Refleksi: Ini berita lama,  kurang lebih 10 tahun lalu, tetapi tetap aktual 
untuk direnungikan bagi yang percaja pada banit-bandit tukang copet bin 
penyamun.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1999/03/02/INT/mbm.19990302.INT93731.id.html

22/XXVII 02 Maret 1999

Haji Incorporated: Bisnis, Kolusi, dan Manipulasi
Selain membangkitkan bisnis besar di sepanjang prosesnya, yang sering tidak 
fair terhadap "konsumen"-nya, ibadah haji juga menyisakan sejumlah pertanyaan 
tak terjawab tentang kolusi dan manipulasi pengelolaan dana non-budgeter. 
Keengganan orang untuk mempersoalkan ibadah suci itu justru dimanfaatkan buat 
mengeduk keuntungan tanpa hambatan.
Muslim yang baik, kata Alquran, percaya bahwa segala kekayaan dan 
kemakmuran-seperti hidup itu sendiri-datang dari Allah, dan niscaya kembali 
kepada-Nya. Mereka harus membayar zakat ketika mampu. Bahkan, jika lebih mampu, 
mereka wajib berhaji ke Tanah Suci. 

"Apa yang diperoleh harus kembali kepada Yang Gaib." Dan jangan terlalu banyak 
tanya. Konsentrasi. Pasrah. Tutup mulut, mata, dan telinga. Hanya dengan itu, 
insya Allah, ibadah haji akan diterima. Haji yang mabrur. 

Tapi uang setoran biaya perjalanan haji (BPH)-dulu ongkos naik haji 
(ONH)-bukanlah uang gaib. Setiap calon haji Indonesia tahun ini harus 
menyisihkan setidaknya Rp 20 juta untuk bisa memenuhi undangan Allah-biaya yang 
melonjak tajam dari tahun lalu akibat rontoknya rupiah. 

Bukan gaib pula bisnis yang dibangkitkan oleh ritual tahunan ini. Ibadah haji 
telah menjadi industri wisata ziarah yang makmur. Dalam satu dasawarsa 
terakhir, omzetnya per tahun tak kurang dari Rp 1,5 triliun. 

Sebagai ladang usaha, dia juga hampir tanpa risiko. Pertama-tama, tersedia 
pasar yang pasti (captive market). Dari 1995 sampai 1998, jumlah calon haji 
sekitar 200 ribu per tahun, sesuai dengan kuota yang ditetapkan pemerintah Arab 
Saudi. 

Krisis moneter dan ekonomi pun tak terlalu mengguncangkannya. Bahkan, ketika 
tahun ini jumlah calon haji anjlok 60 persen dari tahun lalu (hanya sekitar 70 
ribu orang), omzetnya cuma turun sekitar 12,5 persen. Konsumenlah-para calon 
haji itu-yang harus menanggung lebarnya jurang rupiah dari dolar. 

Kualitas layanan pun bisa diabaikan. Calon haji tidak diberi anjuran untuk 
memprotes, apalagi berdemonstrasi. Mereka harus tawakal menghadapi cobaan 
Tuhan, termasuk misalnya ikhlas menerima pelayanan akomodasi yang buruk (tutup 
mulut, mata, dan telinga). 

Tapi, bahkan jika berani mengeluh, mereka tak punya pilihan. Bisnis perjalanan 
haji merupakan monopoli Departemen Agama. Kini ada banyak perusahaan swasta 
yang mengoperasikan jasa layanan ONH-plus, tapi mereka hanya bisa merebut 
pangsa pasar sangat kecil, sekitar 3 persen. Tak mengherankan. Departemen Agama 
hanya mau memberikan izin penyelenggaraan ONH-plus dengan salah satu syarat: 
tarifnya minimal dari US$ 5.000 (hampir dua kali lipat ONH biasa, yang besarnya 
US$ 2.730).



      Matematika Biaya Haji  
      Perincian  Jumlah  
      Transpor pesawat (US$ 1.200) **  Rp 8.910.000 
      Biaya wajib di Arab Saudi Rp 10.701.400  
      Ongkos hidup selama di Arab Saudi Rp 4.000.000 
      Operasional dalam negeri Rp 621.600  
      Uang bekal daerah  Rp 50.000 
      Total Rp 24.333.000  

      * Biaya perjalanan haji resmi 1999 = Rp 20.500.000
      ** US$ 1 = Rp 7.425  
      Sumber: Ditjen Bimas Islam dan Urusan Haji 

Kirim email ke