Batalkan Negara Palestina Demi Perdamaian !!!
                                                        
Kerajaan Palestina sudah sejak 1947 melalui referendum dibawah
pengawasan UN dipecah menjadi Yordania, Syria, Libanon dan Israel.

Sampai disini saja masalahnya sudah usai tak ada yang bisa dikomplain,
karena kalo ada umat Islam yang ingin tinggal di negara Islam, maka
tinggal pilih saja antara Yordania, Syria atau di Libanon.  Sebaliknya
yang bersedia tinggal dinegara sekuler silahkan pindah ke Israel.

Namun ada sekelompok demonstran Arab di Israel yang menolak
pemerintahan sekuler Israel dan menuntut pemerintahan Islam Arab yang
oleh mereka kemudian sebagai negara Palestina.  Mereka berdemo yang
jumlahnya kurang dari 2000 orang yang melakukan longmarch ke Syria
karena waktu itu Syria mendukung kelompok Arab ini.

Sebenarnya tidak susah untuk memusnahkan kelompok ini, namun karena
situasi waktu itu ada perang dingin dimana Soviet Union juga berusaha
masuk ingin menanamkan pengaruhnya, maka kelompok ini katimbang
dipengaruhi Soviet, maka Amerika mengambil alihnya lebih dulu dengan
mendukung kelompok ini yang jumlahnya makin besar setelah tiba di
Syria.  Amerika memberi bantuan kepada mereka untuk berjuang melawan
Israel waktu itu sementara Amerika juga memberi bantuan yang sama
kepada Israel.

Demikianlah, melalui kemelut politik di Syria, akhirnya mereka yang
dibawah Yasser Arafat ini diusir ke Libanon, dan di Libanon mereka
dikarantina kedalam camp2 pengungsi hingga terjadi perjanjian camp
David yang menyetujui wilayah Israel di Gaza dan Westbank diberikan
gratis menjadi negara baru Palestina dengan persyaratan tidak lagi
memerangi Israel.  Yasser Arafat setuju dan menandatanganinya.  Namun
setelah diadakan pemilu, ternyata ada kelompok lain diluar PLO Yasser
Arafat yang menolak perjanjian camp David sehingga semua menjadi
mentah lagi dan Israel kembali mengalami berbagai terror yang
menyebabkan mereka membangun tembok pembatas maupun menutup perbatasannya.

Dari semua kejadian ini, tidak perlu lagi dilakukan perundingan2 baru
yang cuma membuang biaya, cukup batalkan saja pembentukan negara
Palestina dan semua yang menjadi rakyat Hamas dan PLO agar
dinaturalisasi kenegara asalnya yaitu Mesir.

Mau melakukan perlawanan lagipun tidak akan bisa karena blokade
perbatasan betul2 tidak membuat para terror bisa menembusnya.  Apalagi
mereka semuanya pengangguran, tidak punya kerjaan, tidak punya natural
resources yang cukup menghidupi mereka.  Kalopun mau dipaksakan
berdiri negara Palestina, tetap saja negara ini tergantung hidupnya
kepada Israel karena semua kebutuhan hidup hanya bisa didapatkan dari
Israel meskipun bisa juga didapatkan dari Mesir tapi biayanya pasti
lebih mahal karena ongkos angkutnya lebih mahal karena jaraknya lebih
jauh.  Hal ini disebabkan perbatasan Mesir dan Gaza itu hanyalah
padang pasir yang luas.

Biar bagaimanapun, tidaklah mungkin mendirikan negara yang mengganggu
keamanan tetangganya.  Sama halnya, Sukarno dulu menolak pembentukan
negara Malaysia yang meskipun sama sekali tidak mengganggu keamanan
Indonesia, tetap ditolak Sukarno dengan membentuk team2 terrorist
untuk menghancurkan Malaysia.  Hasil akhirnya tentu sudah sama2 kita
tahu, tindakan politik yang salah oleh Bung Karno akhirnya membawa
berbagai kegetiran bangsa kita sendiri.

Demikianlah, pembentukan negara Palestina dilain pihak malah
menimbulkan terror2 berdarah dinegara Israel yang tentunya menyebabkan
Israel berhak untuk menentangnya dan untuk melakukan tindakan2 yang
perlu dalam mengamankan negaranya.  Jadi kalo Palestina tidak bisa
menjadi negara damai yang tidak menterror tetangganya, tidak ada
pilihan yang lebih baik daripada pembatalan pembentukan negara ini
yang sama sekali tidak punya dasar dan landasan historisnya.  Karena
negara Palestina dari zaman dulu sekalipun bukanlah cuma sepenggal
tanah di Gaza dan Westbank melainkan meliputi Yordania, Syria, Libanon
dan Israel.

Hal inilah yang perlu dipahami oleh setiap ulama maupun pejabat2
pemerintah RI dalam rangka menawarkan diri sebagai penengah, karena
sebagai penengah tentunya tidak boleh berpihak dan kalo mau berpihak
tentunya tidak ada yang akan bisa menyetujui kita jadi penengah. 
Bagaimana kita bisa jadi penengah kalo sudah berpihak kepada cuma yang
Islam padahal posisinya jelas dipihak yang salah ???

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke