masalah pembabatan hutan di jambi dan sekitarnya, memang sudah terjadi lama. 
Bukan saja ada pengusaha kayu yang bermain disana, tetapi tidak kalah hebatnya 
adalah peran serta masyarakat setempat yang bertani nomaden dan hoby berburu 
babi (makanan pokok harimau), terkait dengan kepentingan untuk melindungi 
ladangnya. Inilah akibatnya, keseimbangan ekosistem dalam habitat hutan jambi 
jadi terganggu. Hutan di jambi memang cukup luas, tetapi bila aparatnya bekerja 
benar, tentunya masalah seperti ini tidak terjadi. Kalau mereka mau meras 
petani nomaden, sepertinya kecil kemungkinan, karena petani itu benar benar 
miskin yang cuma sekedar nyambung hidup, yang ada para petugas tersebut bekerja 
dengan bersantai ria sambil menunggu gaji bulanan.
 
=================
Hutan Dibabat, Harimau Mengincar Warga Jambi 
Posted by: "Sunny" am...@tele2.se 
Sun Feb 15, 2009 4:47 am (PST) 
Refleksi: Hutan dibabat bukan saja Harimau mengincar warga, tetapi juga lambat 
atau cepat mengancam kehidupan manusia, disebabkan hasil hutan berkurang atau 
hilang samasasekali dan sering banjir serta erosi tanah yang berakibat humus 
hilang dan tanah menjadi tidak subur. Jadi yang menderita juga manusia. 
Silahkan babat dan bakar. Dirgahayu NKRI harga mati! 

http://www.suarapem baruan.com/ index.php? modul=news& detail=true& id=4746

Hutan Dibabat, Harimau Mengincar Warga Jambi

SP/Radesman saragih

Akibat rusaknya hutan sebagai habitat harimau, si raja hutan itu kini memasuki 
permukiman penduduk.

Warga beberapa desa di Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, 
sebulan terakhir resah ulah "si raja hutan" alias harimau. Tiga orang warga di 
desa yang berlokasi di sekitar Taman Nasional Berbak (TNB) tersebut, tewas 
dimangsa harimau. 

Korban keganasan harimau Sumatera (pantheratigris sumatrae) tersebut adalah 
Suyud (45), anaknya, dan Imam (50), warga Desa Pematang Raman, Kecamatan 
Kumpehulu, Muarojambi. Ketiga korban ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan 
ketika hendak membuka ladang di kawasan hutan sekitar desa mereka, baru-baru 
ini. 

Kemudian Sutiyono (36), warga Desa Mekarsari, Kecamatan Kumpehilir, Muarojambi 
juga diterkam harimau di kebunnya, tetapi ia selamat. Hanya lengan dan paha 
yang sobek terkena cakar harimau. 

Teror "si raja hutan" tersebut mengakibatkan kegiatan berkebun dan berladang 
warga beberapa desa di Kecamatan Kumpeh, nyaris lumpuh. Mereka tak berani ke 
kebun. Mereka takut diterkam harimau. Mereka juga resah karena setiap hari ada 
saja ternak kambing yang hilang. 

Untuk mencegah korban lain, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi 
Jambi langsung memburu harimau tersebut, Rabu (4/2). BKSDA menurunkan tim 
sebanyak 12 orang, beranggotakan polisi hutan (Polhut) BKSDA setempat. 
Perburuan berhasil setelah tim menangkap harimau menggunakan perangkap besi 
pada Rabu (11/2) sore. 

"Penelusuran jejak tersebut dilakukan di kawasan hutan dan perkebunan kelapa 
sawit. Perangkap kita pindah-pindah sesuai arah jejak harimau. Kita memberi 
umpan kambing dalam perangkap. Akhirnya harimau tersebut masuk perangkap yang 
kita buat di kawasan perkebunan PT Makin Grup," kata Kepala BKSDA Provinsi 
Jambi, Didy Wurjianto kepada SP di Kebun Binatang (Taman Rimba) Kota Jambi, 
Kamis (12/2). 




      

Kirim email ke