SONNY KERAF memang politisi arogan, ini bukan pertama kali dia melakukannya
dulu terhadap Semen Gresik pun sama.
Sepertinya tingkah laku barbar macam begini tidak layak dilakukan oleh
seorang anggota dewan yang terhormat.
harusnya dewan sebelumnya berkaca, bagaimana tingkah laku mereka selama ini,
sering dapet gaji buta karena meski bolos tetep minta dibayar, budaya
ngantuk 'ngorok' ditengah sidang (ini apaan?????)...belum lagi tilep sana
sini..
Akhlak model beginian jadi anggota dewan...makanya negeri ini gak maju-maju

Pada 18 Februari 2009 02:55, Abdul Rohim <peduli_kla...@yahoo.com> menulis:

>
> Kecewa Dibandingkan Satpam di Komisi VII, Dirut Pertamina Berkaca-kaca
>  *JAKARTA -* Untuk yang kedua, rapat dengar pendapat (RDP) manajemen PT
> Pertamina (Persero) dengan Komisi VII DPR tidak berjalan mulus. Bila
> sebelumnya RDP diakhiri lebih awal karena Dirut Pertamina harus mendampingi
> presiden, kemarin rapat ditutup di tengah jalan karena Komisi VII DPR merasa
> tersinggung.
>
> Pemicunya adalah surat yang dikirimkan *Corporate Secretary* Pertamina
> Toharso. Dalam surat tersebut, manajemen BUMN migas itu merasa kecewa atas
> tindakan anggota komisi VII saat RDP dengan Pertamina pada Selasa, 10
> Februari lalu. Wakil rakyat yang membidangi bidang energi itu pun langsung
> marah karena menganggap Pertamina mengintervensi.
>
> Sebenarnya, rapat yang dimulai pukul 14.00 kemarin berlangsung cukup
> lancar. Setelah memaparkan jawaban atas pertanyaan anggota Komisi VII DPR
> pada RDP 10 Februari lalu tentang kinerja sektor hulu dan perkembangan blok
> Natuna, Dirut Pertamina Karen Agustiawan menyerahkan jawaban selanjutnya
> kepada Direktur Pemasaran dan Niaga Achmad Faisal.
>
> ''Untuk pertanyaan tentang direktorat pengolahan akan disampaikan oleh Pak
> Faisal karena Bu Rukmi (direktur Pengolahan Rukmi Hadihartini) tidak bisa
> hadir,'' ujarnya.
>
> Namun, Wakil Ketua Komisi VII DPR Sonny Keraf tiba-tiba memotong
> pembicaraan. Dari meja pimpinan, anggota Fraksi PDIP itu meminta klarifikasi
> atas surat yang dikirimkan Pertamina tersebut. ''Kami menerima surat dari
> Pertamina tertanggal 13 Februari 2009 perihal RDP dengan komisi VII,''
> katanya.
>
> Sonny kemudian membacakan surat yang ditandatangani Toharso dan ditembuskan
> kepada ketua DPR RI, menteri BUMN, komisaris Pertamina, dan Dirut Pertamina
> tersebut. Ada lima poin yang tertulis dalam surat itu. Tapi intinya,
> Pertamina mempersoalkan pertanyaan anggota Komisi VII DPR yang jauh
> menyimpang dari pokok bahasan rapat.
>
> Seperti petanyaan tentang proses penunjukan Dirut dan Wadirut, bahkan
> mempertanyakan kelayakan dan kemampuan mereka. Akibatnya, Pertamina kecewa
> melihat jalannya rapat yang tidak sesuai dengan tata tertib yang berlaku di
> DPR dan menyimpang dari pokok bahasan.
>
> Setelah membacakan surat tersebut, Sonny segera meminta klarifikasi. ''Sebelum
> rapat dilanjutkan, saya minta klarifikasi. Terus terang, saya tersinggung
> karena saya yang memimpin rapat,'' ujarnya. Toharso yang menandatangani
> surat tersebut segera memberikan jawaban. ''Kami hanya belajar dari tata
> tertib DPR, karena memang tidak seusai dengan tatib pasal 110 dan 111,''
> katanya.
>
> Anggota Komisi VII DPR Alvin Lie segera menimpali. ''Sekretaris kabinet,
> sekretaris negara, bahkan presiden tidak pernah membatasi apa yang
> dipertanyakan DPR. Surat itu atas inisiatif pribadi atau saran Dirut?''
> tanyanya. Karen yang baru dua belas hari duduk di kursi Dirut itu
> mengatakan, inisiatif pengiriman surat merupakan saran dari *corporate
> secretary* dan *corporate legal* Pertamina. Karen juga mengakui, surat
> tersebut sudah sepengetahuan dirinya.
>
> Mendengar hal itu, Sonny menyatakan kekecewaan Komisi VII DPR atas tindakan
> manajemen baru Pertamina. ''Saya orang pertama yang sangat kecewa. Jadi,
> rapat ini ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan, sampai Pertamina bisa
> kooperatif,'' ujarnya.
>
> Rapat pun bubar. Karen buru-buru meninggalkan ruangan komisi VII. Saat
> dicegat wartawan, Karen hanya berujar singkat. ''Kami akan jawab semua
> pertanyaan, bukan penghinaan. Masak direksi disamakan dengan satpam, itu *
> kan* sudah keterlaluan,'' ujarnya dengan wajah memerah dan mata sembab
> berkaca-kaca.
>
> *Minta Ganti Direksi*
>
> Pada RDP 10 Februari lalu, suasana rapat jauh lebih panas. Saat itu, untuk
> kali pertama Karen, yang baru diangkat sebagai Dirut Pertamina pada 5
> Februari, menghadapi Komisi VII. Dalam rapat tersebut *Jawa Pos* mencatat,
> sedikitnya ada 68 pertanyaan yang dilontarkan anggota dewan.
>
> Di awal rapat, Karen memaparkan secara singkat perkembangan kinerja
> Pertamina pada 2007 dan 2008. Paparan tersebut kemudian dinilai terlalu
> standar oleh beberapa anggota dewan.
>
> Anggota Komisi VII dari Fraksi PDIP Effendi Simbolon mengatakan, Karen
> sebagai Dirut baru tidak memaparkan secara spesifik langkah-langkah
> strategis yang dijalankan Pertamina untuk mengejar cita-cita menjadi *world
> class company*. ''Kalau cuma memaparkan bahan seperti itu, satpam juga
> bisa,'' ujarnya.
>
> Toharso menegaskan, surat yang dikirimkan itu bukan bentuk intervensi
> kepada DPR. ''Ini bukan intervensi. Kalau dianggap seperti itu, kami akan
> klarifikasi. Mana berani kami intervensi DPR. Cuma ini hal yang baru, hanya
> inisiatif *corporate secretary*,'' katanya.
>
> Namun, Komisi VII yang telanjur tersinggung mengancam akan menindaklanjuti
> tindakan Pertamina tersebut. ''Sanksinya, kalau kami merasa Pertamina tidak
> bisa kooperatif karena tidak mau diawasi, kami akan minta presiden mengganti
> direksi yang baru,'' ujarnya.
>
> Sebagai tindak lanjut, tambah Sonny, Komisi VII segera mengundang Menteri
> BUMN Sofyan Djalil, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, dan dewan komisaris
> Pertamina. ''Surat Pertamina itu telah melecehkan DPR,'' katanya.
>
> Dimintai tanggapannya, Sofyan Djalil mengaku belum menerima surat tersebut.
> ''Mungkin sudah di kantor, tapi saya belum menerima,'' ujarnya. Sepanjang
> pekan lalu Sofyan memang melakukan kunjungan ke Timur Tengah.
>
> Soal langkah DPR yang meminta pemerintah mengevaluasi direksi baru
> Pertamina, Sofyan mengatakan, pihaknya tidak akan bertindak sejauh itu. ''
> *Enggaklah*, (kalau hanya karena) cuma surat itu. Minta maaf saja nanti.
> Substansinya mungkin oke, tapi mungkin cara menulisnya saja,'' katanya.
>
> Menurut dia, hal tersebut bisa menjadi pelajaran berharga bagi direksi baru
> Pertamina. ''Mungkin Karen baru, jadi mereka belum tahu hubungan dengan
> Komisi VII. Ini istilah manajemennya pembelajaran. Kurva pembelajarannya
> masih pendek. Mudah-mudahan makin lama makin bagus,'' paparnya.
>
> Berdasar catatan *Jawa Pos*, semasa masih menjabat direktur hulu
> Pertamina, Karen memang beberapa kali tampak kewalahan menghadapi serbuan
> pertanyaan anggota dewan. Sebab, pertanyaan itu terkadang melebar di luar
> aspek teknis.
>
> Sebenarnya, tak hanya Pertamina yang mendapat pertanyaan-pertanyaan tajam
> dari Komisi VII. Direksi PLN hampir selalu mendapatkan perlakuan serupa.
> Namun, selama ini Dirut PLN Fahmi Mochtar terlihat cukup piawai meladeni
> pertanyaan-pertanyaan anggota dewan. Bahkan, setiap setelah RDP, direksi PLN
> menyempatkan diri bercengkerama dengan mereka. *(owi/oki)*
> **
> *http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=52809*
>
> *http://media-klaten.blogspot.com/* <http://media-klaten.blogspot.com/>
> **
> **
> **
> *salam*
> *Abdul Rohim*
>
>  
>

Kirim email ke