“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar melainkan orang berdosa.”

(Ibr 4: 12-16; Mrk 2:13-17)

 

“Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai
danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka.
Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di
rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Maka berdirilah
Lewi lalu mengikuti Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak
pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan
murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli
Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan
orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: "Mengapa Ia
makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus
mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan
tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,
melainkan orang berdosa.” (Mrk
2:13-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi
atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Antonius, Abas, hari ini saya
sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yesus adalah Penyelamat Dunia, Ia datang untuk menyelamatkan dunia, “datang 
bukan untuk memanggil orang benar,
melainkan orang berdosa”. Kita semua yang beriman atau percaya kepadaNya
dipanggil untuk meneladanNya, berpartisipasi menyelamatkan dunia. Dimana ada
bagian dari dunia ini, tentu saja pertama-tama dan terutama manusia, tidak
selamat, sakit, menderita, dst.. ke situlah kita yang beriman kepadaNya
dipanggil untuk mendatangi dan menyelamatkan, menyembuhkan dan meringankan
beban penderitaaannya. Maka marilah pertama-tama kita perhatikan lingkungan
hidup yang dekat dengan kita,, dimana kita menjadi salah satu anggotanya:
adakah sesuatu atau sesama kita yang tidak beres atau sakit, entah sakit hati,
sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh. Jika ada yang tidak beres atau
sakit dalam lingkungan hidup kita, marilah segera kita bereskan dan sembuhkan.
Sabda atau Warta Gembira hari ini juga memanggil kita untuk senantiasa berpihak
pada dan bersama dengan mereka yang miskin dan berkekurangan dalam berbagai hal
kebutuhan hidup sehat dan damai sejahtera. Kita dapat meneladan St.Antonius
yang tersentuh oleh dan menghayati sabda ini “Pergilah, juallah apa yang 
kaumiliki dan
berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di
sorga.” (Mrk 10:2 ). Maka marilah
kita ‘menunduk’, melihat ke bawah, memperhatikan mereka yang kurang beruntung
atau kurang sejahtera dari kita, sebagaimana diajarkan juga oleh para orangtua
Jawa dengan kata-kata “Yen mlaku ndungkluk, ojo ndlangak” (=Jika berjalan
menunduk, jangan menengadah ke atas). “Berjalan” di sini yang dimaksudkan
tidak lain adalah cara hidup dan cara bertindak. Marilah kita hayati dua motto
hidup beriman atau menggereja, yaitu “solidaritas dan keberpihakan
pada/bersama yang miskin dan berkekurangan”.

·   “Firman Allah
hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk
amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup
membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.Dan tidak ada suatu makhluk pun
yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di
depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab” (Ibr 
4:12-13). Para santo atau santa pendiri Lembaga Hidup Bakti, Ordo
atau Konggregasi hidup membiara, tersentuh dan terkesan serta dipengaruhi dan
dijiwai oleh Firman Allah, maka entah Paus, Uskup, imam, bruder atau suster
atau hidup berkeluarga atau LSM-LSM ketika dinobatkan, diberkati atau
dimaklumkan sering mencanangkan motto singkat yang diambil dari teks-teks Kitab
Suci atau Firman Allah. Rasanya kita semua juga dipanggil untuk hidup dari dan
oleh Firman Allah, maka marilah kita baca
dan renungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, dan sekiranya ada
ayat-ayat atau kata-kata yang mengesan dan menyentuh secara pribadi karena
cocok atau sesuai dengan pengalaman hidup dan iman pribadi, hendaknya ayat atau
kata-kata tersebut dijadikan motto atau semboyan hidup dan bekerja. Dan ketika
kita telah memilih motto atau semboyan tertentu, entah secara pribadi atau
kelompok/bersama-sama, hendaknya konsekwen, dengan rendah hati dan bantuan
rahmat Tuhan berusaha seoptimal mungkin menghayati motto atau semboyan tersebut
dalam hidup sehari-hari, dalam keluarga, tempat kerja, masyarakat dst… Ingat,
sadari dan hayati bahwa Firman Allah ‘sanggup
membedakan pertimbangan dn pikiran hati kita’ dan jika kita mentaatinya
maka kita akan dituntun dan dibimbing menuju hidup bahagia dan damai sejahtera.

 

“Taurat TUHAN
itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat
kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati;
perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci,
tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya” (Mzm
19:8-10)

 

Jakarta, 17 Januari 2009




      Pamer gaya dengan skin baru yang keren. Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru 
sekarang! http://id.messenger.yahoo.com

Kirim email ke