Gaza

Nono Anwar Makarim
Penasihat hukum di Jakarta 
Omong kosong Israel bilang mau menghabisi Hamas. Di Libanon, pada 2006, mereka 
juga bilang mau menghabisi Hizbullah. Namun, setelah meriam tank-tank Ma’rev 
dibungkam oleh perlawanan Hizbullah, Israel terpaksa mengakui bahwa Hizbullah 
tidak bisa dibasmi. Seperti halnya dengan Hizbullah, Hamas pun tak mungkin 
dihabisi. 
Sudah lebih dari sepuluh tahun Israel melakukan operasi pembunuhan pimpinan 
garis keras Palestina. Puluhan komandan pasukan gerilya Palestina mati, tapi 
ratusan sukarelawan berebut menawarkan diri untuk dilatih mengisi lowongan yang 
ditinggalkan mereka yang dibantai. Sepuluh dibunuh, seratus yang maju. Politik 
basmi yang ditujukan pada gerakan yang didukung rakyat adalah pengantar ke 
jalan buntu. 
Koalisi partai yang berkuasa di Israel kepepet waktu. Paling sedikit ada dua 
ketidakpastian di benak mereka. Benar Obama menempatkan dua tokoh pro-Israel 
pada posisi utama dalam pemerintahannya, Rahm Emmanuel sebagai Kepala Staf 
Gedung Putih dan Hillary Clinton, menteri luar negerinya. Tapi mengapa hal itu 
dilakukannya setelah menang pemilu secara amat meyakinkan? Buat apa merayu 
masyarakat Zionis Amerika lagi? Bukankah suara mereka sudah dikantonginya? 
Israel bimbang akan bentuk perubahan yang dijanjikan Obama. Akankah Amerika 
menjalankan politik luar negeri baru yang lebih menguntungkan bagi Amerika 
sendiri, atau melanjutkan politik luar negeri lama yang cetak birunya dibuat di 
meja gambar Tel Aviv? Yang jelas, Amerika sedang kehabisan uang. Nafsu terjun 
dalam avontur seperti Perang Vietnam atau serbu Irak mungkin masih besar, tapi 
tenaga dan dana sudah berkurang. 
Partai yang berkuasa di Israel juga kepepet waktu karena pada Februari 2009 
Israel akan mengadakan pemilihan umum. Diperkirakan, koalisi yang bisa digalang 
Partai Kadima warisan Ariel Sharon akan menang tipis karena semburan api naga 
murka bernama Benyamin Netanyahu. Partai politik Netanyahu, Likud, penganut 
garis keras dalam politik Israel. Netanyahu condong pada kebijakan 
libas-sana-libas-sini, gagal atau berhasil perkara belakang. Likud mengecam 
pemimpin Kadima berpolitik lembek, lemah, mengorbankan Yahudi untuk berkompromi 
dengan kebohongan Arab. 
Untuk menangkis tuduhan ini harus dibuktikan bahwa Kadima bisa main kasar. 
Perlu juga diketahui bahwa operasi ”habisi Hamas” sudah dirancang lebih dari 
setahun. Hanya alasannya yang baru muncul ketika Hamas mengakhiri gencatan 
senjata secara sepihak. Penembakan roket ke selatan Israel sebagai alasan 
perang kurang meyakinkan. Lima tahun penembakan roket Qassam ke Israel 
menimbulkan enam korban jiwa di Israel; perang lima hari membantai 400 orang 
Palestina dan melukai 2.000. Hamas juga sudah lama mempersiapkan perang. 
Terowongan-terowongan digali untuk menyelundupkan senjata dan amunisi menembus 
blokade dan masuk ke Gaza. 
Apa sebenarnya yang dituntut pejuang di Gaza? Hamas berkeras minta jam 
Palestina diputar kembali ke zaman pra-1940-an. Palestina harus diberi cap 
Islam yang jelas, di samping cap Kristen dan Yahudi. Hamas mau hidup 
berdampingan dengan umat Kristen dan Hibrani dalam satu negara Palestina. 
Mereka tidak suka solusi dua negara, karena tanah subur dan sumber air akan 
tetap dikuasai Israel. Namun demikian, Hamas bersedia menerima konsep dua 
negara untuk sementara dan dalam keadaan gencatan senjata jangka panjang, bukan 
damai. Hak Palestina yang direbut Israel harus dikembalikan, termasuk kampung 
halaman yang sekarang terletak di Israel. 
Garis keras Hamas merupakan pantulan struktur kependudukan di Gaza. Delapan 
puluh persen penduduk Gaza yang berjumlah 1.500.000 orang adalah pengungsi 
beserta anak, cucu, dan cicit mereka. Dulu, ketika para Zionis tinggal dalam 
pengasingan diaspora, dalam setiap kesempatan berkumpul mereka melepas 
kerinduan akan tanah leluhur mereka dengan seruan ”tahun depan di Yerusalem”. 
Para pengungsi Palestina yang diusir tentara pendudukan Israel dari kampung 
halaman mereka juga terus mendambakan kembali ke rumah mereka yang direbut 
orang Yahudi. Mereka juga secara turun-temurun merindukan mudik, dan berseru 
”tahun depan di Haifa, di Tel Aviv, Al-Quds”. 
Di dalam kanun Hibrani orang Yahudi dilarang melupakan kezaliman yang mereka 
alami. Dalam tradisi oral bangsa Arab juga ditemukan hikayat derita atas 
perlakuan kejam terhadap mereka. Seperti memori Yahudi akan pogrom dan 
holocaust, ratapan Palestina juga ditembangkan antar-generasi, supaya terus 
diingat dan terukir dalam memori peradaban mereka. Memori semacam inilah yang 
menjadi rintangan terbesar bagi perdamaian dan pemicu terkuat untuk perang. 
Untuk berdamai orang harus bersedia belajar lupa. 
Israel sejak semula tidak mengizinkan pengungsi Palestina pulang ke kediaman 
asalnya. Israel tidak berminat membentuk negara kesatuan Islam-Kristen-Yahudi, 
yang dalam waktu singkat akan dibanjiri warga negara keturunan Arab. 
Dibandingkan dengan penduduk Kristen dan Yahudi, orang Arab Palestina memang 
paling suka, paling sering, dan paling banyak bikin anak. Bisa jadi pada 
pertengahan abad ke-21 mayoritas warga negara Palestina di negara kesatuan 
semacam itu adalah pemeluk agama Islam. Itu sebabnya mengapa usul negara 
kesatuan ditolak Israel setiap kali muncul dalam perundingan damai Arab-Israel. 
Penolakan itu memperkuat kesan bahwa Israel menjalankan politik apartheid 
seperti Afrika Selatan. Kesimpulan ini bahkan dibukukan oleh Jimmy Carter, 
mantan Presiden Amerika Serikat. 
Dalam konfrontasi Arab-Israel orang banyak berasumsi bahwa semua negara di 
Timur Tengah yang bernapaskan Islam akan membantu Palestina. Kenyataannya tidak 
demikian. Hamas didukung Iran, Irak, dan Libanon, tiga negara dengan mayoritas 
Syiah. Gaza sudah lama diblokade oleh Israel. BBM, bahan makanan, dan 
obat-obatan dipersulit masuk ke Gaza. Ketika Israel mulai melancarkan 
bombardemen terhadap Gaza, banyak penduduk, terutama perempuan, orang jompo, 
dan anak, berduyun lari menuju pintu gerbang Mesir untuk mengungsi ke negeri 
umat terdekat. 
Pemerintah Hosni Mubarak mengerahkan tambahan 300 penjaga gerbang untuk menutup 
rapat gerbang penyelamat. Mesir dan Israel bekerja sama dalam blokade ekonomi 
terhadap Gaza. Hamas dibentuk oleh Ikhwanul Muslimin Mesir 20-an tahun yang 
lalu. Rezim militer di negeri itu merasa terancam oleh organisasi itu, yang 
tambah lama tambah berakar di kalangan rakyat jelata Mesir. Membantu Hamas 
identik dengan membantu Ikhwanul Muslimin, pesaing kekuasaan Mubarak yang amat 
potensial. 
Solidaritas antar-umat pada umumnya juga tampak lemah. Lapangan terbang militer 
Turki dipakai oleh pesawat tempur Amerika untuk mengebom Irak. Tadinya Amerika 
mempersenjatai dan membiayai Irak untuk berperang melawan Iran. Saudi berupaya 
keras agar program nuklir Iran dicegah. Struktur kepentingan di antara 
negara-negara Arab tidak memberikan banyak harapan manfaat bagi Palestina dari 
pertemuan Liga Arab yang direncanakan sebagai reaksi terhadap perang Gaza. 
Di Palestina sendiri organisasi warisan Yasser Arafat terus dipojokkan oleh 
Hamas dengan tuduhan antek Barat, musuh Islam. Kampanye yang mengalahkan Fatah 
di Gaza berbunyi ”Fatah mau berunding terus! Hasilnya Nol Besar. Hamas memilih 
jalan perang. Hasilnya Israel enyah dari Gaza”. Jika sekarang Mahmud Abbas 
mulai berbicara tentang tekadnya menghentikan semua perundingan dengan Israel, 
itu harus diartikan sebagai sukses kampanye Hamas, dan munculnya kemungkinan 
Hamas dan Fatah merapatkan barisan. 
Hamas mengakhiri gencatan senjata secara sepihak dengan tiga tujuan. Pertama, 
Hamas ingin menunjukkan bahwa garis Fatah yang terus berunding dengan Israel 
telah gagal karena tidak menghasilkan manfaat apa pun bagi Palestina. 
Sebaliknya, garis keras Hamas telah mengenyahkan Israel dari Gaza. Kedua, Hamas 
ingin memancing Israel agar menggunakan infanteri untuk berperang gerilya di 
kota. Ketiga, Hamas ingin meyakinkan lawan bahwa ia adalah satu-satunya pihak 
yang berdaulat untuk berunding atas nama rakyat Palestina. 
Dengan alasannya masing-masing, Israel dan Hamas memilih jalan perang. Setiap 
kali debu perang mengendap dan orang menghitung harga, korban jiwa, dan materi 
di pihak Arab berjumlah 100 kali korban di pihak Israel. Tapi mereka terus 
berperang, tanpa menang sepenuhnya, tanpa kalah meyakinkan, tanpa kesudahan. 
Dalam kegelapan itu hanya tampak dua titik terang: sebelum bombardemen Israel 
suatu survei di kalangan penduduk Gaza menunjukkan bahwa sebanyak 74 persen 
orang Palestina menginginkan diteruskannya gencatan senjata. Hasil polling itu 
menunjukkan bahwa betapapun cacatnya gencatan senjata dalam kondisi cekikan 
blokade ekonomi, rakyat Palestina tetap memilih damai ketimbang perang. Suara 
dari bawah berbunyi ”hentikan perang”. 
Titik terang yang satu lagi adalah kesediaan Hamas menerima solusi dua negara 
dalam suasana gencatan senjata jangka panjang. Titik terang ini perlu 
dikembangkan. Gencatan senjata biasanya sekadar stasiun persinggahan antara 
keberangkatan dan ketibaan. Gencatan senjata jangka panjang secara konsepsional 
tetap bermakna sebagai stasiun persinggahan, tetapi dibebani harapan bahwa 
penumpang kereta, masinis, dan kondektur menjadi terbiasa pada kenyamanan 
lingkungan stasiun sehingga tidak merasa terdorong lagi untuk repot-repot 
menuju stasiun ketibaan. 
Gencatan senjata jangka panjang dijadikan sinonim perdamaian dengan tiga 
syarat: pengawasan internasional yang ketat, tidak berpihak, dan bergigi; 
bantuan ekonomi yang terarah pada kesehatan dan pendidikan rakyat; dan 
pengembalian wilayah secara bertahap sesuai dengan tahapan kepatuhan pada 
perjanjian gencatan senjata.
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/01/05/KL/mbm.20090105.KL129162.id.html


 
http://media-klaten.blogspot.com/
 
 
 
salam
Abdul Rohim


      

Kirim email ke