http://www.sinarharapan.co.id/berita/0812/30/pol03.html

Kemajemukan Bangsa Jangan Ciptakan Diskriminasi     

Oleh
Eddy Lahengko



MANADO-Natal bersama dengan masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) yang 
diselenggarakan, Kamis (25/12), di Kantor Gubernur Bumi Beringin Manado, Sulut, 
membawa kesan mendalam bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara, 
Ani Susilo Bambang Yudhoyono, serta rombongan Presiden. Sementara itu, bagi 
masyarakat Sulut, kehadiran orang nomor satu di Indonesia ini memang sudah 
mereka nantikan. Pesan moral yang disampaikan baik dalam Narasi Natal, doa, 
maupun sambutan Gubernur Sinyo Sarundajang, menekankan bahwa Natal berarti 
berbagi kasih dan damai dengan semua orang. 


Selain itu, perayaan Natal kali ini juga memberikan kesan begitu kuatnya 
toleransi beragama di Bumi Nyiur Melambai ini. Tidak hanya paduan suara, 
kasidahan pun turut menembangkan lagu-lagunya dalam Natal bersama tersebut. 
Oleh karena itu, Presiden berharap melalui Perayaaan Natal 2008 ini segenap 
umat kristiani di Sulut, bahkan di seluruh Tanah Air agar memperkuat nilai dan 
perilaku luhur peradaban bangsa. 


Memang benar, bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, yang ditandai dengan 
beragamnya suku bangsa, etnis, agama, dan daerah asal, bahasa, serta budaya 
lokal. "Tetapi kemajemukan itu tidak boleh menghalang-halangi kita semua untuk 
bersatu, untuk hidup rukun dalam harmoni. Kemajemukan bangsa tidak boleh pula 
menciptakan diskriminasi, egoisme, tanpa kesetiakawanan sosial. Di negeri ini 
jangan ada kelompok yang merasa di atas kelompok yang lain. Semua setara serta 
memiliki hak dan kewajiban yang sama terhadap bangsa dan dan negaranya. Marilah 
terus kita kembangkan tata kehidupan seperti itu sebagaimana yang disampaikan 
para pemuka agama di malam bersejarah, malam yang suci, perayaan Natal 2008," 
ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Peradaban Tinggi
Presiden amat berbahagia pada perayaan Natal bersama di Bumi Nyiur Melambai 
itu, karena dapat merasakan tekad anak bangsa dan semua pihak untuk membangun 
peradaban Indonesia yang tinggi dan mulia, yakni great civilatition. Peradaban 
ini memancarkan nilai kedamaaian, kerukunan, kasih sayang, toleransi, optimisme 
dan nilai persaudaraaan serta keyakinan akan masa depan yang lebih baik. Semua 
ini, merupakan nilai dan prinsip utama dalam sebuah peradaban bangsa yang 
luhur. Peradaban seperti itu harus diperkokoh guna kemandirian dan daya saing 
bangsa di abad ke-21.


Dalam acara itu, paduan suara Unima Choir dan Benedicto Corale serta grup 
kasidah menampilkan beberapa buah lagu. Bahkan, paduan suara bergabung dengan 
grup kasidah menembangkan dua buah lagu gubahan Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono, Hening dan Rinduku.

Pesan Spiritual
Prosesi perayaan Natal yang diawali dengan sambutan Gubernur Sulut, Doa Natal, 
dan Narasi Natal serta diselingi dengan paduan suara ini membuat Presiden dan 
Ibu Ani berserta rombongan dan para undangan mendengar dengan khusyuk. "Kita 
mendengarkan dengan khusyuk Doa Natal yang disampaikan Pendeta Tedi Batasina 
yang menganjurkan kita semua senantiasa menjaga keindahan, karena kita bersatu 
saling menabur kasih sayang. Kita melangkah bersama dan kita punya semangat 
untuk hidup harmonis saling menghormati. Ini adalah pesan spiritual, pesan 
moral yang sangat luhur dan mari kita jalankan bersama dalam mengarungi 
kehidupan berbangsa dan bernegara di negara tercinta ini," ujar Presiden.


Begitu juga Narasi Natal yang disampaikan Mgr Yosep Suatan yang kembali 
mengajak masyarakat untuk membangun kedamaian dan bersinergi membangun bangsa, 
disertai sikap optimistis. Ia juga mengingatkan, untuk menjaga alam semesta dan 
memelihara lingkungan bagi anak cucu, sehingga generasi mendatang memiliki masa 
depan yang baik. "Sungguh, doa dan Narasi Natal penuh dengan harapan akan 
adanya jiwa yang terang, yang jernih, dan yang mampu melihat ke depan serta 
menekankan pentingnya kehidupan yang inklusif disertai semangat kebersamaan," 
tambah Presiden.


Presiden juga mendengarkan dengan saksama sambutan Gubernur Sulut yang 
mengemukakan semangat kedamaian dalam kemajemukan, optimisme, komitmen, dan 
kesungguhan dalam menyambut masa depan, untuk terus membangun daerah dan 
masyarakat Sulut. Semangat tersebut, menurut Gubernur Sulut, ditandai dengan 
sejumlah prestasi yang membanggakan di banyak bidang. 


"Saya mengikuti dan membaca laporan kemajuan dari berbagai daerah. Sulawesi 
Utara unggul dalam upaya penurunan angka kemiskinan, penurunan jumlah 
pengangguran, serta peningkatan pertumbuhan perekonomian, ketahanan pangan, dan 
indeks pembangunan manusia," jelasnya.
Untuk itu, selaku kepala negara, kepala pemerintahan, dan selaku pribadi, 
Presiden mengharapkan, semua capaian dan prestasi ini dapat dipertahakankan dan 
terus ditingkatkan di masa mendatang

Kirim email ke