KARTOGRAFI
Atlas Nasional Indonesia Pertama Diluncurkan

 
Jakarta, Kompas - Indonesia akhirnya memiliki atlas nasional resmi yang memuat 
berbagai informasi geografis. Itulah atlas resmi pertama sejak pemerintah 
kolonial Hindia Belanda membuatnya pada tahun 1938.
”Mungkin masih belum sempurna, tetapi sebagai awal sudah baik,” kata Kepala 
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) Rudolf W Matindas 
pada peluncuran resmi di Jakarta, Kamis (5/2). Sejumlah lembaga pemerintah 
nondepartemen terlibat menyusun atlas tahun 2007-2008 itu.
Atlas nasional berisi kumpulan peta tematik deskriptif, gambar, foto, tabel, 
dan citra satelit yang menghasilkan informasi fenomena, potensi, dan sumber 
daya, khususnya di pulau-pulau besar. Sebagian besar peta menggunakan peta rupa 
bumi berskala 1:1.000.000.
Dari tiga volume yang dibuat, baru diluncurkan volume I tentang fisik dan 
lingkungan alam. Temanya meliputi iklim, geomorfologi, gunung api, kelautan, 
penutup lahan, rawan bencana banjir, longsor, tsunami, dan kawasan konservasi.
Atlas nasional volume II rencananya berisi potensi dan sumber daya alam yang 
baru akan selesai disusun tahun 2009. Disusul atlas volume III berisi sejarah, 
wilayah, penduduk, budaya, dan bahasa.
Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengakui penerbitan Atlas 
Nasional Indonesia memang terlambat.
”Tidak masalah. Yang penting segera terbit volume II dan III, dan jangan lupa 
revisi volume I,” katanya.
Kusmayanto juga meminta agar dibuat versi digital yang diunggah pada situs 
Bakosurtanal karena gaya hidup warga yang terus bergerak.
Fungsi strategis
Keberadaan atlas nasional berperan strategis. Ketersediaan peta negara, bangsa, 
dan aset menentukan jati diri bangsa, selain didukung data-data sejarah dan 
kependudukan.

 
”Tanpa peta-peta itu, tidak bisa dibuat peta geostrategi dan turunannya, 
seperti geopolitik dan geoekonomi,” kata mantan Manteri Koordinator Bidang 
Perekonomian yang juga guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 
Dorodjatun Kuntjoro- Jakti. Ia mengusulkan atlas sumber daya karya manusia, 
seperti waduk dan infrastruktur lainnya.
Rencananya, atlas nasional volume I akan dibagikan kepada berbagai departemen, 
kedutaan besar, lembaga pendidikan, dan seluruh kabupaten. Melalui atlas 
nasional tersebut, para kepala daerah akan mengetahui informasi geografis 
daerahnya, di antaranya tutupan lahan, sebaran penduduk, iklim, potensi banjir, 
longsor, dan tsunami.
Harapannya, pemerintah daerah mampu mengambil kebijakan berkelanjutan. ”Ini 
penting. Seberapa banyak pihak yang minta pemekaran wilayah itu tahu informasi 
geografis di wilayahnya,” kata Pemimpin Redaksi Majalah National Geographic 
Indonesia Tantyo Bangun.
Di tengah beberapa kekurangan, keberadaan Atlas Nasional Indonesia diharapkan 
menumbuhkan kesadaran spasial dan orientasi ruang bagi masyarakat yang selama 
ini masih rendah.
Kini, Bakosurtanal sedang membangun web khusus bagi atlas nasional yang 
ditargetkan selesai pada akhir Februari 2009.
Yang berminat memiliki Atlas Nasional Indonesia dapat menghubungi Pusat Jasa 
dan Informasi Bakosurtanal atau menghubungi 021-8764613. (GSA)
 
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/06/00444029/atlas.nasional.indonesia.pertama.diluncurkan

 
http://media-klaten.blogspot.com/
 
 
 
salam
Abdul Rohim


      

Kirim email ke