Akhirnya Menlu
Belanda Maxime Verhagen akan bertemu dengan keluarga korban pembantaian
Rawagede.

 

Pada 25 November 2008, Kantor Berita internasional The Associated Press 
memberitakan, bahwa pemerintah Belanda –melalui
jurubicara Deplu Belanda Aad Meijer- mengumumkan penolakan terhadap tuntutan
kompensasi dari 9 orang janda korban dan seorang korban selamat dari
pembantaian di Rawagede. 

Pada 9 Desember 1947 tentara Belanda membantai 431 penduduk desa Rawagede
(kini bernama Balongsari), tanpa suatu proses atau tuntutan apapun. Mereka
ditembak di tempat, di hadapan keluarga mereka.

Namun pemerintah Belanda juga
menyatakan, menawarkan untuk berdiskusi dengan mereka untuk membantu mereka
dalam penderitaan (offered to discuss to
help them with their grieving).

 

Pada 29 Desember 2008,
sebulan setelah pernyataan pemerintah Belanda tersebut, salah seorang janda
korban, Kesah (85 tahun), meninggal dunia.

Pada 30 Desember 2008,
Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB), yang sejak tahun 2005 membantu para
keluarga korban pembantaian di Rawagede memperjuangkan keadilan bagi mereka,
mengirim surat tebuka kepada Menteri Luar Negeri Belanda Drs. Maxime Verhagen,
mempertanyakan apa yang dimaksud dengan “penawaran untuk berdiskusi guna
membantu mereka dalam penderitaan mereka. KUKB menyampaikan, bahwa tawaran
tersebut bagi Ny. Kesah terlambat, karena dia telah meninggal dunia pada 29
Desember 2008.

KUKB juga menolak alasan
pemerintah Belanda, yang menyatakan bahwa peristiwa pembantaian di Rawagede
telah terlalu lama (too old). 

(Lihat surat terbuka KUKB kepada Menteri Luar Negeri Belanda Drs. Maxime
Verhagen di bawah ini).

 

Surat terbuka yang dikirim melalui Kedutaan Besar
Belanda di Jakarta, ditembuskan kepada Presiden RI, Parlemen Indonesia, pers
Indonesia, pers Belanda Parlemen Belanda, termasuk kepada Harry van Bommel,
dari Fraksi Partai Sosialis.

Harry van Bommel menanyakan kepada Menlu Maxime
Verhagen, apa yang akan dilakukan oleh pemerintah guna membantu penderitaan para
keluarga korban pembantaian di Rawagede.

Pada hari Selasa, 13 januari 2009, Menteri Luar
Negeri Drs. Maxime Verhagen menyampaikan jawaban, bahwa dia akan menemui para
keluarga korban pembantaian Rawagede dalam kunjungannya ke Jakarta.

 

Pertemuan rencananya akan dilangsungkan di Kedutaan
Belanda di Jakarta pada hari Rabu, 14 Januari 2009 pukul 16.00. Yang
direncanakan akan hadir dari para janda yang masih hidup adalah Wanti binti
Dodo, Wisah binti Silan dan Wanti binti Sarma. Sedangkan korban selamat
terakhir, Pak Sa’ih, 86 tahun, akan dilihat apakah kondisi kesehatannya
memungkinkan untuk ikut hadir, karena sejak beberapa waktu belakangan, kondisi
kesehatannya menurun.

Mereka akan dijemput dari Rawagede oleh pihak
Kedutaan Belanda dengan kendaraan dari kedutaan.

 

 

=====================================================

 

COMMITTEE OF DUTCH
HONORARY DEBTS

Komite Utang
Kehormatan Belanda

________________________________________________________________

 

Open Letter 

To The Honorable Drs. Maxime J.M.
Verhagen

Minister of Foreign Affairs of the
Kingdom of the Netherlands

 

 

Jakarta, December 30, 2008

 

 

To

The Hon. Drs. Maxime J.M. Verhagen

Minister of Foreign Affairs

The Netherlands

 

Via:     Embassy of the Kingdom of
the Netherlands

Jl.
H.R. Rasuna Said Kav. S-3

Kuningan,
Jakarta 12950

Indonesia

 

 

Dear
Minister Maxime Verhagen,

 

First
and foremost, we would like to express our gratitude on the presence of the
Ambassador of the Netherlands,
Dr. Nikolaos van Dam, on the Commemoration of Rawagede tragedy, which was held
in Rawagede Monument on December 9, 2008.

 

In
conjunction to the statement of the Speaker of Ministry of Foreign Affairs of
the Kingdom of Netherlands, Mr. Aad Meijer, on November 24, 2008 as reported by
The Associated Press on November 25,
2008; that the Government of Netherlands offered to discuss the case with the
widows and a survivor of Rawagede massacre in order ‘’to help them with their
grieving’’; we would like to find out further the context of this statement.

 

In
Rawagede, we have discussed this statement with families of the victims; and in
his welcome speech during the commemoration of Rawagede incident, the Chairman
of the Committee of Dutch Honorary Debts (KUKB) has made the same inquiry to
Ambassador Van Dam, which unfortunately yet to be replied.

 

But
for Mrs. Kesah, 85 years, one of the widows of the Rawagede victims, your offer
for a discussion is too late. She died yesterday on December 29, 2008 at 09.00
(local time). Mr. Sa’ih, 86 years, the last survivor of the Massacre of
Rawagede, is also seriously ill.

 

More…http://indonesiadutch.blogspot.com/2008/12/open-letter-to-minister-of-foreign.html

 

Indonesian
text, see: http://batarahutagalung.blogspot.com

 

===============================================

 

http://www.ad.nl/binnenland/2910208/Verhagen_bezoekt_nabestaanden_Rawagedeh.html

Verhagen bezoekt nabestaanden Rawagedeh

DEN HAAG -
Minister Maxime Verhagen (Buitenlandse Zaken) zal deze week tijdens zijn bezoek
aan Indonesië een persoonlijke ontmoeting hebben met de nabestaanden van
Rawagedeh. Hij zal tegen hen zijn ,,compassie, respect en medeleven tot 
uitdrukking
brengen''. 

Dat heeft de
minister dinsdag geschreven in antwoord op Kamervragen van de SP. SP-Kamerlid
Harry van Bommel wilde weten wat de Staat gaat doen om bij te dragen aan de
verwerking van het leed. Dat was gemeld in een brief aan de advocaten van de
nabestaanden, die een rechtszaak tegen de Nederlandse Staat hadden
aangespannen.

In december 1947 vielen Nederlanders het dorpje Rawagedeh op Java binnen en
schoten een groot deel van de mannelijke inwoners dood.



(ANP) 

 

 

 




      

Kirim email ke