Perlawanan dari Sudut Ekonomi terhadap Israel 

Coba Lagi Memainkan Kartu Minyak 

Benar-benar congkak. Itulah sikap Israel yang tak mau mengindahkan teriakan 
sebagian dunia agar menghentikan agresinya ke tengah Gaza, Palestina. Bahkan, 
PM Israel Ehud Olmert seperti menantang seluruh dunia muslim khususnya, tak 
akan pernah menghentikan serangannya sampai pemerintahan Hamas musnah. 

Yang perlu kita tatap secara spesifik, adakah kemungkinan berdampak pada 
perkembangan ekonomi global yang kini masih dilanda krisis?

Kemungkinan dampak negatif itu ada. Salah satu faktor utamanya adalah 
kemungkinan negara-negara produsen minyak Arab bereaksi secara positif 
(terbangkit kesadarannya) untuk membela kepentingan kemanusiaan dan politik 
pemerintahan dan bangsa Palestina. 

Meski sejauh ini dunia Arab sering dilanda krisis soliditas, sebagai sesama 
"darah" Arab, kemungkinan akan muncul kesadaran baru. Merasa terinjak-injak 
atas kebiadaban negeri Zionis yang melampaui batas itu, apalagi menantang 
demikian congkaknya.

Gejala kesadaran (solidaritas) itu sudah tampak. Beberapa hari lalu, 
negara-negara Arab Teluk -terutama Kuwait dan Uni Emirat Arab- mengambil sikap 
politik. Mereka mengurangi produksi minyaknya sebagai sikap moral untuk membela 
saudaranya (anak-bangsa Palestina). 

Pengurangan itu sama artinya akan terjadi kontraksi juga terhadap volume 
ekspornya, baik ke negara-negara industri atau bahkan negara-negara importer 
lainnya. Jika langkah negara-negara Arab Teluk tersebut diikuti negara-negara 
produsen Arab lainnya, katakanlah Arab Saudi, Yordania, dan Syiria ditambah 
Iran, dunia akan benar-benar menghadapi situasi pahit: terjadi krisis energi 
bagi negara-negara importer minyak, termasuk Indonesia.

Memang, sejumlah negara industri kini sudah mengembangkan energi alternatif 
untuk memenuhi kebutuhan industrinya. Tapi, fakta menunjukkan, mereka masih 
meletakkan ketergantungan pasok minyaknya dari bumi Arab.

 

Sementara itu negara-negara produsen minyak Arab hingga kini masih menguasai 
sekitar 45 persen di antara total kebutuhan energi minyak dunia. Persentase 
ketergantungan minyak Arab itu cukup signifikan. Maka, sungguh membahayakan 
bagi kelangsungan hidup industri negara-negara maju jika solidaritas Arab 
terjadi (mengurangi volume produksinya secara signifikan).

Jika Solidaritas Arab Terwujud

Yang perlu kita garis bawahi, jika negara-negara Arab -apalagi Iran- 
benar-benar menjawab agresi Israel dengan mengurangi produksi minyak secara 
signifikan, yang bakal kena dampaknya bukan hanya negara-negara industri, tapi 
juga negara importer, termasuk Indonesia. Dampak negatif yang paling dekat 
adalah ekonomi. 

Seperti kita ketahui, beberapa pekan lalu terjadi kenaikan harga minyak dunia 
secara hiperbolik. Padahal, tingkat volume produksinya masih normal; relatif 
sesuai antara permintaan versus penawaran. Kenaikan harga minyak dunia ikut 
menambah kualitas krisis ekonomi global akibat mismanagement tata keuangan 
lembaga-lembaga perbankan, terutama di negeri AS.

Kini, krisis ekonomi global belum pulih, meski dilakukan aksi bersama dari 
negeri-negara Barat untuk mengatasinya. Harus kita akui, negara-negara lain 
masih terkena dampak buruknya. Bahkan, sedang tunggu giliran untuk krisis. 

Bayang-bayang giliran bisa jadi kenyataan, tidak hanya bagi negara-negara yang 
belum terkena getah pahitnya, tapi negara-negara maju pun akan terlanda kembali 
krisis ekonomi babak berikut. Faktor utamanya, pengurangan volume impor minyak 
karena produksi minyak berkurang. 

Tingkat pasok minyak yang kontraktif itu sangat berpotensi mengakibatkan 
lonjakan harga minyak "jilid II", setelah kini masih dalam posisi rendah -belum 
mencapai angka USD 50 per barel. 

Menatap prediksi harga minyak yang berpotensi kembali naik, dunia ini -seluruh 
negara importer minyak Arab, dari komponen negara-negara maju bahkan 
negara-negara berkembang lain- seharusnya terpanggil untuk mengerem potensi 
tersebut.

 

Karena itu, the seven government (G-7) -tujuh negara-negara maju- seharusnya 
lebih terpanggil. Sebab, kepentingannya jauh lebih besar. Yaitu, selain 
mempertahankan roda industrinya, juga pemulihan krisis ekonomi domestiknya 
akibat mismanagement sistem lembaga keuangan mereka.

Pendekatan yang dilakukan sesungguhnya sederhana. Tidak harus merancang bagun 
kebijakan untuk menahan lajunya harga minyak, tapi cukuplah dengan memahami 
kepentingan negara-negara produsen minyak Arab. 

Refleksinya, seluruh negara yang masih menggantungkan minyak Arab harus mampu 
meyakinkan Israel untuk menghentikan agresinya. Jika diplomasinya langsung 
tertuju untuk penyelematan anak-bangsa Palestina, misinya akan gagal total. 

Karena itu, yang harus dikembangkan ialah membangun kesadaran elite Israel, 
bahkan para kapitalis Yahudi di mana pun, bahwa agresinya ke tengah Gaza akan 
berdampak lebih jauh terhadap krisis ekonomi global. Dan, hal ini pun -pada 
akhirnya- bukan hanya menggebuk ekonomi negara-negara maju dan importer 
lainnya. Juga, menggebuk kepentingan ekonomi kapitalis dunia, termasuk unsur 
Yahudi yang kampiun di sektor bisnis. 

Suripto SH, wakil ketua Komisi III DPR, ketua Komite Nasional untuk Rakyat 
Palestina (KNRP) 
 
http://jawapos.com/

 
http://media-klaten.blogspot.com/
 
 
 
salam
Abdul Rohim


      

Kirim email ke