Refleksi: Kalau ada dua kelemahan, berarti ada kekuataannya. Kekuatan apa yang 
dimiliki Golkar? Rakyat menjadi makmur dan Golkar tidak menipu rakyat dan  
tidak korupsi?

Jawa Pos

 

[ Kamis, 01 Januari 2009 ] 

Kalla Akui Dua Kelemahan Golkar 

SORONG - Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla mengakui, partainya punya dua 
kelemahan mendasar yang lazim dialami partai-partai mapan. Yakni, kadernya 
tidak militan dan kurang berjiwa sosial. Kurang militannya kader Golkar mulai 
terjadi sejak pemerintah membuka keran pendirian partai politik di era 
reformasi dan pelarangan birokrat menjadi anggota partai politik. Sejak itu, 
Partai Golkar tidak bisa melakukan indoktrinasi dan rekrutmen kader secara 
intensif seperti masa Orde Baru. 

"Kalau dulu, kita bisa perintahkan camat kumpulkan warga untuk kursus 
pendidikan politik selama 15 hari. Hasilnya, kader yang dihasilkan sangat 
militan. Sekarang praktik seperti itu tidak bisa diterapkan lagi," ujar Kalla 
dalam temu kader Partai Golkar se-Papua Barat di Sorong kemarin (30/12). 

Menyadari kelemahan tersebut, kata Kalla, Golkar sejak awal menerapkan sistem 
suara terbanyak pada pemilu legislatif. Dengan menghilangkan sistem nomor urut 
dalam penentuan caleg terpilih, Golkar mendorong kader-kader yang menjadi caleg 
untuk melakukan pendekatan sosial kepada calon konstituen. 

"Saya yakin, dengan sistem suara terbanyak, seluruh caleg mengerahkan semua 
kemampuan mendekati rakyat. Baik melalui kegiatan sosial maupun pemberdayaan 
masyarakat," katanya. 

Penerapan sistem suara terbanyak diyakini mampu menyembuhkan penyakit kronis 
politisi. Yakni, mendekat kepada rakyat menjelang pemilu, namun kehilangan 
kepekaan sosial setelah terpilih menjadi anggota legislatif atau pejabat 
eksekutif. "Sekarang, kalau mau terpilih lagi, selama lima tahun mereka harus 
terus turun ke masyarakat menunjukkan kepedulian. Kalau dulu loyal pada ketua 
umum, sekarang harus loyal pada konstituen," tegasnya

<<43993large.jpg>>

Kirim email ke