, ketua umum terpilih  otomatis menjadi 
calon presiden dari PDI Perjuangan. Lalu kami rapat  kerja nasional. Di situ 
keputusan diperteguh dengan permintaan dari  seluruh jajaran struktur partai. 
Kemudian diulangi lagi dalam rapat  koordinasi nasional. Akhirnya, saya 
bersedia. Bukan sombong, jabatan  (presiden) itu pernah saya emban. Yang mau 
saya lihat adalah bagaimana  kesiapan Partai. Sebab, tanpa persiapan lebih 
baik, terutama dari  pengalaman 2004, kami bakal menghadapi kesulitan besar. 
Sejumlah pengurus DPP PDI Perjuangan terkejut karena tak menduga  jawaban Anda 
secepat itu? 
Orang boleh saja ngomong, bersuara. Tapi kan yang ditanya  saya? Nanti kalau 
saya tidak cepat menjawab, bisa saja saya dikatakan  peragu. Dalam rapat 
koordinasi nasional, terkumpul seluruh aspirasi  warga PDI Perjuangan yang ada 
dalam struktur partai, juga yang duduk  di legislatif dan eksekutif. Saya 
melihat, kita perlu persepsi yang  sama, baik di jajaran eksekutif, legislatif, 
maupun struktur partai.  Ini tantangan, karena mengorganisasi 16 ribu peserta 
bukan hal mudah.  Kita harus bisa mendisiplinkan mereka. Mereka datang, dan 
semua  pendanaannya dilakukan gotong-royong. Menurut saya, sebagai Ketua Umum  
PDI Perjuangan, sekarang kondisi Partai sudah jauh lebih baik daripada  2004.
Pada 2004 ada 40 juta orang yang memilih Anda. Anda yakin mereka  masih 
mendukung pada 2009 nanti? 
Sampai sekarang pun saya tak pernah menyatakan kalah.  Waktu itu media 
menyatakan saya tidak kesatria, tidak menyatakan  kekalahan. Saya bilang, aduh, 
ini orang ngomong kok enak saja, ya.  Sebagai pejuang, tak pernah saya merasa 
kalah. Ini untuk memberikan  semangat ke warga saya. Saya menyatakan bahwa saya 
kurang suara. Mari  kita rebut kembali. Saya tahulah sebetulnya permainan yang 
dilakukan  pada waktu itu. 
Permainan apa? Kalau ada kecurangan, kenapa Anda tidak protes? 
Begini, ya. Pemilihan langsung itu saya yang membuat..  Waktu itu, sebagai 
presiden, saya dihadapkan pada pilihan:  menguntungkan PDI Perjuangan—yang 
posisi puncaknya dengan sendirinya  akan saya raih lagi sebagai presiden—atau 
memberikan kepada nation ini  suatu hal yang konkret. Bahwa pemilu langsung 
bisa dilakukan di  Indonesia. Waktu itu, media dan pengamat banyak yang bilang 
pemilu ini  tidak akan berhasil, berdarah-darah, mungkin mundur, dan 
sebagainya.  Kenapa, sih, komentar seperti itu yang harus dibesar-besarkan? 
Kapan  kita akan maju kalau hanya negative thinking yang disebarkan, yang  
membuat rakyat akhirnya takut dan ragu? Makanya saya pikir, ya sudah,  
bismillah, pemilu langsung harus dilakukan. Waktu itu Menteri  Koordinator 
Politik dan Keamanan saya sudah entah ke mana. Betul, kan?  Di suatu 
pemerintahan, yang namanya menteri itu seharusnya ada di  posnya. Saya bilang 
ingin menyukseskan pemilu, bukan untuk saya, tapi  untuk republik
 ini. Orang asing waktu itu semua tanya pada saya, apa  betul bisa dilakukan 
pemilu langsung tanpa guncangan. Saya bilang,  bisa. Mengapa? Rakyat saya bukan 
rakyat yang tak beradab. Itu yang  saya katakan kepada banyak kedutaan yang 
ingin bertemu dengan saya.  Dan buktinya (pemilu) memang sukses, alhamdulillah.
Waktu itu Menteri Koordinator Politik dan Keamanan beralasan  tidak diundang ke 
Istana, bahkan sampai sebulan? 
Ya, sekarang cari saja orang yang punya kompetensi untuk  menerangkan 
persidangan pada waktu itu.. Jangan lupa, adik ipar beliau  (Brigjen TNI Eddie 
Wibowo) adalah ajudan saya sampai last minute.  Jadi, kurang apa lagi? Orang 
bisa saja membuat alasan. Kalau pada  waktu itu saya hanya terdorong emosi, 
hanya mengikuti arus ingin  berpolemik, bisa dibayangkan ke mana bangsa ini 
terseret. 
Anda merasa sakit hati terhadap SBY? 
Saya enggak merasa sakit sati. Saya hanya enggak mau  ketemu saja dengan orang 
yang menurut saya kok sikapnya seperti itu.  Tidak boleh? Ya, boleh saja, itu 
kan hak saya.
Tapi Taufiq Kiemas boleh bertemu dengan SBY? 
Enggak apa-apa, kok. Memang kenapa? Keluarga saya ini  demokratis. Kemarin Puan 
(Puan Maharani, putri Mega) juga baru ketemu  di Yogyakarta ketika mewakili 
saya. 
Kalau Pak SBY minta bertemu, apa bisa diterima? Atau ada  syaratnya? 
Ya..., diemin sajalah. Kalau mau ketemu, terus untuk apa?  Kok ya minta 
ketemunya hari-hari ini.
Sampai sekarang Anda masih percaya bahwa sistem pemilihan  presiden secara 
langsung itu baik? 
Secara substansi memang harus, kalau kita mau  berdemokrasi. Makanya saya 
enggak setuju ketika banyak pengamat bilang  tidak apa-apa golput. Saya juga 
”dipukul” ketika saya mengatakan  jangan golput. Menurut saya, dalam hak dan 
kewajiban warga negara itu  tidak ada gray area. Kita punya hak dipilih, lalu 
kewajiban kita  memilih. Jadi, enggak ada itu, sebagai warga negara kalau tidak 
 senang, lalu diam, golput. Kalau secara teknis banyak kekurangan,  namanya 
juga pertama kali dilakukan setelah 1955. 
Di beberapa pemilihan kepala daerah, angka golput malah sampai  40 persen…. 
Ya, karena didorong-dorong. Rakyat kita yang masih belum  mengerti dan masih 
banyak kendalanya dalam proses (pemilihan) itu  sendiri akhirnya ikut.
Tokoh yang mendorong golput termasuk Gus Dur…. 
Saya bilang sama Gus Dur, ”Gus, jangan begitulah memberi  pelajaran. Masak, 
disuruh golput?”
Ada prediksi, Pemilu 2009 merupakan pertarungan antara Anda dan  SBY saja. Yang 
lain hanya penggembira…. 
(Tertawa) Itu kan omongan orang, silakan saja. 
Anda sendiri kenapa yakin maju? 
Buat saya, semuanya wajar saja. Mereka yang mau  mencalonkan diri tentu merasa 
memiliki kekuatan. Makanya yang paling  penting buat saya adalah memberikan 
pendidikan politik pada rakyat.  Kita selalu mengatakan, rakyat Indonesia perlu 
pendidikan yang baik.  Enggak ada yang akan ngomong tidak, pasti ya semua. Tapi 
bagaimana  kalau pada tataran pelaksanaannya kita sendiri sering tidak 
konsekuen?  Kalau rakyat terus didorong tidak memilih, bagaimana? Mau uji coba 
apa  lagi? Anda punya ide baru? 
Mungkin akan kembali ke yang dulu, sistem perwakilan? 
Bayangkan sekarang kalau itu dilakukan, kita akan mundur,  set back itu. Untuk 
apa bereformasi dengan segala jerih payah, korban,  air mata, darah, dan 
sebagainya. Kemudian (mundur) karena enggak puas  pada si A atau si B. 
Memangnya manusia ada yang sempurna?
Apa penilaian Anda terhadap kondisi masyarakat di bawah  pemerintahan SBY-JK? 
Saya tidak mau menilai di luar dulu. Saya menilai internal  saya dulu, karena 
itulah sumber kekuatan saya. Ngapain saya menilai di  luar ketika tidak tahu 
rumah sendiri?
Dari mana Anda tahu banyak yang tidak puas dengan keadaan  sekarang? Apakah 
mereka menyatakan akan mendukung Anda lagi? 
Mereka kan bilang, ”Kami ini salah pilih, Bu”. Ya, saya  diam saja, memang mau 
bagaimana? Saya mesti menghibur atau  bagaimana?
Banyak yang berbicara seperti itu? 
Banyak. Perorangan atau organisasi. Dalam kampanye, saya  kira sangat jelas: 
beri saya waktu lagi. Saya sebagai presiden  terhitung hanya tiga tahun. Banyak 
orang lupa itu, menyangka saya  memimpin lima tahun. Boleh dilihat dalam tiga 
tahun itu, success story  cari sendirilah. 
Kenapa sekarang memilih masalah sembako sebagai tema  kampanye? 
Karena, selama saya berkeliling ke daerah, topik yang saya  tanyakan masalah 
ekonomi. Di sana sangat tergambarkan, keluhan  masyarakat adalah persoalan 
sembako. Mereka bilang kenapa waktu zaman  saya tidak semahal sekarang. Mereka 
bisa hafal harga beras, cabai,  daging. Lantas saya bilang, ”Ya, karena kamu 
ndak milih saya.” 
Anda dikritik kurang Islami. Di buku Mereka Bicara Mega malah  ada saran 
mengubah penampilan pakai kerudung? 
Sekarang saya mau tanya, masalah Islami itu sebetulnya opo  to? Makanya saya 
bilang, biarkan saja orang bicara, berkomentar. Saya  juga kapan-kapan boleh 
dong komentar. 
Mungkin karena PDIP konsisten dengan isu pluralisme? 
Siapa yang bilang Islam tidak pluralis? Saya sendiri orang  Islam. Keluarga 
saya orang Islam. Menurut pandangan saya, kalau kita  bicara tentang Nabi 
Muhammad, coba saja baca, apa beliau tidak  pluralis? Dia sangat pluralis.
Apa tanggapan Anda tentang penolakan terhadap pemimpin  perempuan? 
Menurut saya, kita perlu berhati-hati kalau agama dibawa  ke ranah politik. 
Agama yang khusyuk dan sakral bisa jadi kacau-balau.  Saya bukan ahli, saya 
bicara dan diskusi dengan Siti Musdah Mulia.  Saya tanya, ”Sebetulnya salah 
kita ini apa ya, Mbak? Yang Di Atas itu  kan sudah Maha, berapa nama Dia punya. 
Kenapa di-create perempuan?”  Saya dalam doa juga sering bertanya, ”Sebetulnya 
apa sih kami  (perempuan) ini di mata-Mu? Padahal Kamu buat kami, perempuan, 
menjadi  satu bagian yang, menurut saya, kalau enggak ada, musnahlah yang  
namanya wangsa manusia.” Mbak Musdah menjawab, ”Kenapa mesti serius  banget 
ditanggepin, Mbak?” (Mega tertawa). 
Sampai sekarang kampanye menolak pemimpin perempuan masih  dilakukan.. Seperti 
yang dialami Khofifah Indar Parawansa di Jawa  Timur.… 
Saya sendiri sampai guyon dengan Khofifah: ”Lucu ya, Mbak,  kalau 
dipikir-pikir, kita ini katanya kaum lemah, tapi ternyata  ditakuti, lho.” 
(Mega tertawa).. Iya, kan? Harusnya, kalau wanita  lemah, kan dibiarin saja, 
ya? (Tertawa) 
Bagaimana tentang calon wakil presiden Anda, apa sudah mulai  mengerucut dari 
enam nama itu? 
Kalau mau demokratis, silakan saja mengajukan nama.. Tapi,  jangan lupa, 
sebagai ketua umum, setelah menerima mandat kongres, saya  punya hak 
prerogatif. Yang akan menjalankan itu kan saya? Menurut UUD  1945, wakil 
presiden itu membantu presiden. Menurut saya, tafsir  membantu itu serius. 
Maksudnya, wakil presiden itu cuma ban serep? 
Contoh konkret, ketika saya jadi presiden, Pak Hamzah  (Haz) kan wakilnya? Dan 
kami bukan paket, tapi dipilih MPR. Saya  bicara terbuka dengan beliau, 
bagaimana pengertiannya membantu. Pak  Hamzah mengatakan: ”Lho, saya membantu 
Ibu.” Jadi, kita memang harus  mempertemukan dua sosok ini. Alhamdulillah, 
sepanjang saya dengan Pak  Hamzah, beliau memang membantu saya. Dalam arti, ada 
hal yang memang  harus diputuskan oleh presiden, itu yang beliau katakan. 
Bukankah sejak reformasi posisi wakil presiden sekarang lebih  menonjol? 
Kalau mau sharing power, apa mungkin? Sekarang kita  perhatikan, kalau seorang 
wakil presiden bertindak—istilah saya ”one  step ahead”— nuansanya bisa sampai 
ke bawah. Ketika saya jadi wakil  Gus Dur, mereka sudah reka penugasan yang 
diberikan kepada saya,  harusnya saya bagaimana. Saya berbicara pada diri saya, 
menyangkut  moral dan etika berpolitik. Tidak pernah saya katakan pada Gus Dur: 
 ”Oh, Gus, ini sudah saya selesaikan.” Saya selalu katakan, ”Bapak  Presiden, 
ini hal-hal yang telah kita siapkan. Silakan, maunya  bagaimana.” 
Dalam acara peluncuran buku kemarin, Anda menekankan agar wakil  presiden 
jangan sampai berperan sebagai presiden? 
Ya..., itu toh siapa saja, terserah siapa yang merasa.  (Tertawa)
Mengenai calon pendamping, apakah ukuran ideal yang  diperhitungkan? 
Kalau ukurannya ideal, karena saya perempuan, menurut  saya, ya saya ini cukup 
cantik. Nanti yang di sebelah saya mestinya  paling tidak bisa sesuai (Mega 
tersenyum). Mungkin joke-nya seperti  itu. Lalu juga dalam diskusi kita bisa 
sama-sama. Jangan bondo kosong  (modal kosong). Itu kan joke saja (tertawa). 
Tapi maksudnya bukan  materi, lho. Masak saya tanya, bondomu piro (hartamu 
berapa). 
Anda percaya bahwa pasangan presiden dan wakil presiden harus  mencerminkan 
kombinasi militer-nonmiliter, Jawa-luar Jawa, partai  nasionalis-religius ? 
Itu merupakan bagian dari kriteria, tapi bukan kepastian  mutlak.. Alangkah 
sulitnya kalau hal itu dijadikan patokan kunci. Saya  bilang ke anak- cucu, 
kalian ini turunan gado-gado, apa enggak pusing?  Seperti saya ini, kan 
bunglon, dalam hal positif? Mau dibilang  Sumatera bisa, karena saya memang ada 
keturunan Sumatera. Luar Jawa?  Boleh juga, karena saya (keturunan) Bali dan 
Sumatera. Tapi kalau  dibilang bukan Jawa, no, no..., saya Jawa juga. Jadi, 
gado-gado. 

________________________________
 
DIAH PERMATA MEGAWATI  SETIAWATI SOEKARNOPUTRI 
Tempat dan tanggal lahir: Yogyakarta, 23 Januari 1947 
Pendidikan: 
        * SD Perguruan Cikini Jakarta, 1954-1959 
        * SMP-SMA Perguruan Cikini, Jakarta, 1960-1965 
        * Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, 1965-1967, tidak  
selesai 
        * Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, 1970-1972, tidak  selesai 
Karier politik: 
        * Anggota GMNI, Bandung, 1965 
        * Ketua DPC PDI Jakarta Pusat, 1986 
        * Anggota Fraksi PDI DPR-RI, 1987-1997 
        * Ketua Umum PDI versi Kongres Luar Biasa Surabaya, 1993-1999 
        * Ketua Umum PDI Perjuangan, 1999-sekarang 
        * Wakil Presiden RI, Oktober 1999-23 Juli 2001 
        * Presiden RI, Juli 2001-2004
http://majalah. tempointeraktif. com/id/arsip/ 2008/12/22/WAW/ mbm.20081222. 
WAW129032.id. html


   Salam
Abdul Rohim
http://groups. google.com/ group/peduli- jateng?hl= id 
    


      Yahoo! Toolbar kini dilengkapi Anti-Virus dan Anti-Adware gratis.
Download Yahoo! Toolbar sekarang.
http://id.toolbar.yahoo.com

Kirim email ke