Memang, selalu ada saja orang yang tidak mengerti makna "enough is enough". 

Salam
Victor Silaen
(www.victorsilaen.com)


--- On Thu, 12/25/08, Sunny <am...@tele2.se> wrote:
From: Sunny <am...@tele2.se>
Subject: Re: [zamanku] Saya Tidak Pernah Merasa Kalah
To: zamanku@yahoogroups.com, santrik...@yahoogroups.com
Date: Thursday, December 25, 2008, 6:14 AM










    
            


 
Artinya tidak  pernah mengenal 
kenyataan.  Adalah fatlal bila mempunyai seorang pemimpin yang tidak 
mengenal dan meyadari adanya kenyataan.  
 

  ----- Original Message ----- 
  From: 
  Abdul 
  Rohim 
  To: santrik...@yahoogro ups.com 
  Sent: Tuesday, December 23, 2008 6:36 
  PM
  Subject: [zamanku] Saya Tidak Pernah 
  Merasa Kalah
  

  
  
  
    
    
      
        Megawati Soekarnoputri:
Saya 
        Tidak Pernah Merasa Kalah
        
        PELUNCURAN buku Mereka Bicara Mega di Hotel Sultan, Jakarta, awal 
        Desember lalu, semarak. Ratusan orang memenuhi ballroom, termasuk Sri 
        Sultan Hamengku Buwono X, yang spesial datang dari Yogyakarta. Namun, 
        ”sripanggung” hari itu tentulah Megawati Soekarnoputri, dan buku yang 
        diluncurkan merupakan kumpulan tulisan kolega dan tokoh politik tentang 
        diri Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu. 
        Menjelang Pemilihan Umum 2009, Megawati makin membuka diri. Selama 
        ini, ketika calon presiden lain gencar membangun citra lewat iklan dan 
        media, Megawati banyak diam sehingga tmbul kesan tertutup—tentu tak 
        bagus bagi calon pemimpin. 
        Kesan itu mulai berubah. Perempuan 61 tahun itu kini lebih sering 
        memberikan wawancara media. Bersama keluarga, ia tampil dalam acara 
        televisi. Rabu pekan lalu, ia menerima Tempo di rumahnya di Jalan Teuku 
        Umar, Jakarta Pusat. 
        Didahului makan malam bersama Taufiq Kiemas, suami Megawati, dan 
        Ketua PDI Perjuangan Jakarta, Adang Ruchiatna, dengan menu nasi goreng, 
        sate ayam, lontong, ayam goreng, dan kerupuk udang, Tempo kemudian 
        menemui Megawati di ruang tamu yang disekat partisi bertatahkan ayat 
        suci Al-Quran. Hampir dua jam, ibu tiga anak itu menceritakan latar 
        belakang pencalonannya sebagai presiden, dan berbagai isu menyangkut 
        dirinya. 
        Megawati malam itu bergaun terusan bermotif mawar kecil berwarna 
        merah dan biru. Ia menjawab lancar pertanyaan, meski sedang flu. 
        Suaranya terdengar sedikit serak dan sengau. Selama wawancara, tujuh 
        kali ia menyeka hidung dengan tisu, dan empat kali batuk kecil. 
Beberapa 
        kali pula ia menyesap teh dari cangkir putih untuk memulihkan suaranya. 
        
        Apa yang mendorong Anda maju kembali sebagai calon presiden? 
        
        
        Dalam kongres di Bali 2005 ditetapkan, ketua umum terpilih 
          otomatis menjadi calon presiden dari PDI Perjuangan. Lalu kami rapat 
          kerja nasional. Di situ keputusan diperteguh dengan permintaan dari 
          seluruh jajaran struktur partai. Kemudian diulangi lagi dalam rapat 
          koordinasi nasional. Akhirnya, saya bersedia. Bukan sombong, jabatan 
          (presiden) itu pernah saya emban. Yang mau saya lihat adalah 
bagaimana 
          kesiapan Partai. Sebab, tanpa persiapan lebih baik, terutama dari 
          pengalaman 2004, kami bakal menghadapi kesulitan besar. 
        Sejumlah pengurus DPP PDI Perjuangan terkejut karena tak menduga 
        jawaban Anda secepat itu? 
        
        Orang boleh saja ngomong, bersuara. Tapi kan yang ditanya 
          saya? Nanti kalau saya tidak cepat menjawab, bisa saja saya dikatakan 
          peragu. Dalam rapat koordinasi nasional, terkumpul seluruh aspirasi 
          warga PDI Perjuangan yang ada dalam struktur partai, juga yang duduk 
          di legislatif dan eksekutif. Saya melihat, kita perlu persepsi yang 
          sama, baik di jajaran eksekutif, legislatif, maupun struktur partai. 
          Ini tantangan, karena mengorganisasi 16 ribu peserta bukan hal mudah. 
          Kita harus bisa mendisiplinkan mereka. Mereka datang, dan semua 
          pendanaannya dilakukan gotong-royong. Menurut saya, sebagai Ketua 
Umum 
          PDI Perjuangan, sekarang kondisi Partai sudah jauh lebih baik 
daripada 
          2004.
        Pada 2004 ada 40 juta orang yang memilih Anda. Anda yakin mereka 
        masih mendukung pada 2009 nanti? 
        
        Sampai sekarang pun saya tak pernah menyatakan kalah. 
          Waktu itu media menyatakan saya tidak kesatria, tidak menyatakan 
          kekalahan. Saya bilang, aduh, ini orang ngomong kok enak saja, ya. 
          Sebagai pejuang, tak pernah saya merasa kalah. Ini untuk memberikan 
          semangat ke warga saya. Saya menyatakan bahwa saya kurang suara. Mari 
          kita rebut kembali. Saya tahulah sebetulnya permainan yang dilakukan 
          pada waktu itu. 
        Permainan apa? Kalau ada kecurangan, kenapa Anda tidak protes? 
        
        
        Begini, ya. Pemilihan langsung itu saya yang membuat. 
          Waktu itu, sebagai presiden, saya dihadapkan pada pilihan: 
          menguntungkan PDI Perjuangan—yang posisi puncaknya dengan sendirinya 
          akan saya raih lagi sebagai presiden—atau memberikan kepada nation 
ini 
          suatu hal yang konkret. Bahwa pemilu langsung bisa dilakukan di 
          Indonesia. Waktu itu, media dan pengamat banyak yang bilang pemilu 
ini 
          tidak akan berhasil, berdarah-darah, mungkin mundur, dan sebagainya. 
          Kenapa, sih, komentar seperti itu yang harus dibesar-besarkan? Kapan 
          kita akan maju kalau hanya negative thinking yang disebarkan, yang 
          membuat rakyat akhirnya takut dan ragu? Makanya saya pikir, ya sudah, 
          bismillah, pemilu langsung harus dilakukan. Waktu itu Menteri 
          Koordinator Politik dan Keamanan saya sudah entah ke mana. Betul, 
kan? 
          Di suatu pemerintahan, yang namanya menteri itu seharusnya ada di 
          posnya. Saya bilang ingin menyukseskan pemilu, bukan untuk saya, tapi 
          untuk republik ini. Orang asing waktu itu semua tanya pada saya, apa 
          betul bisa dilakukan pemilu langsung tanpa guncangan. Saya bilang, 
          bisa. Mengapa? Rakyat saya bukan rakyat yang tak beradab. Itu yang 
          saya katakan kepada banyak kedutaan yang ingin bertemu dengan saya. 
          Dan buktinya (pemilu) memang sukses, alhamdulillah.
        Waktu itu Menteri Koordinator Politik dan Keamanan beralasan 
        tidak diundang ke Istana, bahkan sampai sebulan? 
        
        Ya, sekarang cari saja orang yang punya kompetensi untuk 
          menerangkan persidangan pada waktu itu. Jangan lupa, adik ipar beliau 
          (Brigjen TNI Eddie Wibowo) adalah ajudan saya sampai last minute. 
          Jadi, kurang apa lagi? Orang bisa saja membuat alasan. Kalau pada 
          waktu itu saya hanya terdorong emosi, hanya mengikuti arus ingin 
          berpolemik, bisa dibayangkan ke mana bangsa ini terseret. 
        Anda merasa sakit hati terhadap SBY? 
        
        Saya enggak merasa sakit sati. Saya hanya enggak mau 
          ketemu saja dengan orang yang menurut saya kok sikapnya seperti itu. 
          Tidak boleh? Ya, boleh saja, itu kan hak saya.
        Tapi Taufiq Kiemas boleh bertemu dengan SBY? 
        
        Enggak apa-apa, kok. Memang kenapa? Keluarga saya ini 
          demokratis. Kemarin Puan (Puan Maharani, putri Mega) juga baru ketemu 
          di Yogyakarta ketika mewakili saya. 
        Kalau Pak SBY minta bertemu, apa bisa diterima? Atau ada 
        syaratnya? 
        
        Ya..., diemin sajalah. Kalau mau ketemu, terus untuk apa? 
          Kok ya minta ketemunya hari-hari ini.
        Sampai sekarang Anda masih percaya bahwa sistem pemilihan 
        presiden secara langsung itu baik? 
        
        Secara substansi memang harus, kalau kita mau 
          berdemokrasi. Makanya saya enggak setuju ketika banyak pengamat 
bilang 
          tidak apa-apa golput. Saya juga ”dipukul” ketika saya mengatakan 
          jangan golput. Menurut saya, dalam hak dan kewajiban warga negara itu 
          tidak ada gray area. Kita punya hak dipilih, lalu kewajiban kita 
          memilih. Jadi, enggak ada itu, sebagai warga negara kalau tidak 
          senang, lalu diam, golput. Kalau secara teknis banyak kekurangan, 
          namanya juga pertama kali dilakukan setelah 1955. 
        Di beberapa pemilihan kepala daerah, angka golput malah sampai 
        40 persen…. 
        
        Ya, karena didorong-dorong. Rakyat kita yang masih belum 
          mengerti dan masih banyak kendalanya dalam proses (pemilihan) itu 
          sendiri akhirnya ikut.
        Tokoh yang mendorong golput termasuk Gus Dur…. 
        
        Saya bilang sama Gus Dur, ”Gus, jangan begitulah memberi 
          pelajaran. Masak, disuruh golput?”
        Ada prediksi, Pemilu 2009 merupakan pertarungan antara Anda dan 
        SBY saja. Yang lain hanya penggembira…. 
        
        (Tertawa) Itu kan omongan orang, silakan saja. 
        Anda sendiri kenapa yakin maju? 
        
        Buat saya, semuanya wajar saja. Mereka yang mau 
          mencalonkan diri tentu merasa memiliki kekuatan. Makanya yang paling 
          penting buat saya adalah memberikan pendidikan politik pada rakyat. 
          Kita selalu mengatakan, rakyat Indonesia perlu pendidikan yang baik. 
          Enggak ada yang akan ngomong tidak, pasti ya semua. Tapi bagaimana 
          kalau pada tataran pelaksanaannya kita sendiri sering tidak 
konsekuen? 
          Kalau rakyat terus didorong tidak memilih, bagaimana? Mau uji coba 
apa 
          lagi? Anda punya ide baru? 
        Mungkin akan kembali ke yang dulu, sistem perwakilan? 
        
        Bayangkan sekarang kalau itu dilakukan, kita akan mundur, 
          set back itu. Untuk apa bereformasi dengan segala jerih payah, 
korban, 
          air mata, darah, dan sebagainya. Kemudian (mundur) karena enggak puas 
          pada si A atau si B. Memangnya manusia ada yang sempurna?
        Apa penilaian Anda terhadap kondisi masyarakat di bawah 
        pemerintahan SBY-JK? 
        
        Saya tidak mau menilai di luar dulu. Saya menilai internal 
          saya dulu, karena itulah sumber kekuatan saya. Ngapain saya menilai 
di 
          luar ketika tidak tahu rumah sendiri?
        Dari mana Anda tahu banyak yang tidak puas dengan keadaan 
        sekarang? Apakah mereka menyatakan akan mendukung Anda lagi? 
        
        Mereka kan bilang, ”Kami ini salah pilih, Bu”. Ya, saya 
          diam saja, memang mau bagaimana? Saya mesti menghibur atau 
        bagaimana?
        Banyak yang berbicara seperti itu? 
        
        Banyak. Perorangan atau organisasi. Dalam kampanye, saya 
          kira sangat jelas: beri saya waktu lagi. Saya sebagai presiden 
          terhitung hanya tiga tahun. Banyak orang lupa itu, menyangka saya 
          memimpin lima tahun. Boleh dilihat dalam tiga tahun itu, success 
story 
          cari sendirilah. 
        Kenapa sekarang memilih masalah sembako sebagai tema 
        kampanye? 
        
        Karena, selama saya berkeliling ke daerah, topik yang saya 
          tanyakan masalah ekonomi. Di sana sangat tergambarkan, keluhan 
          masyarakat adalah persoalan sembako. Mereka bilang kenapa waktu zaman 
          saya tidak semahal sekarang. Mereka bisa hafal harga beras, cabai, 
          daging. Lantas saya bilang, ”Ya, karena kamu ndak milih saya.” 
        
        Anda dikritik kurang Islami. Di buku Mereka Bicara Mega malah 
        ada saran mengubah penampilan pakai kerudung? 
        
        Sekarang saya mau tanya, masalah Islami itu sebetulnya opo 
          to? Makanya saya bilang, biarkan saja orang bicara, berkomentar. Saya 
          juga kapan-kapan boleh dong komentar. 
        Mungkin karena PDIP konsisten dengan isu pluralisme? 
        
        Siapa yang bilang Islam tidak pluralis? Saya sendiri orang 
          Islam. Keluarga saya orang Islam. Menurut pandangan saya, kalau kita 
          bicara tentang Nabi Muhammad, coba saja baca, apa beliau tidak 
          pluralis? Dia sangat pluralis.
        Apa tanggapan Anda tentang penolakan terhadap pemimpin 
        perempuan? 
        
        Menurut saya, kita perlu berhati-hati kalau agama dibawa 
          ke ranah politik. Agama yang khusyuk dan sakral bisa jadi 
kacau-balau. 
          Saya bukan ahli, saya bicara dan diskusi dengan Siti Musdah Mulia. 
          Saya tanya, ”Sebetulnya salah kita ini apa ya, Mbak? Yang Di Atas itu 
          kan sudah Maha, berapa nama Dia punya. Kenapa di-create perempuan?” 
          Saya dalam doa juga sering bertanya, ”Sebetulnya apa sih kami 
          (perempuan) ini di mata-Mu? Padahal Kamu buat kami, perempuan, 
menjadi 
          satu bagian yang, menurut saya, kalau enggak ada, musnahlah yang 
          namanya wangsa manusia.” Mbak Musdah menjawab, ”Kenapa mesti serius 
          banget ditanggepin, Mbak?” (Mega tertawa). 
        Sampai sekarang kampanye menolak pemimpin perempuan masih 
        dilakukan.. Seperti yang dialami Khofifah Indar Parawansa di Jawa 
        Timur.… 
        
        Saya sendiri sampai guyon dengan Khofifah: ”Lucu ya, Mbak, 
          kalau dipikir-pikir, kita ini katanya kaum lemah, tapi ternyata 
          ditakuti, lho.” (Mega tertawa). Iya, kan? Harusnya, kalau wanita 
          lemah, kan dibiarin saja, ya? (Tertawa) 
        Bagaimana tentang calon wakil presiden Anda, apa sudah mulai 
        mengerucut dari enam nama itu? 
        
        Kalau mau demokratis, silakan saja mengajukan nama. Tapi, 
          jangan lupa, sebagai ketua umum, setelah menerima mandat kongres, 
saya 
          punya hak prerogatif. Yang akan menjalankan itu kan saya? Menurut UUD 
          1945, wakil presiden itu membantu presiden. Menurut saya, tafsir 
          membantu itu serius. 
        Maksudnya, wakil presiden itu cuma ban serep? 
        
        Contoh konkret, ketika saya jadi presiden, Pak Hamzah 
          (Haz) kan wakilnya? Dan kami bukan paket, tapi dipilih MPR. Saya 
          bicara terbuka dengan beliau, bagaimana pengertiannya membantu. Pak 
          Hamzah mengatakan: ”Lho, saya membantu Ibu.” Jadi, kita memang harus 
          mempertemukan dua sosok ini. Alhamdulillah, sepanjang saya dengan Pak 
          Hamzah, beliau memang membantu saya. Dalam arti, ada hal yang memang 
          harus diputuskan oleh presiden, itu yang beliau katakan. 
        Bukankah sejak reformasi posisi wakil presiden sekarang lebih 
        menonjol? 
        
        Kalau mau sharing power, apa mungkin? Sekarang kita 
          perhatikan, kalau seorang wakil presiden bertindak—istilah saya ”one 
          step ahead”— nuansanya bisa sampai ke bawah. Ketika saya jadi wakil 
          Gus Dur, mereka sudah reka penugasan yang diberikan kepada saya, 
          harusnya saya bagaimana. Saya berbicara pada diri saya, menyangkut 
          moral dan etika berpolitik. Tidak pernah saya katakan pada Gus Dur: 
          ”Oh, Gus, ini sudah saya selesaikan.” Saya selalu katakan, ”Bapak 
          Presiden, ini hal-hal yang telah kita siapkan. Silakan, maunya 
          bagaimana.” 
        Dalam acara peluncuran buku kemarin, Anda menekankan agar wakil 
        presiden jangan sampai berperan sebagai presiden? 
        
        Ya..., itu toh siapa saja, terserah siapa yang merasa. 
          (Tertawa)
        Mengenai calon pendamping, apakah ukuran ideal yang 
        diperhitungkan? 
        
        Kalau ukurannya ideal, karena saya perempuan, menurut 
          saya, ya saya ini cukup cantik. Nanti yang di sebelah saya mestinya 
          paling tidak bisa sesuai (Mega tersenyum). Mungkin joke-nya seperti 
          itu. Lalu juga dalam diskusi kita bisa sama-sama. Jangan bondo kosong 
          (modal kosong). Itu kan joke saja (tertawa). Tapi maksudnya bukan 
          materi, lho. Masak saya tanya, bondomu piro (hartamu berapa). 
        
        Anda percaya bahwa pasangan presiden dan wakil presiden harus 
        mencerminkan kombinasi militer-nonmiliter, Jawa-luar Jawa, partai 
        nasionalis-religius ? 
        
        Itu merupakan bagian dari kriteria, tapi bukan kepastian 
          mutlak.. Alangkah sulitnya kalau hal itu dijadikan patokan kunci. 
Saya 
          bilang ke anak- cucu, kalian ini turunan gado-gado, apa enggak 
pusing? 
          Seperti saya ini, kan bunglon, dalam hal positif? Mau dibilang 
          Sumatera bisa, karena saya memang ada keturunan Sumatera. Luar Jawa? 
          Boleh juga, karena saya (keturunan) Bali dan Sumatera. Tapi kalau 
          dibilang bukan Jawa, no, no..., saya Jawa juga. Jadi, gado-gado. 
        
        
        
        
        DIAH PERMATA MEGAWATI 
        SETIAWATI SOEKARNOPUTRI 
        Tempat dan tanggal lahir: Yogyakarta, 23 Januari 1947 
        Pendidikan: 
        
        
          SD Perguruan Cikini Jakarta, 1954-1959 
          SMP-SMA Perguruan Cikini, Jakarta, 1960-1965 
          Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, 1965-1967, tidak 
          selesai 
          Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, 1970-1972, tidak 
          selesai 
        Karier politik: 
        
          Anggota GMNI, Bandung, 1965 
          Ketua DPC PDI Jakarta Pusat, 1986 
          Anggota Fraksi PDI DPR-RI, 1987-1997 
          Ketua Umum PDI versi Kongres Luar Biasa Surabaya, 1993-1999 
          Ketua Umum PDI Perjuangan, 1999-sekarang 
          Wakil Presiden RI, Oktober 1999-23 Juli 2001 
          Presiden RI, Juli 2001-2004
        http://majalah. tempointeraktif. com/id/arsip/ 2008/12/22/WAW/ 
mbm.20081222. WAW129032.id. html


        
           Salam
        Abdul Rohim
        http://groups. google.com/ group/peduli- jateng?hl= id


      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke