Menguak Tabir Masa Lalu
http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2009/02/02/brk,20090202-158040,id.html
Senin, 02 Februari 2009 | 17:37 WIB
 
TEMPO Interaktif, Jakarta: Jesica sering uring-uringan di kantor. Manajer 
promosi sebuah biro iklan ini merasa gagal saat menuangkan ide-idenya. "Saya 
merasa memiliki ganjalan terus. Sepuluh tahun berkarier, tidak pernah menemukan 
hasil membanggakan. Seperti katak dalam tempurung, tidak pernah berkembang," 
ujarnya getir, saat ditemui pada acara seminar terbatas Past Life Regression 
(PLR) di Dharmawangsa Square, Jakarta, beberapa waktu lalu.
 
Namun, seusai Jesica mengikuti metode PLR atau regresi alias pengingatan ke 
kehidupan lampau, ia tahu siapa dirinya. Di kehidupan sebelumnya, sekitar 
1850-an, dia menemukan dirinya adalah dayang kesayangan istana sebuah kerajaan 
di Jawa Barat yang sering berbuat jahat. "Ternyata dulu kehidupan saya pernah 
menjadi dayang favorit yang selalu menghalalkan segala cara dengan menggoda 
para pembesar istana," tuturnya ringan. Setelah mengikuti PLR, ia lebih lapang 
menerima kenyataan pahit kehidupan sebelumnya. Dia bersyukur PLR menjadi 
penyembuhan psikologi.
 
Eddy Soetyono, pembicara seminar ini, menjelaskan, beragam trauma di kehidupan 
lampau bisa menjadi penyebab berbagai persoalan sekarang. Nah, melalui 
pengingatan ke kehidupan lampau (past life regression) disingkat regresi, 
masalah-masalah itu bisa diatasi. "Melalui pengalaman kembali kehidupan lalu, 
gejala yang kini dialaminya akan berangsur hilang dan hasilnya perasaan damai 
serta nyaman yang mendalam akan muncul," Eddy menngungkapkan.
 
Pakar past life ini mengatakan, metode tersebut untuk mengobati masalah 
kepribadian yang tidak dapat diatasi ilmu kedokteran biasa. Dampak terapi ini 
lebih dari sekadar menghilangkan aneka keluhan, sebab proses penyembuhannya 
terjadi di setiap tingkat eksistensi seseorang, termasuk fisik, emosi, dan 
spiritual. "Manfaat mereka yang sudah terbiasa melakukan PLR, yakni semakin 
mudah dan cepat memahami diri, meningkatkan kualitas, termasuk meningkatkan 
kepercayaan diri. Menunjang kesehatan fisik dan emosi serta membuka jendela 
spiritual yang kemudian memberikan makna baru, bagi seseorang," dia menjelaskan.
 
Eddy menuturkan, metode PLR biasanya memakai meditasi dan visualisasi sebagai 
penyembuhan keluhan psikologis serta fisik. Metode ini banyak ditulis para ahli 
terapi kondang, seperti Brian L. Weiss M.D. dalam buku Through Time Into 
Healing (1992), Many Lives, Many Masters, Mirrors of Time (2002), lalu Michael 
Newton, Ph.D, dalam Destiny of Souls dan Journey of Souls. Kemudian, Richard 
Webster, pakar hypnotherapi Selandia Baru lewat buku Practical Guide to Past 
Life Memories, Soul Mates: Relationships Across Time.
 
Pada terapi past life-nya Brian Weiss, teknik penyembuhan yang melibatkan klien 
untuk kembali mengalami kehidupan masa lalu. Saat masa kecil, saat di 
kandungan, dan terutama saat ia hidup di berbagai kehidupan yang berbeda dengan 
hidupnya kini, bisa ratusan, bahkan ribuan tahun lampau. Brian, seperti 
dituturkan Eddy, merupakan Kepala Departemen Psikiatri di Mount Sinai Medical 
Center, Miami Beach, Florida, AS, dan penulis buku <I>Past Life<I> ke dalam 30 
bahasa. Brian memaparkan, kebanyakan orang memasuki hidup lampaunya lewat 
hipnosis. Beberapa cara lain pun bisa ditempuh, misalnya meditasi atau 
pengalaman spontan seperti de javu (perasaan seseorang pernah bertemu atau 
kenal dengan suatu tempat atau orang tertentu, padahal sebelumnya tidak pernah 
menemuinya).
 
Terapi ini dapat membantu orang menghilangkan gejala-gejala kronis lain, 
seperti fobia, kepanikan, mimpi yang menyeramkan, takut misterius, kegemukan, 
relasi yang cenderung rusak dan berulang dengan orang lain, sakit fisik, juga 
penyakit tertentu. "Brian mengatakan, past life membuat orang kembali sadar dan 
ingat akan pengalamannya. Pengalaman itu muncul sendiri tanpa diperintah. 
Ketika sampai pada suatu masa, kita akan bisa melihat, merasakan hati, dan ikut 
terlibat dengan diri sendiri atau orang-orang yang kita lihat dalam rekaman 
film pikiran kita itu,"Eddy, yang punya pelanggan politisi, pejabat hingga 
selebritas, mengungkapkan.
 
"Mengerti adalah kunci terapi ini. Pengertian yang menyembuhkan. Pengertian 
melenyapkan ketakutan dan membuka jendela, tempat cinta akan muncul dan 
melenyapkan segala keraguan dan kecemasan serta menyegarkan jiwa dan memelihara 
relasi," kata Eddy lagi. Yang selalu dituju terapi ini adalah mengingat dan 
membangkitkan masa lampau kita hingga segala trauma otomatis lenyap.
 
Eddy pun mencontohkan fenomena Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang ia 
lihat melalui past life-nya sebagai the agent of change atau kesatria yang 
membawa perubahan kehidupan di dunia abad ke-17 . "PLR-nya Obama luar biasa. 
Dulu ia memang kesatria kerajaan di abad ke-17 yang sempat meniti dan menjalani 
kesuksesan di kerajaan Nusantara," kata Eddy.[HADRIANI P]


      

Kirim email ke