Guru Bahagia: Seperti Umar Bakrie atau Bu Muslimah?
--Oleh Anwar Holid

Pikiran yang bahagia berperan penting dalam karir sebagai guru & pendidik yang 
berkualitas. Poin-poin pada The 7 Laws of Happiness menguatkan asumsi itu.

BANDUNG - Lebih dari 600 orang guru dan kalangan umum lain menghadiri acara 
pra-workshop The 7 Laws of Happiness untuk para guru, orangtua dan mahasiswa 
yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) Salman ITB, pada 
Minggu, 1 Februari 2009. Seketika GSG Salman yang luas itu terasa penuh sesak, 
bahkan banyak di antara peserta harus berdiri atau bersandar selama acara 
berlangsung karena kehabisan kursi. Rombongan peserta juga datang dari Ciamis, 
Subang, Karawang, dan kota-kota tetangga Bandung lain. Talkshow bertema Menjadi 
Guru yang Bahagia itu berhasil menahan semua peserta sampai akhir; setelah itu 
Arvan Pradiansyah--sang pembicara dan penulis--harus rela menandatangani 
antrean puluhan buku The 7 Laws of Happiness yang dibeli peserta hari itu.

Fokus membicarakan seperti apa dan bagaimana menjadi guru yang bahagia, Arvan 
memanfaatkan dan memaparkan sejumlah poin The 7 Laws of Happiness (Kaifa, 423 
h.), buku ke empatnya yang kini telah cetak ulang ke tiga. "Orang baru disebut 
hebat dan berkualitas setelah mampu mengatasi masalah. Begitu juga guru. Jika 
mendapat murid yang bermasalah, berarti Tuhan ingin meningkatkan kualitas Anda 
sekalian," demikian katanya. Arvan sendiri pernah menjadi pengajar selama 13 
tahun di almamaternya, FISIP Universitas Indonesia, sebelum kini berkarir di 
bidang pelatihan dan konsultasi SDM. 

"Saya kira, contoh guru yang bahagia itu seperti tokoh bu Muslimah di film 
Laskar Pelangi," tambahnya. Film itu memotret sosok seorang guru yang tetap 
optimistik dan terus memberi semangat kepada murid-muridnya, lepas berbagai 
kekurangan jelas-jelas bisa mengancam kualitas dan prestasi mereka. Dia 
menghadapi muridnya sesuai karakter, sekaligus mampu menjaga kebersamaan. Arvan 
menyatakan juga memiliki guru yang termasuk sempurna dalam mendidik 
murid-muridnya, yaitu ketika dia ikut sekolah agama di sore hari, namanya Abdul 
Manaf Lubis. "Ketika mengenang beliau, saya menangis terharu, karena ilmu-ilmu 
yang dia berikan membekas pada saya hingga hari ini."

Guru bahagia juga merupakan guru yang paling dikenang para murid-muridnya. 
Merekalah guru dengan energi positif melimpah ruah, terasa sampai kapan dan di 
manapun anak didik mereka berada. Seperti orang bahagia lainnya, guru bahagia 
punya energi banyak untuk dibagi-bagikan kepada orang lain yang membutuhkan. 
"Keteladanan merupakan salah satu hal paling penting bagi guru," tegas Arvan, 
tanpa mengabaikan bahwa semua guru memiliki problem masing-masing, mulai di 
dalam kelas, di tempat kerja, berinteraksi dengan kolega, atasan, bahkan di 
rumah tangga dan kehidupan pribadi.  "Bagaimana dengan guru seperti Umar 
Bakrie?" tanya peserta. "Saya kira yang patut dicontoh dari Umar Bakrie ialah 
keteladanan dan kegigihannya mengajar," jawab Arvan.

Dalam uraian yang diselang-selingi oleh tanya jawab, presentasi, juga kisah dan 
ungkapan segar, Arvan menengarai ada tiga jenis guru, yaitu:
* guru yang badannya ada di kelas, tapi pikirannya melanglang ke tempat lain
* guru yang badan dan pikirannya di kelas
* guru yang ikhlas, yakni guru dengan badan, pikiran, dan jiwa memberikan 
pengabdian terbaik bagi murid dan pendidikan. 

Untuk menjadi guru yang ikhlas memang butuh pelatihan, sebab kualitas ini harus 
lahir sebagai cita-cita ideal, yakni berupa proses menjadi guru yang baik. 
Pelatihan itu bisa berupa persoalan nyata yang dihadapi sehari-hari, misalnya 
menghadapi murid-murid bandel. "Guru yang hebat tetap mencintai murid-murid 
bandel, terus berusaha membuat murid menjadi lebih baik," sokong dia memotivasi 
hadirin. Di tengah banyaknya kasus pelecehan terhadap profesi guru atau 
pendidik yang mempermalukan mereka sendiri, guru bukan hanya dituntut pintar, 
melainkan juga tabah, cerdas, kreatif, dan kaya dengan berbagai wawasan, 
misalnya kecerdasan emosional dan cara mengajar yang menarik.

LPP Salman ITB berencana meneruskan acara ini dengan workshop sesungguhnya 
bersama Arvan Pradiansyah. Pada Senin, 9 Februari 2009, Arvan dijadwalkan 
mengisi kuliah terbuka di kampus FISIP Universitas Indonesia. Lantas pada 1 
Maret Kaifa berencana mengadakan workshop The 7 Laws of Happiness for Happy 
Family di Islamic Book Fair, Jakarta, setelah itu diteruskan di Surabaya.[]

Copyright © 2009 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

Situs terkait:
http://www.mizan.com
http://www.ilm.co.id
http://www.arvanpradiansyah.com (under construction)


      

Kirim email ke