Refleksi: Apakah Dewan Penipu Rakyat mesti terdiri dari oknom-oknom terhormat 
yang tahu apa itu hormat dan etiket berpoliti? Pegangan mereka ialah bulus dan 
oleh sebab  itu mayoritas dari mereka senang bolos. Orang yang suka bolos dari 
tugas apakah itu orang-orang terhormat?  Mereka  pandai ucapkan  Assalamalaikum 
Wabarakatu dan Insyallah.  Allah dijadikan sepuhan lidah untuk penipuan.

http://www.sinarharapan.co.id:80/berita/0901/13/pol01.html

 Abdillah Membantah
Anggota DPR Perlihatkan Sikap Tak Hormat

Oleh
Inno Jemabut 



Jakarta-Anggota DPR Abdillah Toha memperlihatkan sikap memalukan dalam 
menghadiri Sidang Forum Parlemen Asia Pasifik (Asia Pasific Parliament 
Forum/APPF) di Laos, Senin (12/1). Ketika anggota DPD (Sumatra Barat) Mochtar 
Naim hendak berbicara karena telah diberi kesempatan pimpinan sidang, Ketua 
BKSAP DPR Abdillah Toha malah melarang. Mikrofon diambil dan rapat sempat 
berhenti sejenak. "Ini sangat memalukan dan memperlihatkan sikap yang tidak 
hormat. Seharusnya mereka bekerja sama. Kalau mereka melakukan diplomasi yang 
baik, semua itu kan untuk Indonesia. 


Mengapa malah saling mempermalukan?" tegas Sekretaris Jenderal Forum Masyarakat 
Pemantau Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang di Jakarta, Selasa 
(13/1) pagi.


Wakil Ketua DPD La Ode Ida yang hadir dalam acara tersebut menyesalkan sikap 
Abdillah Toha. "Saya juga bingung. Apa hak Pak Abdillah memveto? Apalagi Pak 
Mochtar Naim dan Pak Nyoman Rudana kan sudah terdaftar ikut berbicara selama 
3-5 menit. Saya menyesalkan adanya masalah itu," kata La Ode Ida. Ia 
menejaskan, kehadiran DPD dalam forum tersebut atas undangan resmi. Mochtar 
Naim diagendakan berbicara masalah perdagangan bebas dari perspektif Indonesia 
selaku negara termaginalkan dan Nyoman Rudana mengupas masalah ecotourism.

Membantah
Namun, Abdillah Toha membantah adanya aksi menyerobot mikrofon tersebut. "Itu 
bohong besar. Saya punya saksinya. Di samping saya itu ada Willa Chandra 
(anggota FPDIP-red)," tegas Abdillah. Menurutnya, nama anggota DPD sebagai 
pembicara tidak ada di panitia rapat. "Semua yang berbicara kan didaftar di 
sekretariat secara resmi oleh delegasi resmi. DPD itu daftar sendiri tanpa 
sepengetahuan pimpinan delegasi Indonesia," jelas Abdillah Toha. 


Ketika Indonesia diberi kesempatan berbicara, tidak disebutkan nama anggota DPD 
Mocthar Naim. Lagi pula, katanya, DPD bisa ikut dalam forum itu karena dibawa 
DPR. Menurutnya, DPD pernah meminta untuk diundang dalam acara tersebut, tetapi 
ditolak. "Kami yang membawa DPD. Yang diundang kan yang memiliki hak legislasi. 
DPD tidak memiliki hak itu," tambah Abdillah Toha. Lagi pula, dalam menghadiri 
acara tersebut, La Ode Ida menyebut diri sebagai ketua delegasi. Tidak mungkin, 
kata Abdillah, satu negara memiliki dua ketua delegasi. (pendapat pribadi)


Terhadap hal tersebut La Ode Ida mengatakan, Abdillah Toha memasukan pendapat 
pribadi sebagai sikap DPR. Dalam pertemuan parlemen dunia di Genewa, Swiss 
beberapa waktu lalu, Ketua DPR Agung Laksono tidak mempersoalkan posisi DPD. 
Malah secara bersama-sama memperjuangkan Agung Laksono sebagai presiden 
parlemen dunia, sekalipun gagal. "Saya sesalkan, bukannya dia saling mendukung 
tapi malah saling mematikan," ucap La Ode Ida. 
Tetapi, menurut Abdillah Toha, di Genewa, DPD hanya advisor bagi DPR. Sebelum 
menghadiri APPF di Laos, DPR sudah beberapa kali meminta DPD untuk 
berkoordinasi, tetapi DPD selalu mau jalan sendiri. "Susah sekali DPD itu 
diatur. La Ode Ida itu mau jalan sendiri," tegas Abdillah Toha. 
Sebastian Salang berpendapat persoalan DPD dan DPR seperti ini bisa jadi 
sengketa antara lembaga. DPR memang selalu ingin selalu superior terhadap DPD 
dan ada rasa takut kalau DPD mampu bekerja lebih bagus. "Ini masalah internal 
yang sudah berlangsung sejak DPD ada. Kalau tidak diselesaikan diinternal DPD 
dan DPR maka akan terus berlanjut," kata Sebastian

Kirim email ke