Trunyan, Satu-satunya Desa Anti Gempa di
Dunia?<http://wirajhana-eka.blogspot.com/2009/02/trunyan-satu-satunya-desa-anti-gempa-di.html>
------------------------------

Sabtu malam minggu, kira-kira jam 23 malam WITA, bosan dengan surfing di Net
dan memantau Face book, munculah iseng, dan segera ku bangunlkan anak-anak
dan Istri,

"Mmmhhh…Mau ngga ke Danau Batur, Kintamani..Pagi-pagi, lihat matahari terbit
di Danau, terus naik boat menuju Trunyan, lihat mayat-mayat yang tidak
dikubur..tapi cuma di taro di bawah pohon namun bau mayat sama sekali ngga
tercium?"

Mendengar itu, kantuk mereka mendadak hilang dengan cepat dan ramai nya
mereka berteriak, "Mau!..Mau!..Mau!" [Lho,Koq...malah jadi kaya iklan
provide selular, ya..]

Malam itu juga kami, berkemas secepat kilat, mampir sebentar ke Circle K,
beli rokok, air dan cemilan kemudian tancap gas menuju Trunyan.

Kira-kira jam 02.30 pagi, sampailah di pinggiran Danau Batur, kintamani, di
tempat penyeberangan. Ya, tidak ada siapa-siapa…hujan lebat. Sesuai rencana
awal, maka kami teruskan tidur di kendaraan hingga kabut pagi menyelimuti
danau.

Pagi itu, masih tidur…pokoknya belum bangun..arwah belum ngumpul..belum
sempat menghirup secangkir kopi dan sebatang rokok, datanglah seorang
penduduk. Ia adalah penduduk asli Kintamani. Setelah berbasa-basi sejenak,
Ia menawari boat untuk mencapai Trunyan ditambah satu lokasi lagi ke
pemandian air panas setelahnya. Di counter itu, aku lihat tariff Boat
Trunyan VV adalah Rp 385.000,- [kira-kira, untuk tujuh orang dan Rp 375.000
untuk 5 orang]. Penduduk asli kintamani ini menawarkan harga Rp 550.000
hingga semua urusan kami selesai. Ia akan menunggu. Tawar-menawar berakhir
di angka Rp 500.000.

Kemudian ku pikir, "Ah, biarlah.."

Sambil menunggu tukang boat itu mengambil Solar..datanglah satu-dua pedagang
asongan..mulai mengerubungi kami..menawarkan aneka macam hiasan mainan
berikut segala daya upaya mereka, Merayu.

Istriku melihat mereka segera memberikan 'pengarahan' singkat kepada ku,
"Udah..jangan beli apa-apa…"

Kelihatannya Pengalaman, menunjukan khasiatnya.

Istriku, yang sebelum sudah berpesan singkat dan padat ketika melihat mereka
datang, akhirnya luluh juga di serbuan itu. Ia akhirnya malah merogoh kocek
membeli sesuatu yang jelas-jelas tidak kami perlukan. Melihat reaksi itu,
Pedagang yang satunya lagi, mulai dengan metoda lain untuk ikut
berpartisipasi menguras kocek! Padahal saat itu masih pagi sekali…belum lah
jam 06.00!

"Buset!...",Pikir ku, tapi untung si bapak tukang boat itu segera datang
dengan solarnya dan kami buru-buru ikut untuk melepaskan diri dari jeratan
para pemangsa kocek itu!..Tapi mereka memang hebat, hingga boat itu lepas
dari talinya, tidak kunjung berhenti mereka berkicau!

Aku sudah 3 x Ke Danau Batur. Untuk ke Trunyan, maka dengan sekarang adalah
untuk yang kedua kalinya. Tidak ada yang nyaman dengan tingkah pola penduduk
kintamani. Cara mereka menawarkan, dagangan, menawarkan perahu dan mengemis
lebih mirip orang tuli. Dari semua bahasa yang mereka ketahui dari para
pengunjung, kelihatannya dari sekian perbendaharaan multi bahasa, hanya satu
kata saja yang mereka tidak kenal, yaitu, "Tidak!"

Dua puluh menit kemudian, Setelah melewati Desa adat Trunyan, sampailah kami
di tempat yang terkenal di seluruh dunia, dimana mayat diletakan begitu saja
di bawah pohon.Tempat itu bernama Sema [Kuburan] Wayah [tua]

Ada yang berubah sejak pertama kali aku datang kesana. Sekarang Tempat
pemberhentiannya berubah agak kesebalah kiri. Tempat itu sekarang ada
beberapa bangunan termasuk Toilet. 20 meter kekanan ada Gapura masuk, di
sema wayah. Hari itu ada empat mayat.

Mayat itu di letakan di dekat sebuah pohon besar, Pohon itu bernama Taru
[pohon] Menyan [wangi], Pohon itu sudah berusia ratusan tahun. Pohon itulah
yang menyerap bau dari proses pembusukan mayat.

Di kisahkan, bau harum taru menyan, memancing Ratu Gede Pancering Jagat
mendatangi sumber bau. Di sekitar pohon-pohon hutan cemara Landung, beliau
bertemu dengan Ida Ratu Ayu Dalem Pingit [Ratu Ayu Dalem Dasar]. Mereka
kemudian menikah dan disaksikan oleh penduduk Desa Hutan Landung yang sedang
berburu. Sebelum meresmikan pernikahan, Ratu Gede mengajak penduduk Desa
Cemara Landung untuk membuat desa yang bernama Taru Menyan dan lama kelamaan
terkenal menjadi Trunyan. Itulah asal kata Trunyan.

Trunyan merupakan satu dari tiga Suku Bali asli, yaitu suku yang ada dibali
sebelum Jaman Majapahit dan sebelum gelombang pengungsian warga kerajaan
Majapahit terakhir yang menolak menjadi Muslim [hijrah ke Bali]. Dua suku
Bali asli lainnya adalah Suku Telengan di Karang Asem [Smarapura] dan Suku
Yeh Tipat di Singaraja. Trunyan termasuk di lingkup Kabupaten Bangli.

Suku Trunyan, punya tiga cara unik menangani mayat, diupacarai yang setara
dengan upacara ngaben di tempat lain:

   - Untuk yang meninggal adalah Bayi, maka mayatnya dikubur. Tempat di
   kuburnya tidak diletakan begitu saja seperti yang sekarang aku lihat ini,
   lokasinya disebut Sema Muda,kira-kira 200 meter-an ke sebelah kanan lagi,
   namun sebelum Desa trunyan dari arah sekarang ini.
   - Untuk yang meninggal adalah orang yang kecelakaan, dibunuh atau bukan
   karena mati normal. Maka mereka anggap itu mempunyai kesalahan besar. Lokasi
   mereka di kubur [Sema bantas] adalah di perbatasan antara desa Trunyan dan
   Desa abang. Letaknya Jauh dari tempat kami sekarang.
   - Untuk yang mati normal, Mayat mereka diberi kain putih dan hanya
   diletakan dibawah Taru Menyan [Pohon waingi]. Maksudnya mati normal adalah
   tidak punya salah/kesalahan sesuatu, diluar kreteria di atas.

Mayat itu diletakan di atas tanah dengan lubang yang sangat dangkal
[kira-kira 10 - 20 cm]. Tujuannya supaya tidak bergeser-geser [kerena bidang
tanah ditempat itu tidaklah datar]. Jumlah maksimum mayat yang diperkenankan
ada di bawah pohon taro menyan itu adalah 11 mayat. Alasannya adalah mayat
yang ke 12 dan seterusnya, baunya tempo-tempo ada...tempo-tempo tidak.

Kalo menurut perkiraan saya, bisa jadi itu disebabkan keterbatasan bau yang
dapat diserap oleh taru menyan tersebut, yaitu kurang lebih sekitar 11 x 60
kg [asumsi berat rata-rata mayat] = 660 kg. Sehingga untuk menyerap mayat
berikutnya menjadi tidak maksimal.

Namun, Si tukang boat juga punya cerita lain.

Walaupun mayat itu mati normal, namun jika tidak sepenuhnya bersih dalam
artian bersih dari kesalahan, maka bau mayat akan ada walaupun tempo-tempo
ada dan tempo-tempo tidak. Bukan cuma itu, mayat yang 'ada kesalahan', lebih
cepat busuk dari pada yang lain [rata-rata pembusukan normal adalah 2
bulanan].

Tukang boat itu, juga menambah ceritanya.

Pernah pada suatu ketika, seorang turis yang berasal dari US, mengambil
kenang-kenangan uang logam bolong [biasanya dipakai di proses penguburan di
bali], ia bawa ke Amerika, di sana ia punya losmen..losmennya itu
tempo-tempo berbau mayat hingga akhirnya sepi. Singkat cerita, ia kembalikan
lagi uang logam bolong itu ke tempat asalnya.

Populasi desa trunyan, kira-kira 200 Kepala Keluarga, Mereka menganut
perkawinan Patrilineal. Mereka adalah para penduduk asli turun temurun,
tidak ada pendatang. Maksudnya, apabila ada perempuan menikah dengan orang
luar, maka ia tidak lagi tinggal di desa itu dan menjadi orang luar. Apabila
yang lelaki menikah dengan orang luar dan bersedia mengikuti adat istiadat
desa, maka ia dapat tingga di sana.

Di desa itu ada Pura besar yang bernama Pura Pancerin Jagad, yang diartikan
kurang lebih Pura Kancing Bumi. Pure pancering Jagad ini, diperkirakan
dibangun di abad ke 9. Menurut riwayat, pada tahun Saka 813 [kira-kira 891
M], Raja Singhamandawa memberi ijin penduduk asli disana untuk mendirikan
Pura Turun Hyang, tempat pemujaan Bhatara Da Tonta/Hyang Pancering Jagad.
Pura ini bertingkat tujuh [meru tumpang tujuh]. Masyarakat Trunyan percaya
pura ini adalah pura pertama yang dibangun di Pulau Dewata.

Mahluk suci yang berstana di situ bernama Ratu Pancerin Jagad. Bentuk fisik
duniawinya adalah batu yang tumbuh dari tanah [batu Megalitik]. Mengapa
disebut tumbuh adalah karena batu itu makin besar dari pertama kali ada
[kira-kira jaman Majapahit]. Saat ini ada empat batu Pancerin Jagad. Yang
tertua sepanjang kurang lebih 12 Cm dan yang termuda 6 Cm. Letaknya yang 8
Cm paling kiri, kemudian berurutan yaitu 12 Cm, 10Cm dan 6 Cm. [Ada yang
mengatakan bahwa itu adalah Patung batu [megalitikum] setinggi 4 Meter]

Odalan [semacam Perayaan Ulang tahun] pura ini dilakukan setiap sasih kapat
[Purnama penuh bulan ke empat penanggalan hindu] dan hanya bisa dilakukan
bila musim panas tidak terlalu panjang, tidak ada orang meninggal dunia dan
tidak ada yang melahirkan anak kembar buncing [kembar laki-laki dan
perempuan]. Jadi, jelas tidak dilakukan tiap enam bulan seperti pura-pura
lain diseluruh bali dan belum tentu terjadi tiap tahun.

Masyarakat Trunyan merayakannya dengan pementasan tarian sakral, Barong
Berutuk dan tari Sanghyang Dedari. Barong [semacam tarian topeng] Berutuk
dilakukan dari pagi hingga menjelang matahari terbenam itu, penduduk Trunyan
beramai-ramai berusaha merobek busana [keraras kering] yang dikenakan para
pemain. Para pemain Berutuk,terdiri dari lelaki semua, harus berjumlah
ganjil, maksimum 21 orang, mereka membawa cambuk, berusaha mengusir siapa
saja hendak menyobek busananya. Konon, sobekan daun keraras kering, dapat
membuat Desa Trunyan yang kalau sedang lama tidak turun hujan, maka begitu
upacara selesai, hujan-pun turun dengan deras

Akibat adanya Ratu Pancerin jagad, maka masyarakat Trunyan percaya bahwa
desanya menjadi satu-satunya desa di dunia ini yang anti gempa. Menurut
cerita si tukang boat, Beberapa waktu yang lalu ada gempa yang terjadi di
Seririt, Singaraja yang juga dirasakan oeh penduduk kintamani, namun tidak
dirasakan di trunyan. Tanda adanya gempa disekitarnya dapat dilihat penduduk
Trunyan melalui pancaran mata air yang keluar tidak lurus keluarnya namun
bergoyang2.

Yup, itulah dunia, banyak sekali keanehanya.

Desa itu disamping mempunyai Pura Utama juga ada Pura Pedadian
[Kelompok/keluarga] berjumlah 12, sesuai dengan kelompok keluarga di Desa
Trunyan.

Ya..Oke deh, kembali kecerita awal...ketika kami baru 5 menit-an di tempat
mayat itu [Sema wayah], tiba-tiba datang pula sekelompok orang dengan boat.
Tukang boat itu memberi tahu,

"Yang datang...penduduk asli trunyan, mereka mempunyai pekerjaan adat
meminta-minta. Kalau tidak mau diganggu mari kita pergi."

Benarlah, melihat kami hendak pergi, walaupun perahu itu sudah merapat namun
mereka segera balik kembali. [Mungkin mereka pikir...Ah, ini sih turis
kanker..kantong kering..sudah domestik...orang bali pula, apes deh]

Kami kemudian meneruskan perjalanan ke suatu daerah yang bernama Toya
Bungkah, sebuah daerah di area danau Kintamani, dengan mata air panas yang
keluar dari tanah. Di tempat itu ada 3 pemandian umum. Satu bertarif Dollar
yang ada Bungalownya..dan tentu saja bukan kelas kocek kami.. yang kedua
adalah baru dibangun 5 bulanan, kelas domestic Rp 25.000/orang dan yang
ketiga Gratis. Saat itu masih jam 7 an, tempat mandi gratis itu sudah penuh
penduduk asli yang mandi.

Hehehe…tebaklah dimana coba kami mandi.

Setelah puas mandi, kami kembali ketempat awal. Belum kami menjejakkan kaki,
gelombang kedua pedagang asongan sudah mengerubungi kami. Kali ini ada
produk baru yang mereka tawarkan,

"Kepang pak anaknya yang cantik-cantik itu di kepang, lima menit jadi..murah
cuma 10.000..!"

[Sumpah, deh..mereka yang mengatakan anak-anak-ku yang cewek
cantik-cantik..itu bukan karangan aku]

dan itu diulang-ulanglah itu seperti iklan kampanya para caleg di TV.
Pusinggggg sekali mendengar itu..ditambah lagi ada kalimat tambahan,

"Ayo pak, beli mainan ini, untuk penglaris, tadi ibu belinya kemahalan, beli
ini juga , ini lebih murah…supaya ngga rugi"

Buset! Logika apa ini?

Kami buru-buru masuk kendaraan, tapi ketika hendak menutup pintu-pun, para
pedagang gigih ini masih belum mau menyerah!. Satu orang menahan pintu
kendaraan dan mengeluarkan senjata pamungkasnya sambil mengeluarkan satu
hiasan mainan,

"Lima ribu saja..penglaris pagi..supaya saya bisa makan"

Karena sebal, istriku akhirnya mengeluarkan uang untuk mengakhiri gangguan
ini, namun ternyata, si pedagang malah tidak memberikan hiasan yang pertama
kali ditunjukan tapi barang satunya lagi. Nah, mulailah drama menjengkelkan
itu muncul. Istriku jelas tidak mau..serta mengembalikanya lagi.

Wah, ternyata pedagang itu malah marah-marah, "Yang bener dong, bu,…Pak,
coba kasih tahu Istrinya ini".

Daripada ribet ngga karuan, kami kembalikan hiasan itu dan uang pun tidak
kami ambil kembali…Pusinggg!

Perjalanan turun, kami mampir ke Tirta Empul, Tampak Siring, di Tempat itu
ada 11 pancuran air yang berbeda, keluar dari tanah ke dalam satu kolam.
Kami berendam lagi disitu…airnya dinginnnn deh!. Setelah puas berendam,
Akhirnyan kami pulang. Dan, seperti biasa….mereka tertidur sementara sang
sopir, berjuang keras bertahan dari kantuk yang ganas…hingga akhirnya tiba
di papan ketik ini.

Mengetik ini, tiba-tiba aku pikir, "Eh, koq bisa ya…dari tadi angka 11
muncul terus, berangkat jam 11, mayat jumlahnya 11, pancuran ada 11,
pulangnya juga nyampe jam 11….Apa perlu aku pasangain nomor togel ngga, ya?"

Ya…Di bali, Togel marak…kelihatannya gubernur sekarang, Mangku Pastika, lupa
ketika menjadi Kapolda bali. Telah menyatakan Perang terhadap Judi. Sekarang
Ia Gubenur, Togel tumbuh subur di bawah kepemimpinan Beliau.

Yeah, That's life..easy to forget

Arghhh! Tulisan ini sudah terlalu panjang sudah! Sekarang aku butuh sebatang
rokok dan secangkir Nescafe panas…masih terbayang dalam ingatanku
sayup-sayup Bon Jovi mengalunkan Santa Fe..

"…I swear I'm gonna live forever Tell my maker he can wait…"
------------------------------
http://wirajhana-eka.blogspot.com/2009/02/trunyan-satu-satunya-desa-anti-gempa-di.html

Kirim email ke