Kebangkitan Hamas setelah Tragedi Gaza

Oleh Gunawan Permadi
BOMBARDIR Israel terhadap Jalur Gaza, Palestina, telah menelan korban jiwa 
ratusan orang dan kehancuran infrastruktur. Israel berdalih gempuran itu 
bertujuan memaksa Hamas menyepakati gencatan senjata berdasarkan syarat-syarat 
yang lebih mendukung tujuan diplomatik jangka panjang negara Yahudi itu.
Tiga ratus warga Palestina di Jalur Gaza tewas dan seribu lainnya terluka. 
Itulah pelanggaran kemanusiaan terbesar di pengujung tahun 2008, yang telah 
mengentakkan dunia. Tidak tertutup kemungkinan jumlah tersebut akan bertambah 
karena Israel masih akan melanjutkan serangannya dalam beberapa hari mendatang, 
baik melalui serangan udara maupun serangan darat.
Keputusan Israel menyerang Gaza merupakan sikap politik untuk menumpas habis 
jantung kekuatan Hamas. Sebab, saat ini Hamas merupakan musuh utama Israel 
karena mereka merupakan faksi politik terbesar yang diduga kuat akan memenangi 
pemilu yang akan berlangsung bulan depan.
Menurut Zuhairi Misrawi, ketua Moderate Muslim Society, serangan Israel diduga 
kuat sebagai paket untuk melumpuhkan kekuatan Hamas menjelang pemilu yang akan 
menentukan arah politik Israel-Palestina pada tahun-tahun mendatang.. (Misrawi: 
2008)
Para petinggi Israel menyamakan gempuran udara itu dengan strategi perang 
Lebanon 2006. Ketika itu, penyergapan oleh gerilyawan Hizbullah di perbatasan 
dibalas secara mengejutkan dengan operasi pengeboman.
Prajurit dan armada tank Israel kemudian merangsek masuk ke Lebanon, unggul 
dalam posisi pertempuran, dan hal itu menekan komunitas internasional untuk 
ikut mendorong gencatan senjata. Berdasarkan pengalaman itu, Israel berharap 
hal itu akan terjadi di Gaza apabila Hamas tidak menghentikan serangan-serangan 
roket.
Dukungan Hamas
Namun, berbeda dengan perang Lebanon, bombardir atas Jalur Gaza menuai kecaman 
dan kutukan keras dari komunitas internasional. Negara-negara di dunia cemas 
dan mendesak dilanjutkannya gencatan senjata. Meski demikian, seruan itu tidak 
didengar Israel karena negara Yahudi itu punya rencana lain.
Mereka menginginkan ketenangan total yang tidak terganggu sama sekali oleh 
tembakan-tembakan roket militan Hamas.
Meskipun demikian, Mahmud Mubarak, analis harian Al-Hayat, meragukan bahwa misi 
Israel kali ini berhasil, khususnya untuk meredam dan membendung kekuatan Hamas 
yang telah mengakar di Gaza. Alih-alih membabat habis kekuatan mereka, Hamas 
justru akan semakin populer. Sebagai kelompok yang terzalimi, itu justru akan 
memberikan dampak positif. Sejak dulu, dukungan kepada Hamas bukan menyusut, 
tetapi justru bertambah karena Hamas merupakan pihak yang mempunyai sikap tegas 
kepada Israel.
Di samping itu, dukungan dari masyarakat Arab kepada Hamas makin luas. 
Pemerintah dunia Arab makin terdesak antara mendukung Israel atau mendukung 
Hamas yang merupakan korban dari penyerangan brutal itu. Tidak bisa dielakkan 
bahwa para pemimpin dunia Arab akan tertekan, dan mau tidak mau harus 
memberikan dukungan kepada Hamas. Kebijakan kekerasan tidak akan memberi hasil 
seperti telah terbukti selama ini.
Kebungkaman Obama
Agresi Israel seperti bukan yang pertama kali. Dunia pernah menyaksikan 
kebrutalan serupa di Lebanon (2006), saat intifadah pertama kali di Palestina 
(1987-93), di Beirut barat dan timur (1982), dan bahkan jauh sebelum itu ketika 
tentara Yahudi menduduki Palestina pada 1948.
Asap masih membubung di Gaza. Israel menyebut operasi ini sebagai ”perang 
habis-habisan” (all-out war) melawan gerakan Hamas. Namun, sesungguhnya 
pertempuran itu tidak pantas disebut sebagai peperangan. Tewasnya anak-anak, 
perempuan, dan warga sipil, menjadikan operasi ini tidak lebih sebagai 
pembantaian dan penghancuran massal. Negara Yahudi itu boleh jadi lupa 
pelajaran dasar yang menyebutkan: upaya menumpas musuh hanya akan membuat dia 
menjadi lebih kuat.
Dua tahun lalu misalnya, kendati gempuran Israel atas Lebanon telah menewaskan 
ratusan pejuang Hizbullah dan warga sipil, serta memaksa sekitar 800.000 warga 
kehilangan tempat tinggal, militer Yahudi tidak dapat mengalahkan kelompok 
Hizbullah. Kelompok itu bahkan tampil lebih kuat dibanding sebelumnya. Selain 
itu, Perang Lebanon 2006 berbeda dengan operasi militer Israel kali ini. 
Genpuran militer itu bisa mengubah peta jalan yang selama ini tertutup karena 
operasi kali ini adalah sebuah blunder besar bagi Israel.
Reaksi dunia terlihat lebih keras dibanding saat agresi di Lebanon. Meski 
demikian, ’’peta jalan baru’’ itu juga akan sangat bergantung pada sikapn 
Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Barack Obama.
Blunder Israel itu sebetulnya bisa membuka kemungkinan bagi Obama untuk 
merevisi kebijakannya yang selama ini masih belum berani menjaga jarak dengan 
Yahudi.
Misalnya, Obama bisa menegaskan sikap Pemerintah Indonesia, yang sudah 
disampaikan kepada Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa, bahwa respons Israel atas 
tembakan-tembakan roket Hamas sesungguhnya adalah berlebihan.
Operasi militer itu justru lebih meradikalisasi warga Teluk dan bisa memicu 
munculnya intifadah ketiga. Washington tentu saja tidak perlu membenarkan 
serangan-serangan roket Hamas. Namun, fakta bahwa serangan roket itu hanya 
berdaya terbatas tidak sebanding dengan aksi balas dendam Israel yang telah 
menewaskan hampir 400 orang hanya dalam waktu empat hari.
Bermuka Dua
Dalam perjalanan 60 tahun kegagalan upaya proses perdamaian Israel-Palestina, 
tragedi kemanusiaan di Gaza semestinya bisa menjadi momentum untuk memperbarui 
lagi arah negosiasi.
Arah baru itu adalah melibatkan Hamas dalam proses perundingan. Sebab, hanya 
melibatkan Presiden Mahmud Abbas dengan faksi Fatah-nya terbukti selama ini 
gagal menembus jalan buntu. Perihal keterlibatan Hamas itu sebetulnya sudah 
pernah disuarakan oleh mantan menteri pertahanan Colin Powel.
Selama ini ada sinyalemen bahwa negara Palestina merdeka tidak mungkin terwujud 
selama faksi-faksi Palestina saling bertikai, terutama antara faksi Hamas dan 
faksi Fatah. Secara akal sehat, sebenarnya tak mungkin sesama warga Palestina 
saling menyerang. Mereka mempunyai cita-cita yang sama (berdirinya negara 
Palestina), juga karena orang-orang Israel (sebagai musuh besar) adalah musuh 
yang sebenarnya. Karena itu, gangguan dari pihak ketiga jadi salah satu 
hipotesis di balik perpecahan Palestina.
Analisis lain adalah problem islamisme Hamas versus nasionalisme Fatah. Hamas 
adalah salah satu faksi di Palestina yang menghendaki Palestina tampil sebagai 
negara Islam. Fatah yang mengusung semangat nasionalisme. Hamas lebih 
eksklusif, sementara Fatah lebih inklusif. Perbedaan di atas sering kali 
menciptakan letupan konflik di Palestina. (Hasibullah Satrawi: 2007).
Pendapat itu agaknya tidak lagi relevan karena organisasi Hamas sendiri telah 
bergeser dari basis religius ke wilayah politik. Hamas saat ini 
mengidentifikasi diri melalui perjuangan politik. Salah satu contoh nyata 
adalah fakta bahwa Hamas selama enam tahun ini telah menghentikan aksi serangan 
bunuh diri melawan Israel. Sikap itu merupakan ungkapan sikap politik Hamas 
bahwa perjuangan Palestina tidak lagi melulu berdasarkan alasan ideologi 
agama..(Murray: 2006)
Sayangnya, sejak Israel melancarkan gempuran itu, presiden terpilih Barack 
Obama masih bersikap bungkam. Kenyataan itu sangat berbeda ketika Obama 
langsung berkomentar soal serangan teror di Mumbai, atau pernyataan-pernyataan 
politiknya soal China-Taiwan dan krisis ekonomi Amerika. Sikap bungkam Obama 
makin menambah skeptisisme Arab atas perubahan kebijakan Washington kelak 
terhadap isu Timur Tengah.
Ada pendapat yang menyebutkan, Obama memilih bersikap hati-hati karena isu 
Timur Tengah bukan prioritas agenda ke depan dan juga karena kelompok Yahudi 
sudah pernah ’’memperingatkan’’ dia perihal isu Palestina.
Padahal, kalaupun ada ’’hubungan khusus’’ dengan kelompok Yahudi, Obama perlu 
menegaskan bahwa Israel harus bertanggung jawab atas tindakan agresi itu. Sikap 
bungkam Obama justru akan membenarkan kecurigaan selama ini bahwa Amerika 
Serikat adalah ’’mediator bermuka dua’’ dan tidak jujur dalam isu 
Israel-Palestina karena kedekatan hubungan dengan Yahudi.***
Gunawan Permadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang. 
 
http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=45634


 
http://media-klaten.blogspot.com/
 
 
 
salam
Abdul Rohim


      

Kirim email ke