Lobi
"Gombal!"

Purwanto
Wartawan Tempo 
SAYA teringat suatu hari ketika menonton salah satu acara di televisi mengenai 
tanya-jawab soal visi-misi sejumlah kandidat legislator. Saya tertarik menonton 
karena calon “kreatif” pasti memanfaatkan acara ini untuk memaparkan program 
terseksinya. Istilah “kreatif” saya comot dari pernyataan panitia pengawas yang 
kesulitan mengatur atribut kampanye. Meski saya menganggap pemasangan baliho 
dan atribut lain bukan suatu kreativitas. Hanya sebuah topeng. 
Dalam satu sesi, peserta panel menanyakan bagaimana cara kandidat mengurangi 
angka kemiskinan. Rahardjo, teman satu rumah saya, ikut nonton. Dia pedagang 
tak menetap di Bogor, Jawa Barat. Khusyuk menanti jawaban kandidat, ia 
menaikkan sedikit volume televisi. 
Sang kandidat pun menjawab. Ia akan membuka lapangan kerja, mengurangi 
kemiskinan, dan... pett. Televisi mati. Rahardjo memencet tombol remote sebelum 
calon selesai menjawab. Penasaran, saya tanya alasan Rahardjo. 
"Semua janjinya sama, gombal!" kata dia. Menurut Rahardjo, semua calon pejabat 
berjanji manis. Setelah calon terpilih, dia tak merasakan perubahan. 
"Pendapatanku tetap, tapi harga melonjak. Hampir semua teman di pasar mengeluh 
sama." 
Saya memotong, "Tunggu, Djo. Tapi ini baru pemilihan anggota DPR, bukan pejabat 
pemerintah." Rahardjo menyergah, "Semakin ketahuan bohongnya." Saya makin 
penasaran, "Maksudnya?" 
Rahardjo, sambil merendahkan suara, menjawab, anggota DPR seharusnya 
mendengarkan keluhan rakyat. Misalnya, keluhan teman di pasar tentang harga 
barang mahal. Lalu, Dewan menanyakan penyebabnya ke pemerintah. Nah, di situ 
dibahas solusi dan dananya. DPR bisa meminta pemerintah memprioritaskan 
anggaran, misalnya pada penyelesaian masalah harga. Kalau membuka lapangan 
kerja, kata Rahardjo, "Itu bagian dari pemerintah."

 
Soal tugas DPR, Rahardjo memang benar. Saya tak tahu apakah dia habis membaca 
Undang-Undang Dasar. Yang jelas, sebelum ngeloyor pergi, dia berujar sinis. 
"Barangkali, kalau terpilih, mereka akan mengusulkan banyak studi banding." Tak 
mau memperpanjang, saya hanya menjawab, "Ah, kamu bisa saja, Djo." 
Wajar saja, Rahardjo mematikan televisi. Barangkali dia prihatin karena ada 
calon yang mengandalkan atribut kampanye, maju tanpa jelas misi-visinya. 
Jangankan visi-misi, tugas DPR saja mungkin ia lupa, atau lebih parah andai ia 
tak tahu. Tapi saya pribadi menyesalkan partai politik mau mengusung calon 
semacam itu.
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/02/12/Nasional/krn.20090212..156595.id.html

 
http://media-klaten.blogspot.com/
 
 
 
salam
Abdul Rohim


      

Kirim email ke