Pengusaha Nyaleg

Ali Anwar
WARTAWAN TEMPO 
Seorang teman di Kota Bekasi, Jawa Barat, yang sepanjang hidupnya didedikasikan 
untuk bisnis, tiba-tiba memutuskan menjadi calon legislator dari Bekasi Timur. 
"Doakan dan pilih saya, ya," kata dia dua pekan silam. 
Minggu lalu, perempuan pengusaha ini mengajak saya mengikuti roadshow-nya ke 
beberapa kampung. Saya menolak karena waktu istirahat terganggu. Namun, 
akhirnya saya luluh. "Lu boleh nggak pilih gue, tapi sebagai teman, lu musti 
ngeliat aktivitas gue," katanya sambil menjabat tangan saya. 
Saya sempat menyampaikan penyesalan atas pencalonannya. Karena saya tahu betul 
hari-harinya dicurahkan untuk "time is money". Keluar-masuk perkampungan kumuh 
atau membela orang kecil kayaknya belum pernah hadir dalam benaknya, kecuali 
bila menguntungkan secara bisnis. 
Saya ungkapkan beberapa kasus di sejumlah daerah yang legislator atau bekas 
legislatornya ditahan sampai dibui gara-gara menggerogoti uang rakyat atas nama 
rakyat. "Ngapain lu nyaleg, mending ngembangin bisnis. Soal pengabdian kepada 
rakyat, lu bikin aja lembaga sosial." 
Dia cuma cengar-cengir sembari mempersilakan saya masuk ke mobil Honda Jazz 
teranyarnya. "Sudah kadung, ini pun karena diminta dengan sangat oleh petinggi 
partai," katanya di tengah perjalanan. 
Sepanjang jalan senyum manisnya terpampang pada ratusan alat peraga kampanye. 
Tak saya sangka, dia hafal jalan-jalan sempit di beberapa perkampungan. Setiap 
kali berpapasan dengan kaum ibu, laju mobil dipelankan. 
Jendela mobil dibuka, lantas sebuah bungkusan plastik berisi jilbab plus stiker 
dan kartu nama bergambar dirinya disorongkan keluar. "Bu, kenang-kenangan, 
semoga bermanfaat," katanya sambil tersenyum bersahabat.

 
Para perempuan yang diberi jilbab sempat ragu. Namun, begitu mengetahui wajah 
asli si pemberi sama dengan wajah di baliho, spanduk, dan stiker yang berserak 
di sekeliling lokasi, para ibu itu menjadi ikut bersahabat. 
"Ibu yang wajahnya di spanduk itu, kan? Terima kasih jilbabnya, saya akan pilih 
ibu," kata seorang ibu di Kampung Rawa Semut. Meski dalam rangka meraup suara, 
saya melihat ada ketulusan dari teman saya ini. Sedikitnya 200 helai jilbab 
terdistribusi hari itu. "Boleh juga, kayaknya cukup efektif," kata saya 
menilai. 
Sore hari, kami tiba di rumahnya. Putri bontotnya yang masih remaja bertanya, 
"Mama, gaji anggota badan legislatif berapa, sih?" Teman saya menjelaskan bahwa 
Dewan tempat untuk mengabdi. "Gaji nggak bakal Mama bawa pulang. Biaya 
keluarga, termasuk kuliahmu, cukup dari rumah makan," katanya. 
Sang anak tak yakin. "Biasa, lagi nyaleg, ngomongnya kayak orang suci. Kita 
buktikan kalau jadi legislator, ya, Om," katanya enteng sambil ngeloyor.
 
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/02/19/Nasional/krn.20090219..157314.id.html

 
http://media-klaten.blogspot.com/
 
 
 
salam
Abdul Rohim


      

Kirim email ke