Yang dipanggil seharusnya dokter rumah sakit jiwa dan bukan ulama...di abad
ke-21 masih ada saja yang percaya dengan Exorcist!

salam

Teddy

Pada 14 Februari 2009 10:59, Sunny <am...@tele2.se> menulis:

>    Jawa Pos
>  [ Sabtu, 14 Februari 2009 ]
>
>
> *Biang Kerok Kesurupan Masal*
>  Oleh Reza Indragiri Amriel *
>
> Wabah kerasukan menggejala lagi. Sejumlah sekolah di Jawa Timur sudah
> mengalaminya. Lazimnya, pihak sekolah langsung melibatkan alim ulama guna
> mengusir para makhluk halus yang diyakini sebagai biang keladi kesurupan
> anak-anak didik itu.
>
> Pendekatan spiritual-religius untuk mengatasi kesurupan pantas dihargai.
> Namun, agar lebih paripurna, pendekatan semacam itu akan sangat baik bila
> dilengkapi pula dengan pendekatan-pendekatan lain.
>
> Asumsinya, penanganan gangguan yang dilakukan lewat pendekatan holistik
> akan berpengaruh lebih konstruktif bagi daya tahan individu, termasuk dalam
> hal ini para siswa.
>
> Dari kacamata psikologi, pandangan tentang fenomena kesurupan (possession)
> terbelah dua. Pandangan pertama meyakini kesurupan adalah realita
> supranatural. Unsur budaya menjadi sesuatu yang sentral dalam perspektif
> itu. Dengan demikian, keterlibatan para ahli supranatural menjadi keharusan
> saat menangani individu-individu yang bermasalah dengan elemen supranatural
> tersebut.
>
> Pandangan kedua sangat diwarnai tilikan ala psikologi belajar. Kesurupan
> selintas memiliki kemiripan gejala dengan gangguan identitas disosiatif
> (GID, dissociative identity disorder, dulu dikenal dengan istilah gangguan
> kepribadian ganda).
>
> Tetapi, dalam perspektif tersebut, penjelasan atas kesurupan maupun GID
> sama sekali tidak menyertakan kepribadian lain (alters) maupun faktor-faktor
> tak kasatmata lain.
>
> Kesurupan, sesuai prinsip psikologi belajar, ialah bentuk perilaku
> terencana yang ditampilkan individu untuk mendapatkan insentif tertentu.
> Anggaplah, kesurupan adalah reaksi terhadap stres. Kesurupan merupakan
> teknik untuk mengatasi stres. Kesurupan ialah bentuk katarsis, yakni
> pembersihan diri dari sampah-sampah psikis.
>
> Berdasar pandangan tersebut, kesurupan sesungguhnya menjadi strategi
> penyesuaian diri terlepas bahwa strategi itu bersifat infantil atau
> kekanak-kanakan (immature).
>
> Ditarik ke fenomena kesurupan di sekolah, pandangan psikologi belajar
> memunculkan bahan retrospeksi bagi kalangan pendidik dan orang tua.
>
> Sangat mungkin, kesurupan bertitik awal dari terlalu tingginya beban
> akademis siswa. Jam pelajaran yang begitu panjang, muatan pelajaran dengan
> tingkat kesulitan yang tinggi, masa ujian yang menegangkan, gaya mengajar
> guru, substansi kurikulum yang lebih dominan pada pengolahan daya pikir
> serta mengesampingkan pentingnya olah rasa, ekspektasi orang tua, serta
> penambahan jam belajar lewat kursus, dan sejenisnya bisa mempersempit makna
> aktivitas belajar sebagai sebuah totalitas pengalaman hidup.
>
> Apalagi jika stres di rumah dan lingkungan pergaulan siswa juga dimasukkan,
> akan semakin dahsyat tekanan psikologis yang harus diatasi para siswa.
>
> Belajar (baca: bersekolah) telah kehilangan sukmanya. Unsur kesenangan yang
> sejatinya mutlak dalam setiap kegiatan pendidikan pun menguap. Pengaruhnya
> kontraproduktif bagi anak didik. Motivasi atau antusiasme belajar menurun.
> Atau, kognisi anak didik makin tajam, namun mereka tak memiliki kekayaan
> empati. Wujudnya, klasik: tekun tapi angkuh, ''ensiklopedi berjalan'' tapi
> kaku dalam tindakan, kritis tapi egois, dan pintar tapi korup.
>
> Faktor usia juga tidak bisa dikesampingkan. Karena rata-rata siswa sekolah
> menengah berada pada tahap usia remaja yang kerap diidentikkan sebagai masa
> penuh badai dan tekanan (storm and stress), sesungguhnya para siswa sekolah
> menengah secara psikologis memang tengah berada dalam kondisi rawan.
>
> Kerasukan di sekolah menjadi peristiwa yang semakin menarik untuk ditelaah
> lebih jauh karena berlangsung secara masal. Dari berita-berita di media
> massa diketahui bahwa kebanyakan pelajar yang mengalami kesurupan berjenis
> perempuan. Dugaan itu didukung kenyataan serupa, berdasar penelitian Gaw,
> Ding, Levine, dan Gaw (1998) di Tiongkok.
>
> Dominannya perempuan pada fenomena kesurupan, kiranya, bisa dijelaskan
> lewat suggestibility atau kepekaan individu terhadap sugesti. Dengan asumsi
> perempuan memiliki suggestibility lebih tinggi, mereka pun menjadi lebih
> mudah tertular kesurupan setelah menyaksikan rekan-rekan mereka yang juga
> mengalami kesurupan.
>
> *Agenda ke Depan*
>
> Tiga poin penting yang perlu digarisbawahi dari uraian di atas adalah beban
> akademik, usia anak didik (remaja), dan suggestibility. Ketiganya patut
> menjadi perhatian para guru, orang tua, serta otoritas penentu kebijakan
> pendidikan saat mencoba mengatasi epidemi kesurupan di sekolah-sekolah.
>
> Membangun langgam komunikasi yang asertif dan warna interaksi solutif,
> ditambah dengan upaya membangun karakter anak didik sebagai insan yang
> bersikap laku positif, adalah agenda ke depan yang perlu disisipkan ke dalam
> kurikulum pendidikan.
>
> Tanpa menafikan peran agamawan dan penjelasan-penjelasan agamis tentang
> fenomena kesurupan, perspektif psikologi menghadirkan sebuah pemahaman lebih
> rasional sekaligus lebih kompleks bahwa penyebab kesurupan anak-anak didik
> ternyata tidak harus dicari ke alam gaib.
>
> Biang kerok fenomena kesurupan masal di sekolah ternyata kita-kita juga.
> Wallahu a'lam.
>
> ** Reza Indragiri Amriel, ketua Jurusan Psikologi, Universitas Bina
> Nusantara, Jakarta*
>  
>

Kirim email ke