http://suarapembaca.detik.com/read/2009/01/31/125041/1077290/471/mengindonesiakan-indonesia

Mengindonesiakan Indonesia
Mohammad Hamdan - suaraPembaca



Jakarta - Indonesiakah St Moritz?
Gugatan Terbuka Untuk Petinggi Negeri Ini.

Mendengar sebuah mega proyek bernama St Moritz decak kagum saya seraya saat
itu juga. Ini pasti akan banyak sekali menyerap lapangan kerja karena pasti
akan sangat padat modal sekaligus juga tentunya akan sangat padat karya.

Seandainya kita --atau proyek itu di Indonesia? Dan saya pun mengira itu
sebuah baliho besar iklan property di negara luar sana. Maklum saya membaca
sekilas saja ketika harus juga berkendara.

Seperti judul di atas Indonesiakah St Moritz? Ya, ternyata ia tak jauh dari
rumah saya. Masih di bilangan Jakarta Barat yang setiap harinya saya lewati
karena harus menunggangi jalan Tol Tangerang-Tomang untuk sampai ke tempat
saya beraktivitas seperti biasanya.

Seketika itu juga timbul kekecewaan saya bahwa kenapa harus memakai idiom
asing? Setidaknya Bahasa Indonesia serta Bangsa Indonesia ini kaya dengan
khasanah-khasanah yang "berbau" Indonesia. Kenapa tidak terpikir Bang Pitung
Penthouse & Residence?

Bukankah Pitung adalah ikon perjuangan rakyat Jakarta? Selain mengenalkan
kembali kepada anak dan cucu kita bahwa 'once upon a time' ada legenda
perjuangan melawan penjajahan Belanda juga kalau anda buat situsnya nama
Bang Pitung itu saja sudah mendistribusikan khasanah ke-Indonesiaan untuk
mendunia. Kapan lagi Indonesia dan keindonesiaan melegenda sekaligus
mendunia.

Pasti tidak lama dari itu akan muncul sebuah sinema yang mereproduksi film
yang pernah dibintangi oleh artis besar Indonesia Almarhum Dicky Zulkarnaen.
Dan bukan tidak mungkin filmnya meledak dan tidak lama dari itu akan muncul
berbagai anasir sosial dan budaya yang berimplikasi pada ranah ekonomi.

Mengindonesiakan Indonesia
Ada sebuah film laga aksi dari Thailand bertitle GARUDA. Saya tercengang. Oh
ya, kok bisa? Itu kan bahasa kita kok bisa-bisanya dipakai orang Muangthai.
Sejurus kemudian saya tersadar belum ada satu pun sinema Indonesia yang
memakai kosa kata GARUDA.

Lambang negara ini yang kita banggakan ini dan memiliki prestis "kesaktian"
dan tingkat kanuraga'an yang mumpuni dalam setiap nilainya. Sehingga tidak
mengherankan ia bisa diangkat menjadi sebuah title sinema yang diproduksi
teman kita serumpun di Thailand sana.

Dan kawan kita serumpun tersebut ternyata jauh lebih jeli karena mereka
sangat sadar untuk memenangkan pertarungan global ini kita sejauh mungkin
memperbesar jejaring sambil menginventori apa saja khasanah yang bisa
diklaim sebagai kekayaan mereka. Kita tentu sangat paham apa arti klaim tadi
dan implikasi ekonominya.

Mereka membenamkan peperangan besar bernama globalisasi justru dengan
mengartikulasi klaim idiom-idiom. Ini sama persis dengan kasus rasa
sayang-sayange. Tak becusnya kita menggali kekayaan kultural warisan nenek
moyang justru segera dipelihara dengan baik dan bernilai sangat profetisnya
justru oleh "kawan serumpun".

Serta memasukkan ke dalam jejaring komunikasi pencitraan tadi artikulasi
idiom yang mampu mengangkat citra keindonesiaan. Bukan saja itu melainkan
juga mereklamasi prestasi para leluhur kita setingkat Maha Patih Gajah Mada,
yang mampu mengukirkan penguasaan hingga sebagian filipina dengan Sumpah
Palapa-nya. Untung saja Soeharto sudah memakai Palapa sebagai nama satelit
kita karena jika kalah cepat bukan tidak mungkin jadi nama PLTN pertama di
Laos.

Seraya saya juga mengingatkan ada sebuah mega proyek di seputaran Jakarta
ini yang menggelikan menurut nalar keindonesiaan saya. Pertanyaannya
sedehana saja. Di manakah anasir keindonesiaan yang bisa kita letakkan?

Jujurnya saya mengguggat proyek-proyek seperti dan sebesar St Moritz yang
justru tidak memakai sama sekali atribut dan unsur keindonesiaan. Kalau
boleh tidak menggantinya dengan kata menghilangkan. Kita boleh modern tanpa
meninggalkan sejengkal pun keluhuran nilai budi dan pekerti lokal. Kita
boleh tinggal landas dan memacu adrenalin pembangunan. Namun, teramat sayang
meninggalkan lokalitas yang justru menjadi kekayaan dan modal kultural kita.

Saya tidak dapat membayangkan apa jadinya kita 100 tahun lagi ketika
anak-anak cucu kita sudah sangat familiar dengan grammar English, dan lupa
dengan kosa kata Bahasa (Indonesia, red.), bahwa ada keunikan dan keluhuran
yang bergitu bernilainya dari keindonesiaan. Ironisnya elo-elo pada tauk ga?
yang bahkan elo dan gue udah diadopsi abis, oleh tetangga serumpun.

Jangan-jangan kita akan sekedar menjadi pasien rumah sakit korban lelaki,
dan mendapat piala pusingan ketertinggalan budaya sekaligus ekonomi di abad
mendatang. Sementara nyang punya kite dicomot tetangga. Terus nyang kite
pake malah kita mesti import.

Bagaimana mungkin anda bisa menduniakan Indonesia kalau anda tidak berupaya
untuk mengindonesiakan Indonesia. Ini sebuah momentum sangat serius, dan
sekali lagi ini juga menjadi cambuk menjadi paradigma kita sebagai bangsa
yang bangga dengan sejarah, khasanah, dan dirinya sendiri. Bukan sekedar
meminjam milik bangsa lain.

Apalagi itu sampai bernilai ekonomi yang tinggi. Setidaknya dampak dan
urutan
komoditi budaya sebagai efek sampingnya saja sudah membuat lapangan kerja.
Apalagi proyeknya sendiri. Bukan begitu?

Pesan saya untuk para pejabat dan pemimpin negeri ini. Mari tidak lengah
menjaga dan mempertahankan kekayaan kita. Satu-satunya cara bertahan paling
ampuh adalah menyerang. Maka seranglah pasar global dengan khasanah-khasanah
kekayaan budaya kita. Mumpung sedang digalakkannya tahun ekonomi kreatif
maka alangkah kecolongannya bila dari sisi budaya kita justru melakukan
pembiaran anasir asing menguasai environment bangsa kita sendiri.

Ayo kita bisa mengindonesiakan Indonesia.

Mohammad Hamdan
Perumnas Karawaci Tangerang
senatormudaban...@yahoo.com
0818719069

Penulis adalah pemerhati INDONESIA SOFT POWER Studies. Fs/blogs :
senatormudaban...@yahoo.com 0818719069

(msh/msh)

Kirim email ke