http://www.radartarakan.com/berita/index.asp?Berita=HIBURAN&id=149484

Selasa, 17 Februari 2009



Ditemukan Perkakas Manusia Pra Sejarah di Pulau Bintan


TANJUNGPINANG- Sejarah mulainya kebudayaan di Pulau Bintan dan Kepulauan Riau 
(Kepri) umumnya serta Indonesia tampaknya harus ditulis ulang menyusul 
ekskavasi tim arkeologi dari Balai Arkeologi (Balar) Medan terhadap situs Bukit 
Kerang Kawal Darat (BKKD) di Desa Kawal, Pulau Bintan. 
Ekskavasi yang dilakukan sejak beberapa hari terakhir di lokasi itu menemukan 
sejumlah bukti arkeologi, bahwa di BKKD itu sudah ada kehidupan manusia pra 
sejarah sekitar zaman Mesolithikum (zaman batu pertengahan) atau sekitar 3.000 
- 5.000 tahun sebelum Masehi. 

Beberapa temuan tim yang diketuai langsung Ka Balar Medan, Lukas P dan ahli 
bukit kerang, Ketut di BKKD atau Kjoekkenmoddinger antara lain gerabah pra 
sejarah dan serpihan alat pukul. Selain itu ditemukan juga perkakas dari tulang 
hewan, yang digunakan untuk mencungkil. 

"Ini merupakan wujud adanya kebudayaan manusia pra sejarah di Pulau Bintan," 
kata sejarahwan Kepri, Aswandi Syahri yang ikut bersama tim arkeologi itu. 

Aswandi Syahri yang menemukan situs Kjoekkenmoddinger di Kawal ketika sedang 
meneliti tentang cerita rakyat Bintan mengatakan, ekskavasi ini merupakan pra 
penelitian yang disejalankan dengan penyuluhan cagar budaya. 

Kjoekkenmoddinger, jelasnya, berasal dari Bahasa Denmark yang berarti sampah 
dapur. Wujudnya, adalah tumpukan kulit kerang dan sejenisnya yang sudah membatu 
dengan ketinggian beberapa meter dari permukaan tanah. Kerang-kerangan ini 
merupakan makanan manusia pra sejarah sekitar 3.000 - 5.000 tahun sebelum 
Masehi. Ditemukan pertama kali di sekitar Pantai Timur Sumatera tahun 1925 oleh 
peneliti Dr PV Van Stein Callenfels. Di tempat itu dia juga menemukan kapak 
genggam, yang disebut dengan pebble atau kapak Sumatera (Sumatralith). 

Berdasarkan literatur tentang bukit kerang, lokasi itu seharusnya berada di 
tepi laut atau muara. Sedangkan, BKKD di Kawal itu letaknya sekitar 4,7 
kilometer dari garis pantai dan muara. Namun, dari tepi Sungai Kawal jaraknya 
hanya sekitar 500 meter. Perlu penelitian lebih lanjut, kenapa lokasi ini jauh 
dari pantai seperti temuan serupa di Pantai Timur Sumatera antara Langsa dan 
Medan-, atau karena garis pantai timur Pulau Bintan yang berubah. 

"Situs ini sangat penting bagi ilmu pengetahuan dan penelitian lanjutan sangat 
diperlukan. Terutama untuk mengetahui usia bukit kerang itu," terang Aswandi. 
(git/jpnn) 

Kirim email ke