Distorsi Pasar Politik


Andi Irawan, Dosen Universitas Bengkulu dan STEI Tazkia 
Dalam suatu kehidupan demokrasi, politik citra adalah niscaya. Melalui citra, 
suatu entitas atau individu politikus menempatkan dirinya sebagai bagian dari 
ekspektasi positif publik. Adalah suatu realitas yang tak mungkin dimungkiri 
bahwa upaya mendapatkan vote dari publik identik dengan penerimaan publik 
terhadap suatu entitas politik dan salah satu yang menentukan dalam penerimaan 
itu adalah citra yang baik. Dalam pasar politik, merupakan hal yang niscaya 
pula mengemas produk-produk politik sedemikian rupa menawan agar para pemilik 
vote tertarik membelinya. Tetapi citra adalah tampilan dan kemasan luar. Voter 
yang memilih suatu entitas politik hanya berdasarkan citra semata sesungguhnya 
dari kacamata ekonomi-politik telah terjebak dalam fenomena asimetri informasi 
politik. 
Tetapi fenomena ini bukanlah suatu hal yang salah dalam demokrasi. Kesalahan 
pilihan publik akibat asimetri informasi adalah hal yang wajar dan tak perlu 
dikhawatirkan, karena pasar politik yang sehat akan mengoreksi pilihan-pilihan 
yang salah karena bias citra tersebut. Pasar politik yang sehat itulah yang 
perlu kita hadirkan agar benar-benar demokrasi yang kita nikmati adalah 
demokrasi kontributif terhadap perbaikan semua sisi kehidupan. Lalu bagaimana 
menghadirkan pasar politik yang sehat tersebut? 
Demokrasi dalam pandangan pakar ekonomi-politik adalah proses transaksi di 
pasar politik. Dalam pasar politik, ada produsen, yakni para politikus dan 
partai politik. Para produsen politik memproduksi beragam produk yang 
ditawarkan kepada para rakyat sebagai pemilik vote (konsumen). Produsen politik 
yang akan berkontribusi pada lahirnya pasar politik yang sehat adalah jika 
produsen politik tersebut mampu menyajikan produk-produk politiknya pada dua 
pendekatan yang dilakukan secara simultan, yakni; pertama, orientasi pragmatis 
dalam rangka membangun citra yang baik. Dalam konteks inilah political 
marketing menjadi niscaya. Semua potensi yang menarik yang dimiliki oleh suatu 
partai politik adalah suatu keniscayaan untuk dipamerkan ke hadapan para 
pemilik vote, dari yang sangat substantif seperti platform dan 
prestasi-prestasi publik sampai hal-hal yang tidak substantif, seperti keelokan 
fisik kandidatnya atau bahkan kedekatan primordial dengan pemilik vote.
 Kedua, orientasi substansi dan altruistik, yakni bahwa para produsen politik 
itu, ketika mereka hadir dalam lembaga-lembaga pengambil keputusan politik, 
mampu merepresentasikan diri sebagai entitas yang memberikan solusi bagi 
permasalahan bangsa. 
Artinya, produsen politik yang kontributif bagi pencerahan demokrasi di era 
kekinian kita adalah ketika mereka bisa memadukan proporsi antara orientasi 
pragmatis dan altruistik. Orientasi pragmatis adalah hal yang niscaya dalam 
rangka mendapatkan penerimaan politik dari para pemilik vote. Tetapi, setelah 
vote itu didapat, yaitu ketika mereka sudah menduduki jabatan politik penting 
di lembaga-lembaga negara, orientasi altruistiklah yang harus lebih 
mendominasi. 
Tanpa orientasi pragmatis, suatu entitas politik akan sulit mendapatkan 
keberpihakan para pemilik vote, karena serasional apa pun para pemilik vote, 
sesungguhnya fenomena asimetri informasi adalah niscaya, apalagi umumnya para 
pemilik vote Indonesia memilih bukan karena pertimbangan-pertimbangan rasional 
substansial. 
Tetapi, tanpa orientasi altruistik, entitas politik yang hadir di 
lembaga-lembaga negara hanya akan menjadi para rent-seeker ekonomi-politik. 
Bukan menjadi solusi terhadap masalah bangsa, melainkan menjadi sumber masalah 
itu sendiri. Dan perilaku tersebut bisa berdampak pada hadirnya pasar politik 
yang eksploitatif terhadap kepentingan publik yang kemudian melahirkan apatisme 
terhadap demokrasi. 
Faktor kedua yang menentukan sehat-tidaknya pasar politik adalah faktor 
konsumen politik, yakni para pemilik vote. Ada dua faktor penentu yang, menurut 
hemat saya, menentukan hadirnya konsumen politik yang kontributif terhadap 
hadirnya pasar politik yang sehat, yakni faktor kesejahteraan dan pendidikan. 
Kesejahteraan berimplikasi pada minimalisasi bias voter, karena dampak distorsi 
dari politik uang dan pendidikan meminimalisasi bias voter lantaran dampak 
distorsi dari asimetri informasi. 
Dengan angka kemiskinan kita yang masih sangat besar, pasar politik kita hari 
ini masih rentan terhadap distorsi politik uang. Dengan demikian, meningkatkan 
kesejahteraan rakyat tidak hanya identik dengan keniscayaan pembangunan 
ekonomi, tetapi juga identik dengan keniscayaan hadirnya pasar politik dan 
demokrasi yang sehat. Begitu juga mereduksi bias voter melalui pendidikan, 
khususnya pendidikan politik, sesungguhnya menjadi tugas semua stakeholder yang 
menginginkan hadirnya pasar politik dan demokrasi yang sehat. Demokrasi yang 
sehat haruslah melibatkan banyak negarawan, baik sebagai produsen maupun 
konsumen di pasar politik. Untuk itu, kita harus menjadi bangsa yang negarawan. 
Tetapi bangsa negarawan tidak akan hadir dalam lingkungan kebodohan. Kita tahu 
sampai hari ini angka statistik menunjukkan masih sekitar 82 persen anak bangsa 
ini yang berstatus pendidikan sekolah menengah pertama ke bawah, yang 
menunjukkan kita masih harus berjuang keras
 menjadi bangsa yang negarawan tersebut.
 
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/02/03/Opini/krn.20090203.155626.id.html

 
http://media-klaten.blogspot.com/
 
 
 
salam
Abdul Rohim


      

Kirim email ke