Quran/Bible Bukan Catatan Sejarah Tapi Dongeng2 Turun Temurun
                                     
Dizaman dulu belum ada buku cerita, belum ada filem, belum ada teater,
dan belum ada sandiwara.  Jadi untuk entertainment masyarakat ada
tukang dongeng.  Kalo di Jawa sudah lebih maju lagi, bentuknya bukan
tukang dongeng tetapi dalang wayang kulit.

Dongeng2 itu isinya adalah teladan2 yang dikagumi sebagai etika moral
yang dianggapnya cocok untuk mendidik generasi baru dalam masing2
kelompok2 yang bersangkutan.

Setelah muncul tulisan2, maka dongeng2 ini dibukukan dan ada kalanya
masing2 buku itu berisi dongeng2 yang berbeda tetapi namanya sama.

Pada suatu saat muncul jagoan yang mendominasi kelompoknya yang
kemudian memaksakan dongeng2 tsb diseragamkan, maka jadilah pensucian
buku2 itu sebagai kitab suci yang harus dipatuhi.

Tapi zaman itu makin maju, sekarang ada TV, Teater, Sandiwara, Opera,
Filem, bahkan Lagu2 yang kesemuanya bisa digunakan menyampaikan pesan2
etika moral yang ingin disampaikan ke generasi penerusnya.

Memang, masalah dongeng2 itu tak perlu kita ubah, namun kalo sampai
terjadi pembunuhan, terror2 Jihad, dan pelestarian kebencian seperti
halnya Syariah Islam, maka perlu ada yang diperbaiki, perlu ada yang
diubah, perlu adanya penyempurnaan yang mencegah terjadinya
pembunuhan2 itu.  Janganlah malah hal2 buruk ini justru dilestarikan
yang mengakibatkan terror2 ini berlangsung turun temurun.

Contohnya, dizaman hidupnya nabi Muhammad tidak diperbolehkan wanita
bekerja diluar rumahnya, dan yang bekerja mencari nafkah hanyalah
laki2 dan berperang juga tugas kewajiban laki2.  Sebaliknya dizaman
sekarang lebih banyak wanita bekerja diluar rumah, bahkan laki2 lebih
susah mendapatkan pekerjaan karena lapangan pekerjaan laki2 diambil
alih oleh wanita.  Di Bali, banyak wanita memacul dan meluku sawah
sementara suaminya tinggal dirumah lumpuh kena stroke.  Padahal kalo
mau pakai hukum Islam, laki2 stroke yang sudah tak bisa beri nafkah ke
anak isterinya boleh ditinggalkan saja cari suami baru.  Demikianlah
cara2 Islam itu sudah tak bisa digunakan lagi dizaman sekarang.

Memang didunia Islam lebih banyak kaum wanita yang jadi korban atau
dikorbankan akibat poligami dan meletakkan posisi wanita lebih rendah
daripada laki2.  Tetapi dengan berlakunya HAM diseluruh dunia dizaman
sekarang ini, justru sebaliknya, laki2 juga bisa jadi korban, dan
dikorbankan oleh isterinya.  Misalnya, suami pengangguran ditinggal
cerai oleh isterinya karena memang dibolehkan dalam Islam.  Padahal
kalo di Amerika, mana boleh isteri meninggalkan suaminya yang
pengangguran.  Kalopun isteri mau menceraikan suami pengangguran, maka
sang isteri harus membiayai hidup suaminya selama belum mendapatkan
pekerjaan atau selama tidak bekerja.  Misalnya, kalo suami lumpuh kena
stroke, maka apabila si Isteri mau menceraikannya, maka si isteri
harus seumur hidup membiayai memelihara dan merawat suaminya itu.....
 dan hal ini enggak ada dalam ajaran Islam.

Ajaran Islam aselinya kejam terhadap wanita, tapi akan menjadi
bumerang apabila ajaran Islam ini di applikasi kan kedalam zaman
modern dimana wanita lebih banyak bekerja dan laki2 kehilangan
lapangan kerjanya.



> "pemerhatidunia" <pemerhatidu...@...> wrote:
> Dari Bible diceritakan bahwa keduanya adalah
> memang pendatang. Dari zaman sebelum Daud
> yaitu masa Israel dipimpin Hakim2 sudah ada
> kaum Filistin di Gaza. Mereka itulah yg rumah
> ibadahnya dirubuhkan oleh Samson. Mereka
> itulah Goliath (Jalut) yang kalah melawan
> Daud dgn ketepel nya. 
> 


Sorry, Bible dan Quran bukan buku sejarah melainkan buku berisi
dongeng2 rakyat yang dihafalnya secara turun temurun dan belakangan
ada yang menulisnya dalam bentuk buku yang kemudian disucikan,
dikeramatkan, dan dianggap sebagai wahyu Tuhan atau Allah.

Bible dan Quran belum mengenal ilmu anthropology, karena ternyata
berdasarkan penelitian genealogy, anthropology, dan culturnya race
manusia ada specification-nya dan setiap race terbagi dalam banyak
ethnicity-nya.

Demikianlah, Jews itu nama agama, dan Filistine adalah nama kelompok
dewa dewi.  Meskipun kedua kepercayaan ini berbeda, namun penganutnya
berasal dari ethnicity dan race yang sama.  Keduanya menduduki lokasi
dan wilayah yang juga sama dalam bahasa komunikasi yang juga sama.

Berbeda sekali dengan pendatang2 dari Arab yang berbeda ethnicity-nya,
lokasi daerahnya, dan bahkan bahasa maupun tulisannyapun berbeda.

Pemeluk Jews dan Filistine bisa disamakan dengan pemeluk Hindu di Bali
dan pemeluk Buddha di Bali.  Meskipun agama Hindu dan Buddha berbeda
namun ethnicitynya sama2 orang Bali yang bahasanya maupun lokasi
geografisnya juga ditempat yang sama.

Berbeda dengan orang Cina, yang meskipun beragama Buddha tetapi
ethnicity, bahasa dan lokasi geografis mereka berbeda asalnya.

Demikianlah, orang2 Jews ini sama dengan orang2 Palestina, tetapi
berbeda dengan orang Arab Palestina.  Inilah realitasnya yang tidak
bisa negara Arab Palestina mendapat dukungan dari semua negara2 yang
bukan Islam.  Sampai kiamat pun tidak mungkin bisa diubah kenyataan ini.

Kalo orang2 Cina yang datang ke Indonesia bisa dan mau berassimilasi
dengan penduduk aselinya, lalu kenapa Arab2 Palestina ini justru bukan
cuma menentang berassimilasi tapi bahkan mau mengusir dan memusnahkan
penduduk aselinya.  Padahal orang2 Cina di Indonesia enggak pernah
mengusir penduduk pribuminya, justru penduduk pribuminyalah yang
kadang2 ingin mengusir mereka tanpa berniat membunuhnya.

Jadi Arab Palestina benar2 terkutuk dan laknat, mereka memang tidak
tahu diri dan harusnya mereka lah yang diusir.  Namun Israel yang
orang Yahudi ini ternyata masih mau mengalah, bahkan bersedia
memberikan tanahnya untuk dijadikan negara mereka.  Sudah diberi tanah
sekalipun tetap saja berusaha membunuhi orang2 Israel yang sah sebagai
penduduk aselinya yang diakui seluruh dunia ini.

Itulah sebabnya, saya cuma mengajak semua pembaca jujur dalam
berpihak, mau menerima yang benar2 salah seperti Arab Palestina ini
dan yang sebenarnya sama sekali tidak bersalah seperti orang2 Yahudi ini.

Apalagi kita sebagai orang Indonesia, bukankah harus konsistent ??? 
kalo kita tidak suka kepada Cina Indonesia tidak seharusnya kita harus
berpihak kepada Arab Palestina, itu namanya tidak konsistent.

Alasannya cuma karena sama2 beragama Islam, padahal kesamaan agama itu
sama sekali tidak bisa dijadikan landasan untuk berpihak, terbukti
terhadap umat Islam Ahmadiah ternyata berusaha kita usir dari tanah
air mereka, melarang mereka hidup di Indonesia, sama seperti mengusir
orang Yahudi dari tanah mereka.

Lalu dimana bisa dibenarkan dengan berpihak kepada Arab Palestina ???
 Adilkah ???  Jelas enggak adil kita berbuat demikian, tidak fair,
tidak jujur, dan tidak sportif mengakui bahwa kita ini salah.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke