HAMAS Sebut Israel Pilih Pemimpin Terorisme

Jalur Gaza, - Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS) di Palestina, Rabu,
menyatakan rakyat Israel telah memilih tiga pemimpin terorisme.

Gerakan pejuang Palestina tersebut terkejut dengan hasil pemilihan umum
Israel yang dimenangi Tzipi Livni, Benjamin Netanyahu dan Avigdor Lieberman.

" Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Zionis telah memilih mereka yang
paling radikal dan teroris paling besar. Kami sekarang menghadapi tiga
pemimpin radikalisme dan teror," kata . Juru bicara HAMAS Fawzi Barhoum
kepada Xinhua dalam wawancara telepon.

HAMAS, yang  oleh Israel, Eropa dan Amerika Serikat  dimasukkan ke dalam
daftar organisasi teroris, telah menguasai Jalur Gaza sejak Juni 2007,
setelah mengusir pasukan keamanan faksi moderat Fatah, pimpinan Presiden
Mahmoud Abbas.

"Yang paling berbahaya mengenai ini ialah perkembangan dramatis dalam
kebijakan internal Zionis, tempat sekelompok gerombolan teroris seperti
Shtern dan Hagana (dua kelompok yang dipandang sebagai organisasi teroris
oleh mandat Inggris sebelum negara Yahudi berdiri), akhirnya kembali ke
dalam partai politik," kata Barhoum.

Israel melancarkan serangan militer 22-hari ke daerah kantung yang dikuasai
HAMAS itu. Serangan tersebut berakhir ketika Israel dan kelompok pejuang di
Jalur Gaza mengumumkan gencatan senjata sepihak yang rapuh.

"Semua pemimpin Zionis telah mengangkat kasus Jalur Gaza, serta perang
melawan HAMAS dan kasus (Gilad) Shalit untuk membunuh sebanyak mungkin
anak-anak kami guna menuai suara tertinggi," kata Barhoum.

Satu delegasi HAMAS berada di Kairo guna mengukuhkan gencatan senjata jangka
panjang yang diperantarai Mesir dengan Israel. HAMAS menyatakan kelompok
tersebut menerima gencatan senjata satu-setengah tahun dengan syarat
diakhirinya blokade atas Jalur Gaza dan pembukaan tempat penyeberangan
perbatasan ke daerah kantung miskin itu.

"Jika pemerintah apa pun, tak peduli siapa yang memimpinnya, mengingini
Tahdi'aa (gencatan senjata), kami siap menerimanya guna mengakhiri
pengepungan, mengakhiri agresi militer terhadap rakyat kami dan membuka
kembali tempat penyeberangan perbatasan, terutama tempat penyeberangan Rafah
dengan Mesir," kata Barhoum.

Namun, beberapa pengulas Palestina dapat membedakan antara mereka yang
menang dan mereka yang kalah dalam pemilihan umum Israel.

Mkheimer Abu Se'da, pengulas politik Palestina dari Jalur Gaza, mengatakan
terlihat jelas bahwa keberhasilan Tzipi Livni telah menghilangkan
kekhawatiran bahwa partai sayap-kanan Likud akan menjadi pemenang.

"Itu juga menghilangkan kekhawatiran bahwa pemerintah sayap-kanan-jauh yang
dipimpin oleh Partai Likud akan memasukkan pemimpin partai radikal anti-Arab
Israel Beiteinu (Israel Tanah Airku)' Avigdor Lieberman," katanya.

Abu Se'da menduga Partai Kadima akan berhasil membentuk pemerintah persatuan
nasional "yang akan mencakup Partai Buruh, pimpinan Ehud Barak, dan partai
kecil lain tanpa Likud atau Israel Beiteinu --yang tetap menjadi oposisi.

"Dengan Kadima berada di atas semua parai di Israel merupakan sesuatu yang
positif. Namun, hasilnya juga memperlihatkan bahwa kubu sayap-kanan berada
pada posisi lebih baik dibandingkan dengan Partai Buruh, yang menjadi kubu
yang kalah dalam pemilihan umum ini," katanya.

Barak, Menteri Pertahanan dalam pemerintah sementara Israel, berada di
belakang perang di Jalur Gaza, tempat tak kurang dari 1.400 orang Palestina
tewas dan 5.500 orang lagi cedera.

"Saya percaya alasan di balik kekalahan Partai Buruh ialah Barak
menyia-nyiakan banyak kesempatan perdamaian dan salah satu alasan yang
membuat banyak pemimpin bersejarah partai Buruh pindah ke Kadima," kata
pengulas tersebut.

Di Jalur Gaza, rakyat miskin yang menjadi korban perang tak melihat
perbedaan antara partai sayap kanan dan kiri di Israel. Mereka semua
sependapat bahwa semua yang mereka ingini ialah hidup dalam kedamaian dan
meningkatkan kondisi hidup mereka.(*)

Kirim email ke