http://www.harianterbit.com/artikel/fokus/artikel.php?aid=59223


BBM dan gas langka, copot Dirut Pertamina
      Tanggal :  05 Jan 2009 
      Sumber :  Harian Terbit 


JAKARTA - Dua anggota DPR, masing-masing Ir H Nizar Dahlan dari Fraksi Bintang 
Pelopor Demokrasi (FBPD) dan Alvin Lie dari Fraksi PAN, Senin (5/1), mendesak 
Presiden Yudhoyono segera memecat Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Ari 
Sumarno dari jabatannya akibat terjadinya kelangkaan BBM dan seretnya pasokan 
gas dan minyak tanah yang membuat masyarakat susah.

Selain dinilai tidak becus, Sumarno juga dicurigai melakukan konspirasi 
tertentu yang tujuannya untuk memperburuk citra pemerintahan SBY-JK. Kedua nara 
sumber yang dihubungi terpisah, sama menilai kelangkaan BBM menjadi 
tanggungjawab Ari Soemarno.

Menurut Alvin, kelangkaan BBM terjadi karena ketidakbecusan Ari Sumarno selaku 
Dirut dalam menjalankan tugasnya. "Berbagai alasan dikemukakan PT Pertamina 
setiap terjadi kelangkaan BBM seperti distribusi. Namun itu semua kan menjadi 
tanggungjawab Dirut PT Pertamina. Tidak ada anak buah yang salah. Yang 
bertanggungjawab itu adalah pemimpin. Karena itu, Ari perlu dicopot sebagai 
Dirut," tegas Alvin.

Sementara Nizar Dahlan mencurigai kelangkaan BBM dan gas yang selalu berulang 
tersebut karena konspirasi yang dilakukan Ari Sumarno selaku Dirut Pertamina 
untuk merusak citra pemerintahan sekarang sehingga duet SBY-JK ini tidak 
dipilih lagi oleh rakyat pada pemilu 2009. 

Konspirasi dengan tujuan meruntuhkan citra Presiden SBY itu, kata Nizar, bisa 
saja dilakukan Ari Sumarno dengan para calon presiden (capres) yang bakal maju 
pada pemilihan presiden 2009. "Kemungkinan ke arah itu ada. Apalagi, Ari 
bukanlah kader Partai Demokrat atau Partai Golkar. Bisa saja Ari mendukung 
capres lain sehingga dengan kekuasaan yang dia miliki, yang bersangkutan 
berusaha menjatuhkan citra penguasa sekarang dengan jalan mempermainkan 
distribusi BBM," tambah Nizar.

Namun kecurigaan Nizar ini disangkal anak buah SBY di DPR. Marzuki Ali yang 
juga Sekjen DPP Partai Demokrat yang dihubungi terpisah, memang tak mau 
berkomentar banyak tentang seringnya BBM dan gas langka. Namun, "Saya tidak mau 
berburuk sangka mengenai hal itu," kata dia saat dihubungi melalui telepon 
selulernya. 

Kalau memang ada usaha ke arah itu (konspirasi-red), kata dia, ini tidak bisa 
dilakukan sehari dua hari. "Walau kelangkaan BBM terjadi berulang kali, namun 
ini tidak terus menerus. Paling hanya dua tiga hari saja."

Ditanya tentang kemungkinan ada usaha untuk menjatuhnya citra Presiden SBY oleh 
lawan-lawan politiknya, Marzuki mengatakan, hal itu tentu saja terjadi. 
"Lawan-lawan politik SBY pasti berusaha agar citra lawannya jatuh sehingga yang 
bersangkutan terpilih menjadi presiden pada pilpres mendatang. Tapi, saya tidak 
mau berburuk sangka," ulang Marzuki. 

Menurut Nizar Dahlan, sejak Pertamina dibawah kepemimpinan Ari Sumarno, 
kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas selalu terjadi. Padahal, kebutuhan 
PT Pertamina untuk melayani masyarakat sudah dipenuhi pemerintah. 

Kelangkaan BBM tersebut, kata Nizar, membuat aktivitas rakyat menjadi 
terganggu. Pengemudi kendaraan terpaksa antri berjam-jam di Stasiun Pengisian 
Bahan Bakar (SPBU) untuk mendapatkan BBM. Sedangkan ibu rumah tangga dibuat 
repot untuk mendapatkan gas dan minyak tanah. 

Letak kesalahan semua ini, ungkap Ketua DPP Partai Bulan Bintang (PBB) itu, ada 
pada PT Pertamina. Soalnya, perusahaan plat merah tersebut menguasai sepenuhnya 
masalah pengadaan dan pendistribusian BBM sampai ke tingkat agen dan SPBU. 

Kelangkaan BBM dan gas, kata Nizar, telah mencedarai niat baik dan perjuangan 
susah payah dari duet Presiden SBY-JK untuk memberikan pelayanan terbaik kepada 
masyarakat. "Pemerintah sudah menyiapkan segala-galanya untuk memenuhi harapan 
masyarakat. Namun, kenyataannya akibat pimpinan PT Pertamina yang tidak becus 
mengakibatkan rakyat menjadi susah," kata dia. 

Menurut Nizar, Presiden SBY harus mengantisipasi sejauh itu kalau yang 
bersangkutan benar-benar ingin kembali di pilih rakyat pada pilpres mendatang. 
Salah satunya adalah secepatnya mencopot Ari sebagai Dirut Pertamina dan 
menggantinya dengan orang yang lebih kredibel. 

"Bila perlu ganti dengan orang Partai Demokrat atau Partai Golkar. Ari juga 
bisa diganti dengan orang kepercayaan SBY atau JK. Saya khawatir SBY tidak 
dipilih lagi oleh rakyat karena BBM. Sudah banyak contoh penguasa jatuh karena 
masalah ini termasuk Sembako," kata dia. 

Sementara itu pengamat ekonomi dari Komite Indonesia Bangkit (KIB) Hendri 
Saparini menilai kelangkaan premium di SPBU belakangan ini sebagai dampak dari 
putusan pemerintah yang akan menyesuaikan harga BBM dengan harga pasar dan kurs 
rupiah atau menghilangkan subsidi. 

Kebijakan ini sangat mempengaruhi kebijakan SPBU karena mereka selalu harus 
menghitung harga BBM ke depan yang sangat fluktuatif - sesuai harga pasar - 
agar tidak rugi. "Kalau harga bakal turun misalnya, SPBU tidak mau menebus DO, 
sehingga tidak ada jaminan suplay BBM yang cukup untuk rakyat, "tambahnya. 

Kebijakan harga BBM yang disesuaikan harga pasar dan kurs rupiah dengan 
dibungkus penurunan harga BBM, sangat merugikan rakyat kecil. "Rakyat dibuat 
terbuai dengan penurunan harga BBM tapi kebijakan itu diikuti dengan 
penyesuaian harga BBM mengikuti harga pasar dan kurs rupiah," tegas Hendri.

Kebijakan tersebut, tambah Hendri, sangat menyulitkan karena daya beli rakyat 
kecil belum siap untuk mengikuti harga pasar.

Selain itu,kebijakan ini bertentangan dengan konstitusi yang mengamanatkan 
pemerintah wajib memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya, tambah Hendri. (lam/art)

Kirim email ke