Media Indonesia
Jumat, 02 Januari 2009 23:04 WIB

TKW Asal Bangkalan Disiksa Majikannya

BANGKALAN--MI: Subaidah, 30, Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Desa Kampak, 
Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, melarikan diri dari 
tempat kerjanya di Malaysia, karena tidak kuat mendapat siksaan dari 
majikannya. 

"Saya disetrika di lengan dan punggung. Pipi ini ditusuk dengan jarum. Bahkan 
majikan saya juga pernah menyiram air panas ke muka dan kepala saya," kata 
Subaidah, di Bangkalan, Jumat. 

Tidak hanya itu, tiga ruas jarinya juga patah akibat siksaan majikannya. 
Bahkan, janda miskin yang ditinggal suaminya ini mengaku, pernah akan dijadikan 
pelacur oleh majikannya, Fauziyah. 

Subaidah mencetikan, kepergiannya ke negeri Jiran sebagai TKW itu ia lakukan, 
karena kondisi perekonomian keluarganya sangat memprihatinkan. 

Penghasilan ibunya sebagai buruh tani tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup 
keluarga. Sementaranya ayahnya sudah lama bercerai dan sama sekali tidak 
bertanggung jawab atas keberadaan anak-anaknya. 

"Akhirnya saya nekat pergi ke luar negeri menjadi TKW, meski saya menyadari 
tidak memiliki keterampilan sama sekali. Yang ada di pikiran saya waktu itu, 
bagaimana bisa menopang ekonomi keluarga. Nggak tahunya kejadiannya seperti 
ini," kata Subaidi dengan mata berkaca-kaca. 

Subaidah berangkat menjadi TKW ke Malaysia pada tanggal 8 Maret 2005 oleh PT 
Anugerah Usaha Jaya, yang berlamat di Buduran, Sidoarjo. Saat ia berangkat 
tanpa biaya sepersenpun, karena perjanjiannya dengan pihak Perusahaan Jasa 
Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) waktu itu dengan memotong gaji. 

Di Malaysia, Subaidah bekerja kepada pasangan keluarga Azroni Abu 
Bakar-Fauziyah Zainal, warga Terengganu, Malaysia, sebagai pembantu rumah 
tangga (PRT). 

"Sepekan pertama majikan saya masih memperlakukan saya dengan baik. Namun, 
masuk pekan kedua perilaku majikan perempuan berubah dratis. Saya tidak tahu 
apa penyebabnya. Tiba-tiba ia kasar, sering marah-marah terhadap saya," katanya 
mengungkapkan. 

Setiap kali majikan Fauziyah menyiksa korban selalu disertai ancaman akan 
dibunuh, jika menceritakan kepada orang lain. Karena takut, Subaidah hanya 
berdiam diri dan tidak pernah menceritakan perbuatan majikan perempuannya itu 
kepada orang lain. 

Karena tidak tahan, akhirnya Subaidah kabur dari rumah majikannya ke kantor 
polisi setempat dan melaporkan semua kejadian yang telah menimpanya. Tapi, 
polisi membawa pulang korban ke majikannya lagi dan menyarankan agar Subaidah 
dipulangkan ke kampung halamannya saja. 

Derita yang dialami TKW Subaidah tidak berhenti sampai disitu saja. Gaji yang 
diterima TKW asal Desa Kampak itu, juga tidak sesuai dengan kesepakatan, yaitu 
400 ringgit/bulan. Korban hanya dibayar 4.600 ringgit selama empat tahun. 

"Jumlah itu masih dipotong ongkos berangkat ke Malaysia sebesar 4.000 ringgit. 
Jadi hanya mendapatkan 600 ringgit selama bekerja empat tahun," katanya lirih. 

Saat ini, Subaidah hanya bisa pasrah akan nasib buruk yang menimpanya itu. 
Meski demikian, ia berharap Dinas Tenaga Kerja dan PJTKI yang 
memberangkatkannya bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Apalgi gaji yang 
diterimannya memang tidak sesuai dengan kontrak kerja. (Ant/OL-03)

Kirim email ke