Refleksi :  Kalau kultur kekerasaan masih kuat tertanam di Polri, maka 
pertanyaannya  ialah apakah kultur kekerasan di pihak lain seperti TNI sudah 
lemah atau  samasakali sudah tidak ada? 

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0902/21/nus02.html

Kultur Kekerasan Masih Kuat Tertanam di Polri



Palu - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPD) asal Sulawesi Tengah Ichsan 
Loulembah menilai rekaman video kekerasan anggota polisi terhadap polisi 
lainnya yang terjadi di Asrama Polisi Poboya, Palu Timur, Sulawesi Tengah 
nyata, bukan rekayasa. Karena itu, dia meminta semua pihak yang berkompeten 
terutama Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengusut tuntas kasus tersebut.


"Ini harus diusut tuntas supaya tidak menimbulkan dampak buruk di masyarakat. 
Kasus ini mencoreng citra kepolisian," ujar Ichsan, Sabtu (21/2) pagi. Setelah 
menyaksikan rekaman video kekerasan itu, senator ini agaknya susah mengatakan 
bahwa itu adalah video yang diskenariokan seperti drama, sebab terlihat 
layangan tamparan bertubi-tubi dan tendangan, diakhiri ancaman agar tidak 
melaporkan kasus ini.


Dia mengatakan polisi yang bagus bukan ditentukan hanya oleh kekuatan fisik, 
tapi ketahanan emosional. Ichsan meminta polisi mampu mengendalikan emosinya, 
karena setiap hari mereka bertugas di tengah masyarakat. "Kekerasan harusnya 
menjadi benteng terakhir dari seorang aparat," ujarnya.  Dia menilai, kultur 
kekerasan masih sangat kuat tertanam di tubuh kepolisian, dan itu harus segera 
dievaluasi kepolisian sendiri. Sementara itu, Sabtu pagi, lima polisi pelaku 
kekerasan dalam rekaman video itu kembali diserahkan ke Divisi Profesi dan 
Pengamanan Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah untuk diperiksa lebih lanjut. 
Adapun Brigadir Polisi Dua Haidar yang menjadi korban pemukulan itu, Jumat 
siang, tiba di Polda dari Luwuk ke Palu. (erna dwi lidiawati

Kirim email ke